Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightKUB $BEKS vs $BJTM: Apakah BJTM Bisa Rugi Kalau KUB Dengan BEKS?

KUB $BEKS vs $BJTM: Apakah BJTM Bisa Rugi Kalau KUB Dengan BEKS?

Kalau ada satu narasi yang paling sering disalahpahami di pasar modal belakangan ini, itu adalah anggapan bahwa KUB antara BJTM dan BEKS ibarat orang sehat menanggung orang sakit. Sekilas memang tampak begitu, karena BJTM adalah bank daerah raksasa yang stabil, sementara BEKS adalah bank kecil yang modal intinya belum mencapai syarat 3 triliun rupiah dan sempat menanggung akumulasi rugi 2,82 triliun rupiah. 

Tapi kalau dilihat dari cara kerja konsolidasi laporan keuangan dan aturan akuntansi, peran BJTM di sini bukan tukang bayar utang, melainkan pemegang kendali yang posisinya justru bisa diuntungkan di atas kertas secara akuntansi.Coba kita lihat dulu peta kekuatannya.

Per 30 September 2025, BJTM mencatatkan aset 125,1 triliun rupiah, laba 1,14 triliun rupiah, dan modal 15,03 triliun rupiah. Rasio kecukupan modal alias KPMM atau CAR-nya 23,88%, jauh di atas ketentuan minimum, jadi bantalan modalnya tebal sekali.

Sementara BEKS, total asetnya 9,5 triliun rupiah atau hanya 7,6% dari ukuran BJTM, labanya 10,7 miliar rupiah di 9 bulan 2025 atau kurang dari 1% laba BJTM, dan modal intinya baru 1,29 triliun rupiah, jauh di bawah standar 3 triliun rupiah yang diwajibkan OJK. Di sisi kualitas aset, BEKS juga membawa rasio kredit bermasalah (NPL) di 5,53%, angka yang sudah masuk kategori perlu diwaspadai. 

Jadi secara ukuran dan kualitas finansial, ini bukan pernikahan setara, ini lebih mirip bank besar menggenggam bank kecil yang masih pemulihan. Lalu masuk ke inti kesalahpahamannya.

Orang sering bilang, kalau nanti BEKS dikonsolidasikan ke BJTM, berarti semua rugi masa lalunya akan jadi beban BJTM. Di sini letak kekeliruannya. Saat ini BJTM hanya punya 0,05% saham di BEKS. Artinya 99,95% saham BEKS masih berada di tangan pemilik sebelumnya. 

Dalam akuntansi, porsi 99,95% ini diklasifikasikan sebagai NCI atau Kepentingan Non-Pengendali. Kalau BEKS masih mencatat rugi setelah konsolidasi, 99,95% dari rugi itu tidak masuk ke BJTM, melainkan mengurangi porsi NCI di pos ekuitas. 

Dengan kata lain, kerugian historis 2,82 triliun rupiah tidak menempel ke saldo laba BJTM, melainkan tetap menjadi tanggungan pemegang saham lama BEKS di porsi NCI itu. Lebih menarik lagi, BJTM masuk membeli BEKS di harga 27 rupiah per saham, padahal nilai buku per saham BEKS berada di kisaran 33,16 rupiah. 

Artinya BJTM masuk di harga diskon dibanding nilai bukunya. Dalam standar akuntansi, kalau sebuah entitas membeli aset bersih di bawah nilai wajarnya, selisih positifnya bisa diakui sebagai negative goodwill, atau laba dari pembelian murah.

adi ironisnya, di periode saat orang ramai membahas potensi beban, BJTM justru berpeluang mencatat keuntungan akuntansi dari transaksi ini. Ini bukan asumsi liar, ini mekanisme PSAK yang memang bekerja seperti itu. The power of akuntansi 101. 

Bagaimana dengan dampak ke neraca? Kalau nanti dikonsolidasikan penuh, aset BJTM memang akan bertambah dari 125,1 triliun rupiah menjadi sekitar 134,6 triliun rupiah, karena seluruh aset BEKS ikut masuk. Tapi bertambahnya aset ini tidak otomatis berarti bertambahnya beban risiko, karena porsi ruginya masih ditahan di NCI seperti tadi.

Ditambah lagi, CAR BJTM yang 23,88% itu memberi ruang yang luar biasa longgar untuk menyerap fluktuasi, jauh sebelum menyentuh ambang batas yang mengkhawatirkan. Kalau ditanya soal kontribusi laba, BEKS memang belum signifikan. 

Dengan laba 10,7 miliar rupiah dalam 9 bulan, kontribusinya ke BJTM ibarat garam sejumput di panci besar. Tapi KUB ini sejak awal bukan skema mencari untung dari laba BEKS.

Ini adalah skema konsolidasi perbankan daerah yang didorong regulasi, terutama POJK 12/2020, untuk membentuk Bank Pembangunan Daerah yang lebih solid dan memenuhi standar modal minimum. Jadi BJTM bukan datang menyelamatkan demi imbal hasil, BJTM datang karena mandat, dan posisi akuntansinya dirancang agar tidak menanggung luka masa lalu, tapi tetap memegang kendali masa depan.

