Pada kuartal ketiga tahun 2025, PT Bank of India Indonesia Tbk mencatatkan kinerja keuangan yang memberikan gambaran posisi fundamental dan arah strategi operasional bank. Analisis ini mengulas perkembangan posisi keuangan (neraca), profitabilitas, rasio kunci perbankan, hingga valuasi pasar saham.
Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
- Aset
- Total Aset: Per 30 September 2025, total aset tercatat sebesar Rp 7,03 triliun, mengalami kenaikan 3,18% dibandingkan posisi 31 Desember 2024 (Rp 6,82 triliun). Pertumbuhan ini terutama didorong oleh lonjakan penempatan dana pada Bank Indonesia.
- Kredit yang Diberikan: Posisi kredit bersih mencapai Rp 4,04 triliun, naik tipis 0,54% dari akhir tahun 2024 (Rp 4,02 triliun), menunjukkan ekspansi yang sangat terbatas dalam penyaluran pinjaman.
- Surat Berharga (Efek-efek): Nilai surat berharga tercatat Rp 1,60 triliun, turun 18,56% dari akhir 2024 (Rp 1,96 triliun).
- Penempatan pada BI & Bank Lain: Tercatat Rp 367,00 miliar, naik signifikan 252,94%.
- Liabilitas
- Total Liabilitas: Mencapai Rp 3,56 triliun, naik 6,15% dibandingkan akhir tahun 2024 (Rp 3,36 triliun).
- Dana Pihak Ketiga (DPK): Simpanan nasabah (Giro, Tabungan, Deposito) tercatat Rp 3,52 triliun, naik 13,44% dari akhir 2024 (Rp 3,10 triliun), menandakan pertumbuhan dana kelolaan yang sehat.
- Simpanan dari Bank Lain: Tercatat Rp 63,05 juta, turun drastis 99,97% dari Rp 209,30 miliar.
- Ekuitas
- Total Ekuitas: Tercatat Rp 3,47 triliun, naik tipis 0,29% dari 31 Desember 2024 (Rp 3,46 triliun). Perubahan ini didorong oleh akumulasi laba bersih yang sangat tipis.
Laporan Laba Rugi
- Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income – NII) Selama sembilan bulan pertama 2025, NII mencapai Rp 217,08 miliar, naik 3,40% YoY dibandingkan Rp 209,94 miliar pada periode sama tahun lalu. Ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan bunga yang sedikit melampaui kenaikan beban bunga.
- Pendapatan Operasional Lainnya (Non-Interest Income) Pendapatan provisi, komisi, dan lainnya tercatat Rp 34,41 miliar, naik 108,50% YoY.
- Beban Operasional Total beban operasional (selain bunga) mencapai Rp 84,49 miliar, naik 2,83% YoY, terutama dipengaruhi oleh beban tenaga kerja dan administrasi.
- Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) Pembentukan CKPN tercatat sebesar Rp 145,59 miliar, melonjak 91,95% dari Rp 75,85 miliar pada Q3 2024, mencerminkan antisipasi risiko kredit yang memburuk secara signifikan.
- Laba Bersih Laba bersih periode berjalan mencapai Rp 10,18 miliar, anjlok 80,48% YoY dari Rp 52,14 miliar. Penurunan drastis ini utamanya disebabkan oleh lonjakan beban CKPN.
- Earnings per Share (EPS) EPS dasar tercatat Rp 2,76, turun 80,47% YoY dari Rp 14,13.
Rasio Keuangan Utama
- Profitabilitas
- Net Interest Margin (NIM) (Annualized): 4,18%
- Return on Assets (ROA) (Annualized): 0,20%
- Return on Equity (ROE) (Annualized): 0,39%
- Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO): 91,49% (Termasuk CKPN), menunjukkan tingkat efisiensi yang sangat rendah akibat tingginya biaya pencadangan.
- Kualitas Aset
- Non-Performing Loan (NPL) Gross: 5,98%, rasio kredit bermasalah terhadap total kredit.
- Non-Performing Loan (NPL) Net: 4,91%, rasio kredit bermasalah setelah dikurangi CKPN.
- Likuiditas
- Loan to Deposit Ratio (LDR): 116,44%, (Kredit Bruto / DPK) mengukur perbandingan antara kredit yang disalurkan dengan dana pihak ketiga yang diterima.
- Permodalan
- Capital Adequacy Ratio (CAR / KPMM): 90,00%, menunjukkan kecukupan modal bank yang sangat tebal untuk menyerap potensi kerugian.
Valuasi Pasar
- Price to Earnings Ratio (PER): Berdasarkan harga penutupan saham Rp 900 per 14 November 2025, PER (annualized) tercatat 244,57x.
- Price to Book Value (PBV): Dengan nilai buku per saham Rp 940,00 (Ekuitas / Saham Beredar), PBV berada di level 0,96x.
Kesimpulan
Kinerja keuangan PT Bank of India Indonesia Tbk selama kuartal III 2025 menunjukkan tantangan besar dalam kualitas aset, meskipun berhasil menumbuhkan DPK sebesar 13,44%. Pertumbuhan NII yang stagnan (3,40% YoY) dan pertumbuhan kredit yang minim (0,54% YTD) tertutup oleh anjloknya laba bersih sebesar 80,48%.
Penyebab utama kejatuhan laba adalah lonjakan beban pencadangan (CKPN) sebesar 91,95%, yang terkonfirmasi oleh rasio NPL yang sangat tinggi (Gross 5,98% dan Net 4,91%), di mana NPL Gross telah melampaui batas toleransi regulator (5%). Tingkat permodalan (CAR) masih terjaga sangat kuat di level 90,00%, memberikan bantalan risiko yang masif.
Dari sisi valuasi, saham BSWD saat ini diperdagangkan pada PBV 0,96x (wajar, di bawah nilai buku) namun memiliki PER 244,57x yang sangat tinggi (distorted) akibat laba yang tergerus. Investor perlu mempertimbangkan langkah bank dalam menangani kredit bermasalah dan memulihkan profitabilitas sebelum mengevaluasi potensi investasi pada saham ini.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!