Manajemen menyampaikan kinerja 9M25 mencatat pendapatan turun 12,8%, namun profitabilitas membaik berkat efisiensi dan hilangnya beban bunga. GPM naik menjadi 55,6%, EBITDA margin 22,1%, dan laba bersih kembali positif sekitar Rp13 miliar.
Perusahaan menegaskan upaya pembukaan suspensi saham terus berjalan melalui perbaikan laporan keuangan dan penguatan going concern. Koordinasi aktif dengan BEI juga disebut menjadi bagian dari proses pemenuhan persyaratan normalisasi perdagangan.
Dalam agenda restrukturisasi, manajemen berharap seluruh kreditur PKPU melakukan konversi OWK pada 2026 agar struktur keuangan semakin sehat. Langkah ini diposisikan untuk meningkatkan solvabilitas dan memperkuat neraca setelah fase restrukturisasi.
Untuk sumber pertumbuhan baru, BTEL menyatakan mengeksplorasi peluang bisnis data center. Sinergi dan dukungan dari grup Bakrie disebut menjadi faktor kunci untuk mempercepat validasi model bisnis dan eksekusi.
Manajemen menegaskan bisnis FWA tidak akan dihidupkan kembali karena dinilai tidak lagi relevan. Perusahaan memilih fokus pada arah telekomunikasi modern yang mengutamakan layanan data dan internet.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu. Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!