BEKS ini seperti anak magang yang direkrut bukan karena prestasinya luar biasa, tapi karena dia harus ikut program pembinaan karena dulu dia anak nakal yang banyak dosa, sementara BJTM adalah senior yang ditunjuk jadi mentor. Bedanya, dalam program ini mentor tidak menanggung utang masa lalu si anak magang, tapi punya hak mengendalikan arah pembinaan ke depan, bahkan bisa dapat nilai tambahan karena masuk di momen yang tepat dengan harga yang murah.

Itulah kenapa, kalau dilihat dari kacamata BEKS, ini berkah karena ada yang menggandeng dan menjaga stabilitas. Tapi dari kacamata BJTM, ini bukan beban, ini lebih mirip amal ibadah strategis dengan potensi bonus akuntansi.

Kalau kita bicara kemungkinan BJTM menambah porsi di BEKS, jawabannya tidak bisa dilihat dari sekadar aksi di pasar reguler yang sudah dilakukan, melainkan dari kebutuhan modal BEKS, struktur pengendalian KUB, dan pola bagaimana bank daerah biasanya menyuntik modal. Dan kalau semua itu disatukan dalam satu alur logika, jawabannya condong ke ya, sangat mungkin BJTM akan menambah posisi, dan pintu yang paling masuk akal untuk itu adalah Rights Issue (RI/HMETD). 

Kenapa begitu? Bayangkan BEKS sebagai bank yang masih berlari dengan tabung oksigen. Per 30 September 2025, BEKS masih membawa akumulasi rugi 2,83 triliun rupiah, modal intinya baru 1,29 triliun rupiah, sementara aturan OJK mewajibkan minimal 3 triliun rupiah. 

Dari sisi kualitas kredit, NPL 5,53% juga jadi alarm merah yang menandakan bahwa risikonya masih tinggi. Artinya, BEKS tidak butuh tambal sulam kecil, tapi injeksi modal yang terstruktur dan legal secara pasar modal. 

Dan dalam sejarah BEKS, setiap kali modal butuh disuntik besar-besaran, jalurnya selalu HMETD atau Rights Issue. Jadi kalau bertanya apakah RI mungkin terjadi, justru skenario inilah yang paling logis, bukan skenario tambahan lewat pasar reguler sedikit demi sedikit.

Sekarang pindah ke BJTM. Bank ini bukan sembarang bank. Dengan aset 125,1 triliun rupiah, CAR 23,88%, ekuitas 15,03 triliun rupiah, dan laba 1,14 triliun rupiah, BJTM punya otot modal yang sangat tebal dan jauh dari tekanan. 

Masuknya ke BEKS juga bukan untuk mengejar laba 10,7 miliar rupiah yang kontribusinya belum sampai 1% dari laba BJTM, tapi untuk menjalankan mandat KUB sesuai POJK 12/2020, yaitu membentuk konsolidasi dan memperkuat bank daerah. BJTM bahkan sudah mendapat persetujuan dari RUPSLB 2024 untuk menyuntik modal sampai 10 miliar rupiah ke BEKS.

akta menariknya, pembelian perdana 2,75 miliar saham di harga 27 rupiah hanya menyerap 742,8 juta rupiah, alias masih menyisakan sekitar 9,2 miliar rupiah dari kuota yang sudah disetujui. Itu bukan angka kecil, dan tidak mungkin dieksekusinya pakai pembelian reguler satu per satu seperti investor perang harga di antrian bid.

Jalur paling efisien, paling rapi, dan paling sesuai regulasi untuk menuntaskan komitmen itu ya lewat RI. Selain itu, di skema KUB, kepemilikan saham bukan satu-satunya kunci kendali. 

Contohnya BJTM di Bank NTBS, cuma pegang 4,09% saham, tapi bisa dapat pengendalian strategis lewat Shareholders Agreement. Jadi di BEKS pun, porsi 0,05% saat ini bukan final destination. Itu pintu masuk.

Landasan legalnya sudah ada, kebutuhan modal BEKS juga mendesak, dan BJTM sendiri punya mandat dan kapasitas. Kalau nanti BEKS declare RI, peluang besar BJTM akan mengambil porsi haknya, bahkan menyerap porsi pemegang saham yang tidak ikut mengeksekusi, seperti yang sering terjadi di putaran HMETD bank kecil.

Jadi, BEKS itu sedang butuh modal besar dan terstruktur, BJTM sudah dikasih karpet merah persetujuan untuk menyuntik modal hingga 10 miliar rupiah, dan RI adalah jalan tol paling lurus untuk mempertemukan keduanya. Beli lewat pasar reguler itu pemanasan. RI adalah pertandingan utamanya. 

Jadi pertanyaannya bukan lagi apakah mungkin BJTM akan tambah posisi via RI, tapi lebih ke kapan tahap RI itu akan diketok, dan seberapa besar porsi yang akan diambil BJTM ketika itu terjadi. 

Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!

https://bit.ly/pintarsahamid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here