Pada kuartal ketiga tahun 2025, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. mencatatkan kinerja yang memberikan gambaran menyeluruh tentang posisi fundamental dan arah strategi operasional perusahaan sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini. Analisis berikut mengulas perkembangan neraca, profitabilitas, rasio keuangan, hingga valuasi pasar saham perusahaan.
Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Aset
- Total Aset: Per 30 September 2025, total aset tercatat sebesar Rp 52,84 triliun, mengalami penurunan 8,64% dibandingkan dengan posisi pada 31 Desember 2024 sebesar Rp 57,84 triliun.
- Aset Lancar: Aset lancar menurun 57,45% menjadi Rp 910,37 miliar (dihitung dari komponen neraca), terutama dipengaruhi oleh penurunan pada kas dan setara kas (turun dari Rp 1,53 triliun menjadi Rp 904,79 miliar) dan penurunan Piutang Pihak Berelasi (turun dari Rp 599,13 miliar menjadi nihil).
- Aset Tidak Lancar: Aset tidak lancar tercatat sebesar Rp 51,93 triliun (dihitung dari komponen neraca), turun 6,77%, didorong oleh penurunan nilai wajar pada Investasi pada Saham (turun dari Rp 51,91 triliun menjadi Rp 48,21 triliun).
Liabilitas
- Total Liabilitas: Hingga akhir September 2025, liabilitas mencapai Rp 3,68 triliun, turun signifikan 39,31% dibandingkan akhir tahun lalu sebesar Rp 6,07 triliun.
- Liabilitas Jangka Pendek: Tercatat sebesar Rp 222,87 miliar (dihitung dari komponen neraca), meningkat tajam 1361,2% dari Rp 15,25 miliar, terutama disebabkan oleh kenaikan Utang Lainnya.
- Liabilitas Jangka Panjang: Berada di posisi Rp 3,46 triliun (dihitung dari komponen neraca), dengan penurunan 42,84%, mencerminkan penurunan drastis pada pos Pinjaman (turun dari Rp 3,21 triliun menjadi Rp 1,40 triliun).
Ekuitas
- Total Ekuitas: Ekuitas perusahaan tercatat sebesar Rp 49,16 triliun, turun 5,04% dibandingkan 31 Desember 2024 sebesar Rp 51,77 triliun. Penurunan ini terutama didorong oleh rugi periode berjalan.
Laporan Laba Rugi
Pendapatan
Selama sembilan bulan pertama 2025, Penghasilan dividen dan bunga perusahaan mencapai Rp 1,66 triliun, naik 18,11% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1,41 triliun. Pertumbuhan ini ditopang oleh peningkatan penerimaan dividen dari portofolio investasinya.
Laba Bersih
Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 2,43 triliun, berbanding terbalik dari laba bersih Rp 5,22 triliun pada periode yang sama tahun lalu (turun 146,59% YoY).
Perubahan drastis ini disebabkan oleh (Kerugian) keuntungan neto atas investasi pada saham dan efek lainnya yang mencatatkan kerugian sebesar Rp 4,31 triliun, dibandingkan keuntungan Rp 5,02 triliun pada Q3 2024.
Earnings per Share (EPS)
EPS (Dasar) tercatat sebesar Rp (179), mencerminkan penurunan 146,49% YoY dari Rp 385, sejalan dengan perubahan laba bersih menjadi rugi bersih.
Rasio Keuangan
Likuiditas
- Current Ratio: 1,76x, menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek menggunakan aset lancar masih sangat sehat.
- Quick Ratio: 1,75x, mengindikasikan likuiditas yang sangat kuat karena hampir seluruh aset lancar perusahaan adalah kas atau setara kas.
Profitabilitas
- Margin Laba Bersih: -145,44% (dihitung berdasarkan Laba Bersih terhadap Penghasilan Dividen & Bunga), mencerminkan kerugian portofolio yang nilainya jauh melampaui pendapatan dividen.
- Return on Assets (ROA): -5,86% (disetahunkan), menilai efektivitas pemanfaatan aset berbalik negatif dalam menghasilkan laba bersih.
- Return on Equity (ROE): -6,42% (disetahunkan), menggambarkan imbal hasil atas modal pemegang saham menjadi negatif akibat kerugian periode berjalan.
Solvabilitas
- Debt to Equity Ratio (DER): 0,075x, menunjukkan struktur pendanaan perusahaan yang sangat sehat dengan tingkat ketergantungan pada utang yang amat rendah.
Valuasi Pasar
- Price to Earnings Ratio (PER): Berdasarkan harga penutupan saham Rp 1.670 per 11 November 2025, PER tercatat negatif (-7,00x disetahunkan) karena EPS perusahaan negatif.
- Price to Book Value (PBV): Dengan nilai buku per saham (BVPS) sebesar Rp 3.627,3, PBV perusahaan berada di level 0,46x. Valuasi ini mencerminkan diskon yang sangat dalam (54%) dibandingkan dengan nilai buku aset bersihnya.
Kesimpulan
Kinerja keuangan SRTG selama kuartal III 2025 menunjukkan tantangan besar pada sisi profitabilitas, yang sepenuhnya disebabkan oleh kerugian nilai wajar portofolio investasi. Perusahaan mencatatkan rugi bersih Rp 2,43 triliun meskipun pendapatan dividen rutinnya tumbuh positif.
Di sisi lain, posisi neraca perusahaan tetap sangat kuat. Penurunan total liabilitas yang drastis, terutama pinjaman bank, membuat rasio utang (DER) sangat rendah di 0,075x. Likuiditas juga sangat aman.
Valuasi pasar saham SRTG (PBV 0,46x) menunjukkan bahwa harga saham diperdagangkan jauh di bawah nilai aset bersih per sahamnya. Hal ini mencerminkan sentimen negatif pasar akibat kerugian portofolio, namun juga menunjukkan diskon yang signifikan terhadap nilai buku perusahaan.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!