Pada kuartal ketiga tahun 2025, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk mencatatkan kinerja keuangan yang memberikan gambaran posisi fundamental dan arah strategi operasional bank. Analisis ini mengulas perkembangan posisi keuangan (neraca), profitabilitas, rasio kunci perbankan, hingga valuasi pasar saham.
Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Aset
- Total Aset: Per 30 September 2025, total aset tercatat sebesar Rp 1.269,49 triliun, mengalami kenaikan 12,36% dibandingkan posisi 31 Desember 2024 (Rp 1.129,81 triliun). Pertumbuhan ini terutama didorong oleh kenaikan signifikan pada penempatan dana di BI & bank lain, serta pertumbuhan kredit dan surat berharga.
- Kredit yang Diberikan: Posisi kredit bersih mencapai Rp 777,09 triliun, naik 5,41% dari akhir tahun 2024 (Rp 737,19 triliun), menunjukkan ekspansi dalam penyaluran pinjaman.
- Surat Berharga (Efek-efek & Obligasi Pemerintah): Nilai surat berharga (net) tercatat Rp 201,19 triliun (Efek-efek Rp 58,96 triliun dan Obligasi Pemerintah Rp 142,23 triliun), naik 11,40% dari akhir 2024 (Rp 180,60 triliun).
- Penempatan pada BI & Bank Lain: Total Giro dan Penempatan (net) tercatat Rp 162,25 triliun, naik 78,66% dari akhir 2024 (Rp 90,82 triliun).
Liabilitas
- Total Liabilitas: Mencapai Rp 1.097,88 triliun, naik 14,05% dibandingkan akhir tahun 2024 (Rp 962,62 triliun).
- Dana Pihak Ketiga (DPK): Simpanan nasabah (Giro, Tabungan, Deposito) tercatat Rp 934,33 triliun, naik 15,99% dari akhir 2024 (Rp 805,51 triliun), menandakan pertumbuhan dana kelolaan.
- Simpanan dari Bank Lain: Tercatat Rp 14,74 triliun, turun 20,53% dari akhir 2024 (Rp 18,55 triliun).
Ekuitas
- Total Ekuitas: Tercatat Rp 171,61 triliun, naik 2,65% dari 31 Desember 2024 (Rp 167,19 triliun). Perubahan ini terutama didorong oleh akumulasi laba bersih periode berjalan, dikurangi pembagian dividen.
Laporan Laba Rugi
Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income – NII)
- Selama sembilan bulan pertama 2025, NII mencapai Rp 29,25 triliun, turun tipis 0,63% YoY dibandingkan Rp 29,44 triliun pada periode sama tahun lalu. Ini didorong oleh pertumbuhan beban bunga (naik 12,97%) yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan bunga (naik 4,77%).
Pendapatan Operasional Lainnya (Non-Interest Income)
- Total pendapatan provisi, komisi, dan lainnya (termasuk hasil investasi bersih) tercatat Rp 17,25 triliun, naik 6,94% YoY (vs Rp 16,13 triliun), didorong oleh kenaikan provisi & komisi lainnya serta keuntungan penjualan aset keuangan.
Beban Operasional
- Total beban operasional (selain bunga) mencapai Rp 21,83 triliun, naik 4,02% YoY (vs Rp 20,99 triliun), terutama dipengaruhi oleh kenaikan beban gaji dan tunjangan.
Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN)
- Pembentukan CKPN tercatat Rp 6,12 triliun, naik 13,58% YoY (vs Rp 5,39 triliun), mencerminkan antisipasi risiko kredit yang lebih tinggi.
Laba Bersih
- Laba bersih periode berjalan mencapai Rp 15,23 triliun, turun 7,32% YoY dari Rp 16,43 triliun.
Earnings per Share (EPS)
- EPS dasar tercatat Rp 405, turun 7,32% YoY (vs Rp 437).
Rasio Keuangan Utama
Profitabilitas
- Net Interest Margin (NIM): Perhitungan NIM memerlukan data rata-rata aset produktif yang tidak tersedia secara eksplisit dalam dokumen ini. Namun, penurunan NII YoY mengindikasikan potensi tekanan pada NIM.
- Return on Assets (ROA) (Annualized): Sekitar 1,69%, menilai efektivitas aset dalam menghasilkan laba.
- Return on Equity (ROE) (Annualized): Sekitar 12,24%, menggambarkan imbal hasil atas modal pemegang saham induk.
- Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO): Sekitar 46,94% (Beban Operasional Lainnya / (NII + Pendapatan Operasional Lainnya)), menunjukkan tingkat efisiensi operasional bank (semakin rendah semakin baik).
Kualitas Aset
- Non-Performing Loan (NPL) Gross: 1,96%, rasio kredit bermasalah terhadap total kredit.
- Non-Performing Loan (NPL) Net: 0,78%, rasio kredit bermasalah setelah dikurangi CKPN.
Likuiditas
- Loan to Deposit Ratio (LDR): Sekitar 86,93% , mengukur perbandingan antara kredit yang disalurkan dengan dana pihak ketiga yang diterima. (Catatan: Perhitungan LDR standar OJK mungkin menggunakan definisi DPK yang sedikit berbeda).
Permodalan
- Capital Adequacy Ratio (CAR / KPMM): 21,09% (Bank Induk, memperhitungkan risiko operasional), menunjukkan kecukupan modal bank yang sangat kuat untuk menyerap potensi kerugian, jauh di atas minimum regulator (9,95%).
Valuasi Pasar
- Price to Earnings Ratio (PER): Berdasarkan harga penutupan saham Rp 4.240, PER (annualized) tercatat sekitar 7,85x.
- Price to Book Value (PBV): Dengan nilai buku per saham (BVPS) sekitar Rp 4.476 (Ekuitas induk Rp 166,76 triliun / 37,26 miliar saham), PBV berada di level sekitar 0,95x.
Kesimpulan
Kinerja keuangan BBNI selama sembilan bulan pertama 2025 menunjukkan pertumbuhan aset dan DPK yang solid dibandingkan akhir tahun 2024. Namun, secara year-on-year, profitabilitas mengalami sedikit tekanan yang terlihat dari penurunan NII dan laba bersih, terutama akibat kenaikan beban bunga yang lebih tinggi dari pendapatan bunga serta peningkatan CKPN. Meskipun demikian, kualitas kredit (NPL) tetap terjaga pada level yang rendah, dan tingkat permodalan (CAR) masih sangat kuat. Efisiensi operasional terlihat cukup baik dengan rasio BOPO di bawah 50%.
Dari sisi valuasi, saham BBNI saat ini diperdagangkan pada PER 7,85x dan PBV 0,95x, yang secara historis dan dibandingkan potensi industrinya dapat dianggap relatif menarik. Investor perlu mempertimbangkan prospek pertumbuhan kredit ke depan, kemampuan bank menjaga margin bunga di tengah potensi perubahan suku bunga, efisiensi operasional berkelanjutan, dan kondisi makroekonomi dalam mengevaluasi potensi investasi pada saham ini.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!