Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightKinerja Keuangan PT Tirta Mahakam Resources Tbk (TIRT) Kuartal III 2025

Kinerja Keuangan PT Tirta Mahakam Resources Tbk (TIRT) Kuartal III 2025

Pada kuartal ketiga tahun 2025, PT Tirta Mahakam Resources Tbk mencatatkan kinerja yang memberikan gambaran menyeluruh tentang posisi fundamental dan arah strategi operasional perusahaan sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini. Analisis berikut mengulas perkembangan neraca, profitabilitas, rasio keuangan, hingga valuasi pasar saham perusahaan.

Laporan Posisi Keuangan (Neraca)

Aset

  • Total Aset: Per 30 September 2025, total aset tercatat sebesar Rp 361.671.126.123, mengalami kenaikan 101,05% dibandingkan dengan posisi pada 31 Desember 2024 sebesar Rp 179.887.349.304.
  • Aset Lancar: Aset lancar tumbuh 1.272,3% menjadi Rp 202.449.413.983, terutama dipengaruhi oleh lonjakan pada kas dan bank yang berasal dari penerimaan pinjaman pemegang saham.
  • Aset Tidak Lancar: Aset tidak lancar tercatat sebesar Rp 159.221.712.140, turun 3,58%, didorong oleh reklasifikasi mesin dan peralatan yang tidak lagi digunakan dari bisnis kayu lapis ke “aset tidak lancar lainnya”.

Liabilitas

  • Total Liabilitas: Hingga akhir September 2025, liabilitas mencapai Rp 1.070.480.765.391, naik 25,12% dibandingkan akhir tahun lalu.
  • Liabilitas Jangka Pendek: Tercatat sebesar Rp 1.525.051.541, meningkat 1.586,7%, terutama disebabkan oleh kenaikan “biaya yang masih harus dibayar” untuk jasa profesional terkait proses transformasi bisnis.
  • Liabilitas Jangka Panjang: Berada di posisi Rp 1.068.955.713.850, dengan kenaikan 24,96%, mencerminkan peningkatan struktur pendanaan jangka panjang melalui tambahan “Utang Pemegang Saham” (PT Harita Jayaraya).

Ekuitas

  • Total Ekuitas: Ekuitas perusahaan tercatat sebesar Rp (708.809.639.268), mengalami penurunan (defisiensi modal yang memburuk) dibandingkan 31 Desember 2024 sebesar Rp (675.659.087.818), didorong oleh rugi bersih tahun berjalan.

Laporan Laba Rugi

Pendapatan Selama sembilan bulan pertama 2025, pendapatan perusahaan mencapai Rp 33.058.667, turun 49,14% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 64.996.325. Penurunan ini terjadi karena perusahaan telah menghentikan kegiatan operasionalnya dalam industri kayu lapis.

Laba Bersih Rugi bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp (33.112.378.335), atau membengkak 50,6% YoY dari rugi di periode yang sama tahun lalu sebesar Rp (21.980.702.537). Perubahan ini disebabkan oleh peningkatan beban umum dan administrasi serta adanya beban penurunan nilai aset sebesar Rp 6,1 miliar.

Earnings per Share (EPS) EPS tercatat sebesar Rp (32,73), mencerminkan penurunan 50,7% YoY dari Rp (21,72), sejalan dengan pembengkakan rugi bersih.

Rasio Keuangan

Perlu dicatat bahwa rasio profitabilitas dan solvabilitas menjadi tidak relevan (Not Meaningful/NM) karena perusahaan berada dalam transisi bisnis, mencatatkan pendapatan yang hampir nol, serta memiliki ekuitas negatif.

  • Likuiditas
    • Current Ratio: 132,75x, menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek menggunakan aset lancar. Rasio ini sangat tinggi karena adanya kas baru dari pinjaman pemegang saham yang belum digunakan untuk pembelian aset.
    • Quick Ratio: 132,75x, mengindikasikan likuiditas yang sama kuatnya karena perusahaan tidak lagi memiliki persediaan operasional.
  • Profitabilitas
    • Margin Laba Kotor: NM (Negatif), perusahaan mencatatkan Rugi Kotor sebesar Rp 14,74 miliar.
    • Margin Laba Bersih: NM (Negatif), mencerminkan tingkat profitabilitas yang tidak relevan akibat pendapatan yang minim dan rugi bersih yang besar.
  • Efisiensi & Pengembalian
    • Return on Assets (ROA): (9,16)%, menilai efektivitas pemanfaatan aset dalam menghasilkan laba bersih (dalam hal ini, masih negatif).
    • Return on Equity (ROE): NM (Tidak Relevan), menggambarkan imbal hasil atas modal pemegang saham tidak dapat dihitung secara wajar karena ekuitas negatif.
  • Solvabilitas
    • Debt to Equity Ratio (DER): NM (Tidak Relevan), menunjukkan struktur pendanaan perusahaan tidak dapat diukur dengan rasio ini akibat defisiensi ekuitas.

Valuasi Pasar

Valuasi standar (PER dan PBV) tidak bermakna karena perusahaan mencatatkan rugi bersih (EPS negatif) dan defisiensi ekuitas (BVPS negatif).

  • Price to Earnings Ratio (PER): Berdasarkan harga penutupan saham Rp 44 per 29 Oktober 2025, PER tercatat NM (Tidak Relevan), mengindikasikan valuasi tidak dapat diukur dengan PER karena EPS perusahaan negatif.
  • Price to Book Value (PBV): Dengan nilai buku per saham sebesar Rp (700,57), PBV perusahaan berada di level NM (Tidak Relevan), mencerminkan valuasi pasar tidak dapat diukur dengan PBV akibat ekuitas negatif.

Kesimpulan

Kinerja keuangan TIRT selama kuartal III 2025 sepenuhnya mencerminkan fase akhir dari bisnis kayu lapis yang telah dihentikan. Laporan keuangan per 30 September 2025 menunjukkan neraca yang “bersih” dari aset operasional lama (melalui impairment dan reklasifikasi) dan “terisi” oleh pendanaan baru dari pemegang saham (PT Harita Jayaraya) untuk modal kerja dan investasi di bisnis baru.

Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!

https://bit.ly/pintarsahamid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here