Friday, April 17, 2026
No menu items!
Google search engine
HomeInsightLaba Triliunan, Harga Saham Anjlok—Ada Apa dengan MNCN?

Laba Triliunan, Harga Saham Anjlok—Ada Apa dengan MNCN?

Secara model bisnis, PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) adalah mimpi basah investor. Mereka punya empat stasiun televisi dengan jangkauan nasional: RCTI, MNCTV, GTV, dan iNews. Produksi kontennya in-house dan lintas format: sinetron, film, infotainment, animasi, hingga reality show. Mereka punya agensi iklan, manajemen artis, label musik, bahkan jaringan YouTube dan platform OTT seperti RCTI+ dan Vision+.

Semua ini menjadikan MNCN sebagai konglomerasi media terintegrasi paling komplet di Indonesia. Secara teori bisnis, ini adalah model vertikal yang ideal. Secara laporan keuangan, mereka juga tangguh. MNCN rutin mencetak laba bersih triliunan rupiah setiap tahun, bahkan setelah pandemi. Tapi, ada satu hal yang mereka abaikan: pemegang saham.

Sejak 2020, harga saham MNCN anjlok dari Rp1.270 ke Rp232, turun lebih dari 81%. Bukan karena perusahaan bangkrut. Laba bersih masih stabil:

  • 2019: Rp2,23 triliun
  • 2021: Rp2,37 triliun
  • 2022: Rp2,05 triliun
  • 2023: Rp1,03 triliun
  • Q1 2025: Rp443,9 miliar (proyeksi full-year: Rp1,78 triliun)

Namun, dividen yang dibagikan tidak sebanding. Tahun 2019 membagikan Rp15/saham. Setelah itu makin pelit—2021 Rp8, dan 2023 hanya Rp5. Tahun 2020 dan 2022 bahkan tidak ada dividen sama sekali. Artinya, payout ratio sangat rendah, kadang nol. Sementara kas perusahaan lebih dari Rp1 triliun.

MNCN juga pernah melakukan buyback saham senilai Rp2,97 triliun di harga rata-rata Rp1.632 per saham. Tapi hingga kini, 1,82 miliar saham treasury itu hanya tidur di neraca—tidak dimusnahkan, tidak dijual, tidak dibagikan. Sekarang harga saham Rp278, artinya ada kerugian tak terealisasi lebih dari 80%.

Dan karena saham treasury tidak memberikan dividen atau hak suara, uang tersebut menjadi beban equity—dana mati yang tidak memberi manfaat apa-apa ke perusahaan ataupun investor.

Laporan arus kas per 31 Maret 2025 menunjukkan:

  • Kas turun dari Rp1,49T ke Rp1,23T
  • Arus kas operasi hanya Rp294 miliar
  • Capex konten + aset tak berwujud: Rp303 miliar
  • Free cash flow: negatif

COGS naik dari Rp1T ke Rp1,18T, sementara revenue turun dari Rp2,35T ke Rp2,29T. Laba bersih turun 18% YoY. Utang berbunga Rp842 miliar dengan bunga tinggi (hingga 14%).

Visi digital lewat Vision+ dan RCTI+ belum membuahkan hasil berarti. Tidak ada data ARPU, metrik konversi, atau user growth yang menjanjikan. Semua strategi ambisius ini belum terbukti mampu mencetak untung atau mengangkat valuasi.

  • Kepemilikan asing turun dari 39,85% (2022) jadi 22,78% (2025)
  • Investor ritel turun dari 32.727 ke 30.190 akun
  • Dana pensiun dan institusi meninggalkan saham ini

Valuasi?

  • PBV hanya 0,19x
  • Ekuitas Rp23 triliun, tapi dihargai hanya Rp4 triliun di pasar
  • Harga pasar saham Rp278, padahal nilai buku Rp1.480/saham

Diskon 81% bukan karena pasar tidak tahu angkanya—tapi karena pasar terlalu tahu dan merasa dikecewakan.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Latest Post

Most Popular

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments