Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightKKGI: Kisah Saham, Warisan, dan Insider yang Nyangkut Ramai-Ramai

KKGI: Kisah Saham, Warisan, dan Insider yang Nyangkut Ramai-Ramai

Kalau kita cek pergerakan para insider di saham KKGI (PT Resource Alam Indonesia Tbk) dari akhir 2024 sampai pertengahan 2025, ceritanya jadi makin menarik. Bukan cuma soal siapa beli dan siapa jual, tapi lebih ke arah bagaimana keluarga besar pengendali, komisaris, dan direksi kayak lagi atur ulang formasi kepemilikan.

Ada yang nambah pelan-pelan, ada yang keluar besar-besaran, dan ada juga yang baru muncul bawa warisan. Dan lucunya, dari semua yang transaksi, justru yang untung itu yang keluar. Sementara yang masih pegang? Lagi nyangkut bareng ritel di harga pasar yang lagi merosot.

Seolah – olah ada pergantian pemain atau bagi – bagi warisan karena ada kabar duka di KKGI akhir tahun lalu. Swandono Adijanto (atau juga dikenal sebagai Tan Hong Swan), Direktur Utama PT Bumi Indah Raya yang juga PSP KKGI, meninggal dunia karena stroke pada Kamis, 3 Oktober 2024.

Sejak beliau meninggal, tampak banyak pergerakan di saham KKGI. Cerita dimulai dari Eric Adjianto, anak dari salah satu direksi. Dia mulai akumulasi sejak 25 Oktober 2024, beli 100.000 saham KKGI di harga Rp600, lalu lanjut lagi 150.000 saham di tanggal 31 Oktober 2024 di harga Rp555.

Totalnya, Eric pegang 1.272.520 lembar, naik dari sebelumnya 1 jutaan, tapi lucunya persentase hak suaranya tetap di 0,03%. Nambah, tapi masih minor. Gaya masuknya tipikal cicil-cicil dulu selot selot, mungkin nunggu momen. Sayangnya, harga saham KKGI sekarang udah turun ke Rp394, jadi posisi Eric lagi tekor -34% dan -29% dari dua transaksi itu.

Gak jauh beda, Hendro Martowardojo, investor lama, juga ikut nambah posisi 200.000 saham di tanggal 30 Oktober 2024 dengan harga Rp550. Kepemilikannya naik dari 4.987.036 menjadi 5.187.036 saham (0,103%). Sama kayak Eric, Hendro juga nyangkut, tapi mungkin gak terlalu panik, karena posisinya dari dulu udah besar. Floating loss-nya sekitar -28% juga.

Lanjut ke Wimpi Salim, salah satu direksi aktif, yang sebelumnya cuma punya 1.036 saham, tapi tiba-tiba pada 11 November 2024, nambah gede langsung 363.600 saham di harga Rp550. Setelah transaksi, total kepemilikannya jadi 364.636 lembar. Artinya, ini bukan main-main, seorang direksi mulai masuk serius. Sayangnya, karena timing-nya masih di harga atas, sekarang posisinya juga lagi merah, minus sekitar 28% juga.

Berikutnya, di awal 2025, giliran Eddy, direksi lain, yang masuk. 27 Februari 2025, dia beli 250.000 saham di harga Rp400, menambah posisinya jadi 521.934 saham (0,0104%). Ini sedikit lebih baik karena harga belinya lebih rendah, dan sekarang dengan harga Rp394, dia cuma minus tipis sekitar -1,5%. Masih nyangkut, tapi setidaknya gak separah temannya.

Tapi yang paling ramai, sekaligus paling pintar ambil timing, justru Leong See Mun, istri dari komisaris. Dalam waktu cuma lima hari kerja, 28 April, 29 April, dan 2 Mei 2025, dia jual total 19,9 juta saham KKGI dengan harga jual berkisar Rp384,90 – Rp377,97.

Kepemilikannya turun drastis dari 38,76 juta (0,78%) jadi cuma 18,85 juta saham (0,38%). Dan dengan harga saham sekarang di Rp394, bisa dibilang dia jual di timing yang pas, semua transaksinya udah in the money. Cuan dikantongi, sementara direksi pada pegang kerugian.

Setelah itu, muncul tokoh baru, Lily Margaretha, istri dari mendiang pengendali utama KKGI, Swandono Adjianto. Tiba-tiba pada 9 Mei 2025, dia menerima pengalihan saham warisan sebesar 5.630.560 lembar (0,11%), dengan nilai pengalihan yang dicatat Rp604,90 per lembar.

Ini menarik, karena ini bukan transaksi pasar, tapi pencatatan formal atas warisan. Tapi tetap, kalau bandingin nilai itu dengan harga pasar sekarang (Rp394), maka posisi Lily pun secara teknis udah rugi hampir -35%, meskipun ya, karena warisan, mungkin gak kerasa rugi juga.

Dan terakhir, yang gak boleh ketinggalan, adalah fakta bahwa harga pasar KKGI sekarang Rp394, di bawah hampir semua harga beli insider. Eric nyangkut Rp600 & Rp555. Hendro dan Wimpi nyangkut di Rp550. Eddy pun baru beli di Rp400. Bahkan nilai warisan Lily ada di Rp604,90. Satu-satunya yang jual di harga di bawah sekarang? Ya cuma Leong See Mun, dan dia keluar sebelum pasar makin dalam.

Saham KKGI sedang dalam proses rotasi internal. Mayoritas direksi dan afiliasi keluarga lagi nyangkut rame-rame karena beli di harga atas. Leong See Mun keluar saat harga masih tinggi, jadi bisa dibilang dia satu-satunya yang keluar dengan senyum. Sementara keluarga pengendali lama (via Lily) baru muncul lagi ke publik, lewat jalur warisan yang nilainya premium banget.

Jadi kalau kamu sekarang lagi pegang KKGI di harga pasar, secara teknikal kamu duduk lebih murah dari mayoritas insider. Tapi bukan berarti otomatis aman. Karena mereka pun, meskipun insider, masih nyangkut. Bedanya, mereka mungkin punya waktu, sabar, dan informasi lebih dalam. Kita? Cuma bisa baca pola, hitung-hitung harga, dan nebak arah angin dari luar jendela.

Tapi setidaknya, sekarang kita tahu siapa yang lagi masuk, siapa yang keluar, dan siapa yang datang bawa warisan. Satu hal yang pasti, di KKGI, sahamnya boleh terbuka, tapi gerakannya tetap dikendalikan dalam lingkaran keluarga.

Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!

https://bit.ly/pintarsahamid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here