Pada semester I 2025, PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) mencatatkan kinerja keuangan yang mencerminkan dinamika harga komoditas sekaligus ambisi besar perusahaan dalam proyek hilirisasi. Dengan harga saham yang ditutup di level Rp1.005 pada 29 Agustus 2025, mari kita bedah laporan keuangannya lebih dalam.
Neraca Keuangan: Aset Naik, Utang Juga Ikut Menggembung
Total aset ADMR per 30 Juni 2025 mencapai Rp39,71 triliun, naik 17,8% dari akhir 2024. Kenaikan ini terutama ditopang oleh pertumbuhan aset tidak lancar, yang melonjak lebih dari 30% berkat investasi pada aset tetap dan proyek dalam pembangunan.
Namun, aset lancar justru turun 16,4% menjadi Rp9,18 triliun. Hal ini menekan rasio likuiditas, meskipun current ratio di 1,17x masih tergolong sehat.
Di sisi liabilitas, total kewajiban naik signifikan menjadi Rp17,76 triliun atau naik hampir 39% YoY. Kenaikan paling besar datang dari liabilitas jangka panjang yang melonjak 91,7%, sejalan dengan pembiayaan ekspansi hilirisasi. Sementara itu, ekuitas tumbuh tipis 3,3% menjadi Rp21,95 triliun.
Laba Rugi: Pendapatan Tertekan, Laba Turun Tajam
Kinerja pendapatan di semester I 2025 turun cukup dalam. ADMR membukukan pendapatan Rp7,21 triliun, turun 26,9% YoY akibat harga batubara yang melemah.
Efeknya langsung terasa ke laba bersih yang terpangkas 44%, dari Rp4,02 triliun pada S1 2024 menjadi Rp2,25 triliun. Laba per saham (EPS) juga ikut merosot ke Rp34,8 per saham, turun hampir separuh dibanding tahun lalu.
Rasio Keuangan: Profitabilitas Menyempit
Turunnya harga komoditas terlihat jelas pada margin. Margin laba kotor turun dari 54,4% ke 40,6%, sementara margin laba bersih menyusut dari 40,8% ke 31,3%.
Dari sisi efisiensi, ROA turun menjadi 7,8% dan ROE ke 10,3%. Di sisi lain, leverage meningkat dengan DER 0,81x, naik dari 0,60x, menandakan utang yang makin besar.
Valuasi Saham: Premium dengan Harapan Hilirisasi
Dengan harga Rp1.005 per saham, ADMR saat ini diperdagangkan di PER 14,4x dan PBV 2,15x. Angka ini relatif premium dibanding mayoritas emiten batubara lain yang biasanya punya valuasi single digit.
Valuasi premium ini menunjukkan investor menaruh harapan tinggi pada ekspansi hilirisasi aluminium dan rantai pasok baterai yang tengah digarap ADMR.
Kesimpulan: Antara Risiko Komoditas dan Prospek Hilirisasi
Secara jangka pendek, kinerja ADMR tertekan oleh penurunan harga batubara dan meningkatnya beban utang. Namun, strategi diversifikasi ke hilirisasi memberi prospek jangka panjang yang menarik.Bagi investor, saham ini lebih cocok untuk mereka yang percaya pada cerita hilirisasi dan energi terbarukan, bukan hanya sekadar komoditas batubara.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!