Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal libur selama 8 hari penuh dari 31 Maret sampai 7 April 2025 gara-gara Lebaran, dan ini bikin banyak investor gerah. Duit mereka bakal “mati” lebih dari seminggu di IHSG, sementara bursa global tetap jalan normal. Nggak heran kalau asing terbirit-birit keluar dari pasar saham Indonesia—mereka nggak mau buang waktu di tempat yang nggak kasih cuan. Dalam sebulan terakhir aja, asing udah cabut Rp19,8 triliun dari IHSG, dan dalam seminggu terakhir mereka jualan lagi Rp6,55 triliun. Udah kayak orang kabur dari kapal yang mau tenggelam.
Bursa kita makin nggak menarik buat asing, apalagi pas tanggal 21 Maret 2025 ada rebalancing FTSE. Biasanya ini jadi momen asing masuk atau keluar gede-gedean, dan kali ini mereka lebih milih exit. Soalnya, IHSG juga lagi anjlok dari 6.803 ke 6.381 dalam sebulan terakhir. Kalau dibandingin bursa lain yang masih bisa kasih cuan, IHSG ini kayak rumah kosong yang ditinggal penghuninya. Likuiditas makin tipis, harga saham banyak yang turun, dan yang tersisa cuma investor lokal yang masih bertahan sambil berharap keajaiban.
Di sisi lain, rupiah juga lagi melemah ke titik terendah lima tahun terakhir. Bank Indonesia udah turun tangan buat intervensi pasar valas biar rupiah nggak makin anjlok, tapi pasar modal tetap aja diguncang. Apalagi, ada spekulasi Menteri Keuangan Sri Mulyani bakal mundur, yang bikin pasar makin panik meskipun endingnya ndak jadi mundur. Di tengah kekacauan ekonomi ini, pemerintah malah sibuk bikin program makan gratis Rp28 triliun, yang ujung-ujungnya bikin anggaran negara makin berat. Investor asing ngelihat ini sebagai sinyal bahaya—bukannya perbaiki fundamental ekonomi, malah tambah beban baru. Ini juga yang bikin Prabowo cuek sama IHSG karena katanya dia tidak mau diancam pakai IHSG demi MBG.
Sementara itu, ada undang-undang baru yang ngasih peran lebih besar buat militer dalam pemerintahan. Ini kayak nostalgia Orde Baru, dan nggak sedikit yang curiga kalau ini langkah mundur buat demokrasi Indonesia. Mahasiswa udah mulai demo buat menolak aturan ini, tapi seperti biasa, suara mereka sering kali cuma jadi angin lalu. Di luar itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga panik dan buru-buru kasih izin buyback saham tanpa perlu persetujuan pemegang saham buat stabilisasi pasar. Udah kayak pemadam kebakaran yang kehabisan air, semua langkah darurat dikeluarin, tapi IHSG tetap lesu.
Di tengah kekacauan ini, Timnas Indonesia juga dibantai Australia 5-1. Buat yang masih berharap kebangkitan sepak bola nasional, hasil ini seperti tamparan keras. Erick Thohir, yang merangkap jadi Ketua PSSI dan Menteri BUMN, sekarang lagi digiling netizen. Kalau sebelumnya dia dielu-elukan sebagai penyelamat sepak bola Indonesia, sekarang orang mulai sadar kalau branding aja nggak cukup—hasil di lapangan tetap yang utama.
Jadi, kalau ditanya kenapa asing kabur dari IHSG? Jawabannya simpel: Indonesia lagi nggak menarik, bursa kebanyakan libur, ekonomi nggak jelas, kebijakan aneh-aneh, dan nggak ada cuan yang bisa diharap dalam jangka pendek. Sementara itu, negara lain tetap jalan normal, kasih keuntungan lebih besar, dan nggak bikin investor harus “cuti paksa” gara-gara libur Lebaran terlalu lama. Kalau udah begini, siapa yang mau bertahan?
Jangan lewatkan kesempatan ini—klik link berikut sekarang dan raih keuntungan lebih maksimal! https://bit.ly/PriorityMemberships