Kalau melihat kinerja BCA sampai Juli 2025, bank ini masih jadi mesin uang yang benar-benar konsisten. Dalam tujuh bulan pertama tahun ini, laba bersih yang dikantongi mencapai Rp 34,71 triliun, naik dari Rp 31,40 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Artinya ada tambahan laba sekitar Rp 3,31 triliun, atau kalau dihitung persentasenya, tumbuh 10,55% year on year.
Kalau dibagi rata, BCA cuan sekitar Rp 4,96 triliun setiap bulan sepanjang Januari sampai Juli 2025, lebih tinggi dibanding tahun lalu yang hanya Rp 4,49 triliun per bulan. Kalau angka ini ditarik ke hitungan setahun penuh alias annualized, laba bersih BCA tahun ini bisa tembus Rp 59,58 triliun, dibandingkan proyeksi tahun lalu yang sekitar Rp 53,82 triliun. Jadi jelas, dari sisi profitabilitas, grafiknya naik terus.
Pendapatan bunga bersih juga makin besar, Rp 46,55 triliun di 2025, naik dari Rp 43,96 triliun di 2024. Laba sebelum pajak tercatat Rp 42,49 triliun, lebih tinggi dibanding Rp 38,50 triliun setahun lalu. Beban pajaknya ikut naik ke Rp 7,78 triliun dari Rp 7,11 triliun tahun lalu, tapi itu wajar karena labanya juga lebih besar. Setelah dipotong pajak dan ditambah komponen lain, total laba komprehensif BCA tahun ini tembus Rp 35,75 triliun, sedangkan tahun lalu Rp 31,04 triliun. Menariknya, pos laba komprehensif lain setelah pajak yang tahun lalu minus Rp 0,36 triliun sekarang malah positif Rp 1,04 triliun, artinya beban dari komponen non-operasional sudah berbalik jadi kontribusi positif.
Dari sisi permodalan, ekuitas BCA naik cukup signifikan ke Rp 257,75 triliun, dibanding Rp 235,92 triliun di tahun lalu. Kenaikan ekuitas ini bikin rasio valuasi agak melunak. Dengan market cap sekitar Rp 1.026,3 triliun, PBV per Juli 2025 ada di level 3,98 kali, turun dari 4,35 kali tahun lalu. PER annualized juga ikut turun jadi 17,23 kali, lebih rendah dibanding 19,07 kali pada 2024. Penurunan rasio ini bukan berarti harga sahamnya turun, tapi lebih karena labanya tumbuh lebih cepat sehingga valuasi jadi lebih masuk akal.
Kalau dilihat pakai kacamata investor, pertumbuhan laba yang double digit 10,55% year on year dengan PER 17,23 kali menghasilkan rasio PEG sekitar 1,63 kali. Angka ini menunjukkan valuasi BCA memang masih premium, tapi pertumbuhan labanya cukup bisa jadi penyeimbang. Dengan kata lain, BCA tetap mahal kalau dibandingkan bank lain, tapi alasannya jelas karena performa dan konsistensi labanya memang kuat.
BCA tetap jadi bank papan atas dengan performa keuangan yang sulit ditandingi. Laba bersih naik, pendapatan bunga makin besar, ekuitas menguat, dan valuasi yang tadinya kelewat tinggi perlahan turun ke level yang lebih sehat. Buat investor jangka panjang, BCA masih layak disebut bank sejuta umat, meskipun untuk yang mencari valuasi murah, jelas saham ini tetap terasa premium.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!