Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightLifting Migas, Distribusi Gas, dan Jasa Pipa: Ini Resep Cuan RAJA

Lifting Migas, Distribusi Gas, dan Jasa Pipa: Ini Resep Cuan RAJA

Kalau dicek laporan keuangannya, RAJA bukan cuma jualan gas kayak trader, tapi beneran ikut lifting minyak dan gas. Di LK disebutkan mereka punya properti migas senilai US$20,9 juta, termasuk PI di Blok Jabung dan KSO di Blok Rokan.

Di LK, tercantum jelas pendapatan dari penjualan minyak dan gas bumi senilai US$24,92 juta di Q1 2025, alias 38% dari total revenue. Artinya, mereka bukan cuma numpang lewat dalam rantai pasok, tapi juga ambil langsung dari sumur. Lalu gas yang mereka miliki disalurkan melalui pipa sendiri, termasuk proyek besar pipa Rokan, dan dikompres di fasilitas milik sendiri sebelum didistribusikan ke pelanggan.

Dari sisi pelanggan, mereka punya kontrak yang cukup aman. Pendapatan terbesar mereka datang dari PT PLN (9,2%) dan Pertamina Gas (12,4%), berdasarkan pengungkapan di LK. Bahkan uang muka dari pelanggan pun dicatat, artinya mereka punya visibility pendapatan jangka menengah.

Tapi di sisi vendor, posisi RAJA agak rapuh. Dua vendor mereka yakni, ConocoPhillips dan Pertamina, menyuplai lebih dari 90% pasokan gas. Kalau salah satu vendor naikin harga atau telat pasok, bisa langsung nyentil margin.

Kayak Pak Toto yang cuma punya dua tukang daging, kalau satu mogok atau dagingnya naik, warung bisa goyang. Untungnya, beban pokok penjualan RAJA Q1 2025 cuma naik 4% sementara revenue naik 7%, jadi spread masih aman dan margin kotor naik ke 28,4%. Itulah mengapa bisnis RAJA ini butuh pelindung.

Soal untung, RAJA juga nggak kaleng-kaleng. Laba bersih Q1 2025 sebesar US$9,22 juta, dan yang paling penting, itu didukung arus kas operasional (CFO) sebesar US$11,57 juta. Ini rasio konversi laba ke kas di atas 120%, alias duitnya bukan sekadar angka di laporan, tapi benar-benar masuk.

Setelah bayar belanja modal (capex) sebesar US$7,15 juta, masih sisa free cash flow US$4,4 juta. Kas per 31 Maret 2025 tembus US$121 juta, sedangkan utang berbunga cuma US$130 juta. Artinya, net debt-nya tinggal US$9 juta. Ini sehat, sangat sehat. Gearing-nya kecil, bunga utangnya bisa dibayar lancar dari arus kas, dan likuiditas aman banget.

Tapi seperti kata Pak Toto, semua warung bakso pun pasti ada sisi non operasionalnya. Lonjakan kas besar RAJA di Q1 ternyata bukan murni hasil operasional, tapi berasal dari penjualan saham anak dan IPO entitas anak, senilai US$55,6 juta. Artinya, kas besar ini one-off, bukan recurring. Kalau investor keliru mengira ini hasil bisnis reguler, mereka bisa overvalue. Lalu ada goodwill sebesar US$26,8 juta di neraca.

Kalau entitas yang dibeli performanya jeblok, ini bisa langsung dipotong dari ekuitas. Lebih parah lagi, ada hak kontraktual senilai US$2,96 juta dari PLN yang kontraknya sudah berakhir 2019 tapi masih dicatat, risiko impairment yang bisa ngegerus laba ke depan.

Dari segmen bisnis, distribusi gas tetap jadi andalan mereka yakni kontribusi 58% revenue dan 83% laba segmen, margin segmen 24%. Lifting migas volumenya besar, tapi marginnya cuma 18%, bikin omzet, tapi bukan mesin utama.

Jasa O&M dan kompresor cuma 4% revenue, tapi margin hampir 50%, alias kecil-kecil cabe rawit. Jadi model bisnis RAJA mirip warung bakso yang punya kombinasi: gas sebagai bakso utama, minyak sebagai kuah pelengkap, dan jasa pipa itu semacam kerupuk, bukan fokus utama, tapi enak kalau ada.

Soal valuasi, dengan harga saham Rp2.560 dan kurs Rp16.300, market cap RAJA sekitar US$664 juta. Ekuitas per Maret 2025 sebesar US$236,6 juta, jadi PBV-nya 2,8×, itu artinya investor bayar harga 2,8 kali lipat dari nilai bukunya.

Laba tahunan kalau dikalikan empat jadi sekitar US$36,9 juta, maka PER-nya 18×, dan P/FCF bisa tembus 35×. Ini valuasi yang sangat premium, investor jelas membayar ekspektasi, bukan kondisi saat ini. Dan ekspektasi itu adalah: margin distribusi gas tetap stabil, proyek Rokan bisa menghasilkan, dan kas besar dimanfaatkan bijak.

Kalau harapan itu terpenuhi, proyek berjalan, utang dilunasi, kas dipakai ekspansi yang produktif, maka valuasi harga segini mungkin layak. Tapi kalau harapan itu gagal, misalnya proyek molor, margin turun karena tekanan harga, atau goodwill perlu dihapus, maka valuasi bisa langsung kebanting. Investor harus ngecek terus neraca dan laporan arus kas, karena angka laba kadang terlalu rapi. Perusahaan ini bagus, tapi kalau nggak hati-hati, bisa bikin nyangkut juga.

Cari saham bagus tapi bingung mulai dari mana? Ini dia panduan yang kamu butuhkan.

https://bit.ly/pintarsahamid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here