Pada kuartal ketiga tahun 2025, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatatkan kinerja yang memberikan gambaran menyeluruh tentang posisi fundamental dan arah strategi operasional perusahaan sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini. Analisis berikut mengulas perkembangan neraca, profitabilitas, rasio keuangan, hingga valuasi pasar saham perusahaan.
Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
- Aset
- Total Aset: Per 30 September 2025, total aset tercatat sebesar Rp 213,55 Triliun (USD 12.812.937 ribu), mengalami kenaikan 15,21% dibandingkan dengan posisi pada 31 Desember 2024 sebesar Rp 179,31 Triliun (USD 11.121.488 ribu).
- Aset Lancar: Aset lancar tumbuh 11,56% menjadi Rp 43,37 Triliun (USD 2.601.923 ribu), terutama dipengaruhi oleh kenaikan persediaan.
- Aset Tidak Lancar: Aset tidak lancar tercatat sebesar Rp 170,18 Triliun (USD 10.211.014 ribu), naik 16,18%, didorong oleh kenaikan aset tetap dan biaya pengupasan lapisan tanah yang ditangguhkan.
- Liabilitas
- Total Liabilitas: Hingga akhir September 2025, liabilitas mencapai Rp 130,18 Triliun (USD 7.810.665 ribu), naik 33,00% dibandingkan akhir tahun lalu.
- Liabilitas Jangka Pendek: Tercatat sebesar Rp 20,05 Triliun (USD 1.203.228 ribu), meningkat 4,04%, terutama disebabkan oleh kenaikan pinjaman bank jangka panjang bagian lancar.
- Liabilitas Jangka Panjang: Berada di posisi Rp 110,12 Triliun (USD 6.607.437 ribu), dengan kenaikan 40,09%, mencerminkan peningkatan pinjaman bank jangka panjang.
- Ekuitas
- Total Ekuitas: Ekuitas perusahaan tercatat sebesar Rp 83,37 Triliun (USD 5.002.272 ribu), turun 4,69% dibandingkan 31 Desember 2024, didorong oleh rugi periode berjalan dan pembelian saham treasuri.
Laporan Laba Rugi
- Pendapatan
- Selama sembilan bulan pertama 2025, pendapatan perusahaan mencapai Rp 9,09 Triliun (USD 545.332 ribu), turun 78,14% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD 2.494.571 ribu. Penurunan ini terutama disebabkan oleh perubahan signifikan dalam komposisi penjualan (transisi dari konsentrat ke produk akhir seperti katoda tembaga dan emas murni setelah smelter mulai beroperasi) dan kemungkinan volatilitas harga komoditas.
- Laba/(Rugi) Bersih
- Rugi bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 2,98 Triliun (USD 178.536 ribu), berbanding terbalik dari laba bersih USD 717.113 ribu pada periode yang sama tahun lalu. Perubahan ini disebabkan oleh penurunan drastis pendapatan bersih dan beban pokok penjualan yang relatif tinggi terhadap pendapatan selama periode transisi operasi smelter.
- Earnings per Share (EPS)
- EPS tercatat sebesar Rp (41,00) (USD (0.00246)), mencerminkan penurunan signifikan YoY dari Rp 164,83 (USD 0.00989), sejalan dengan perubahan laba bersih menjadi rugi bersih.
Rasio Keuangan
- Likuiditas
- Current Ratio: 2,16x, menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek menggunakan aset lancar.
- Quick Ratio: 1,22x, mengindikasikan likuiditas yang lebih ketat dengan mengecualikan persediaan dari aset lancar.
- Profitabilitas
- Margin Laba Kotor: 24,69%, menunjukkan efisiensi perusahaan dalam menghasilkan laba dari penjualan sebelum beban operasional lainnya.
- Margin Laba Bersih: -32,74%, mencerminkan perusahaan mengalami kerugian setelah dikurangi seluruh beban operasional dan pajak.
- Efisiensi & Pengembalian
- Return on Assets (ROA): -1,99% (disetahunkan), menilai efektivitas pemanfaatan aset dalam menghasilkan laba bersih (negatif karena rugi).
- Return on Equity (ROE): -4,73% (disetahunkan), menggambarkan imbal hasil atas modal pemegang saham (negatif karena rugi).
- Solvabilitas
- Debt to Equity Ratio (DER): 1,56x, menunjukkan struktur pendanaan perusahaan dan tingkat ketergantungan pada utang.
Valuasi Pasar
- Price to Earnings Ratio (PER): Berdasarkan harga penutupan saham Rp 7.025 per 29 Oktober 2025, PER tidak bermakna (N/M) karena perusahaan mencatatkan rugi bersih (EPS negatif).
- Price to Book Value (PBV): Dengan nilai buku per saham sebesar Rp 1.129,18, PBV perusahaan berada di level 6,22x, mencerminkan tingkat kepercayaan pasar yang tinggi terhadap prospek pertumbuhan atau nilai aset perusahaan di masa depan.
Kesimpulan
Kinerja keuangan AMMN selama sembilan bulan pertama 2025 menunjukkan tantangan signifikan selama periode transisi operasional smelter, yang tercermin dari penurunan tajam pendapatan dan pergeseran dari laba menjadi rugi bersih dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan aset dan liabilitas, terutama liabilitas jangka panjang, mengindikasikan investasi berkelanjutan dan penggunaan pendanaan eksternal untuk mendukung operasional dan pengembangan, termasuk ramp-up smelter.
Meskipun kinerja profitabilitas saat ini negatif, valuasi PBV yang tinggi menunjukkan ekspektasi pasar terhadap pemulihan kinerja dan potensi pertumbuhan di masa depan seiring dengan stabilisasi operasi smelter dan penjualan produk bernilai tambah lebih tinggi (katoda tembaga dan emas murni). Namun, investor perlu memperhatikan tingkat utang yang cukup tinggi dan risiko terkait ramp-up operasi smelter serta volatilitas harga komoditas global yang dapat mempengaruhi kinerja kuartal selanjutnya.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!