Friday, April 17, 2026
No menu items!
Google search engine
HomeInsightLaba Naik Pun, Harga Saham Tetap Anjlok

Laba Naik Pun, Harga Saham Tetap Anjlok

Daftar saham dengan pertumbuhan laba bersih tahunan lebih dari 20% ini seharusnya jadi primadona, tapi nyatanya malah seperti anak tiri yang diabaikan. Dari total 24 saham, semuanya mengalami penurunan harga dalam 1 tahun terakhir, meskipun labanya naik, bahkan ada yang sampai 200% lebih. Cuan di laporan keuangan, tapi nyungsep di market.

Contoh real mungkin PTMP. Laba bersihnya naik 73,8%, revenue juga naik 26,4%, valuasinya murah, PBV 1,01 dan PER cuma 13,54. Tapi harga sahamnya anjlok 74,77%. Mungkin pasar pikir perusahaan ini terlalu murah buat diperhatikan. Atau jangan-jangan karena market lebih tertarik sama saham gorengan, bukan fundamental? Tapi PTMP memang agak aneh sih karena pernah masuk LQ45 jalur langit.

Yang lebih absurd lagi adalah PNSE. Laba bersih tumbuh 223,83%, tapi harga saham malah turun 22,22%. Padahal revenue juga tumbuh 13,54%. Kalau ini saham manusia, pasti udah nangis di pojokan. Bahkan PER-nya 26,39 dan PBV 2,08, sebenarnya agak mahal, tapi tetap saja ini bukan alasan untuk dihukum dengan penurunan harga setegas itu. Valuasi mahal sih.

Masih ada WTON yang laba bersihnya melonjak 90,48%, PER cuma 8,31 dan PBV 0,15 alias diskon 85%. Tapi harga saham malah amblas 42,59%. Ini jelas bukan masalah valuasi. Ini murni karena pasar sudah kehilangan kepercayaan ke BUMN karya. Mau laba naik 1000% juga, tetap saja sahamnya dianggap kotoran.

Saham lain seperti MREI (laba naik 79,14%, PER 4,18), SMRA (laba naik 79,3%, PER 4,64), dan CPIN (laba naik 60,14%, PER 19,79) juga senasib. Harga turun double digit. Kalau sudah begini, kayaknya yang disalahin bukan perusahaannya, tapi market-nya yang lagi depresi.

Sementara saham-saham seperti ARTA (laba naik 191,87%) dan BRIS (laba naik 22,83%) punya valuasi PER yang lumayan mahal — 156,90 dan 13,70 — tapi tetap saja harga saham mereka turun lebih dari 20%. Jadi jelas, ini bukan soal murah atau mahal, bukan soal laba naik atau turun. Ini soal siapa yang jadi anak emas bandar, dan siapa yang bukan.

Dari sisi PBV, hanya segelintir saham yang kelihatan overpriced seperti BRIS (PBV 2,13), CMRY (PBV 4,74), SIDO (PBV 4,82), dan MIKA (PBV 5,12), tapi toh harga mereka tetap turun. Jadi, kalau yang PBV tinggi turun, ya wajar. Tapi yang PBV-nya di bawah 0,5 juga turun, ya itu baru layak dibikin meme.

Kesimpulan paling realistis dari data ini: pasar Indonesia sedang dalam fase apatis akut. Saham dengan laba naik, revenue naik, PER murah, PBV diskon — semua dibuang. Mungkin karena asing lagi kabur, mungkin karena sentimen politik, mungkin karena investor lokal lebih senang scalping TikTok daripada baca laporan keuangan. Jadi, ya wajar kalau saham-saham yang secara fundamental bagus malah diperlakukan kayak mantan yang ghosting: dianggap nggak pernah ada.

Jangan lewatkan kesempatan ini—klik link berikut sekarang dan raih keuntungan lebih maksimal! https://bit.ly/PriorityMemberships

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Latest Post

Most Popular

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments