Pada kuartal ketiga tahun 2025, PT Adhi Karya (Persero) Tbk mencatatkan kinerja yang memberikan gambaran menyeluruh tentang posisi fundamental dan arah strategi operasional perusahaan sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini. Analisis berikut mengulas perkembangan neraca, profitabilitas, rasio keuangan, hingga valuasi pasar saham perusahaan.
Laporan Posisi Keuangan (Neraca)
Aset
- Total Aset: Per 30 September 2025, total aset tercatat sebesar Rp 33,63 triliun, mengalami penurunan 4,04% dibandingkan dengan posisi pada 31 Desember 2024 sebesar Rp 35,04 triliun.
- Aset Lancar: Aset lancar menurun 8,02% menjadi Rp 20,71 triliun, terutama dipengaruhi oleh penurunan signifikan pada Kas dan Setara Kas. Piutang usaha dan retensi relatif stabil, sementara persediaan sedikit meningkat.
- Aset Tidak Lancar: Aset tidak lancar tercatat sebesar Rp 12,92 triliun, naik 3,12%, didorong oleh peningkatan signifikan pada Investasi pada Entitas Asosiasi dan penurunan pada Investasi Ventura Bersama.
Liabilitas
- Total Liabilitas: Hingga akhir September 2025, liabilitas mencapai Rp 23,93 triliun, turun 5,68% dibandingkan akhir tahun lalu.
- Liabilitas Jangka Pendek: Tercatat sebesar Rp 18,59 triliun, menurun 7,27%, terutama disebabkan oleh penurunan Utang Bruto Subkontraktor, meskipun terdapat kenaikan pada Utang Bank Jangka Pendek.
- Liabilitas Jangka Panjang: Berada di posisi Rp 5,33 triliun, dengan kenaikan tipis 0,30%, mencerminkan stabilitas struktur pendanaan jangka panjang, dengan sedikit peningkatan Utang Obligasi.
Ekuitas
- Total Ekuitas: Ekuitas perusahaan tercatat sebesar Rp 9,70 triliun, naik tipis 0,27% dibandingkan 31 Desember 2024, didorong oleh laba periode berjalan yang diatribusikan ke entitas induk dan kepentingan non-pengendali.
Laporan Laba Rugi
Pendapatan
- Selama sembilan bulan pertama 2025, pendapatan usaha perusahaan mencapai Rp 5,65 triliun, turun signifikan 38,28% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 9,16 triliun. Penurunan ini kemungkinan besar mencerminkan perlambatan dalam penyelesaian proyek atau penurunan perolehan kontrak baru.
Laba Bersih
- Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 4,42 miliar, turun drastis 93,62% YoY dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 69,32 miliar. Penurunan tajam ini disebabkan oleh penurunan pendapatan yang signifikan, meskipun beban pokok pendapatan juga turun. Beban Keuangan yang masih tinggi turut menekan laba.
Earnings per Share (EPS)
- EPS tercatat sebesar Rp 0,53, mencerminkan penurunan 93,58% YoY (dari Rp 8,25 ), sejalan dengan penurunan laba bersih.
Rasio Keuangan
Likuiditas
- Current Ratio: 1,11x, menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek menggunakan aset lancar masih sedikit di atas 1x.
- Quick Ratio: 0,27x, mengindikasikan likuiditas yang lebih ketat karena sangat bergantung pada persediaan untuk memenuhi kewajiban lancar.
Profitabilitas
- Margin Laba Kotor: 14,74%, sedikit menurun dari periode sebelumnya, menunjukkan tekanan pada efisiensi biaya produksi atau penurunan harga jual.
- Margin Laba Bersih: 0,08%, sangat tipis dan turun drastis dibandingkan tahun sebelumnya, mencerminkan tantangan profitabilitas yang signifikan.
Efisiensi & Pengembalian
- Return on Assets (ROA): 0,017% (disetahunkan), sangat rendah, menilai efektivitas pemanfaatan aset dalam menghasilkan laba bersih masih sangat minim.
- Return on Equity (ROE): 0,065% (disetahunkan), sangat rendah, menggambarkan imbal hasil yang sangat minim atas modal pemegang saham.
Solvabilitas
- Debt to Equity Ratio (DER): 2,47x, menunjukkan struktur pendanaan perusahaan yang sangat bergantung pada utang (leverage tinggi).
Valuasi Pasar
- Price to Earnings Ratio (PER): Berdasarkan harga penutupan saham Rp 270 per 23 Oktober 2025, PER tercatat sangat tinggi sekitar 380x (berdasarkan EPS disetahunkan Rp 0,71), mengindikasikan valuasi yang sangat mahal relatif terhadap laba saat ini yang sangat kecil. Nilai PER ini kurang bermakna karena laba yang sangat tipis.
- Price to Book Value (PBV): Dengan nilai buku per saham (milik entitas induk) sebesar Rp 1.075,91 (Rp 9,05T / 8,41M saham ), PBV perusahaan berada di level 0,25x, mencerminkan valuasi pasar yang jauh di bawah nilai buku perusahaan. Hal ini bisa mengindikasikan pesimisme pasar terhadap prospek pertumbuhan atau profitabilitas masa depan.
Kesimpulan
Kinerja keuangan ADHI selama kuartal III 2025 menunjukkan penurunan signifikan baik dari sisi pendapatan maupun laba bersih dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan drastis dalam profitabilitas (NPM, ROA, ROE) dan rasio likuiditas ketat (Quick Ratio) menjadi perhatian utama. Tingkat utang yang tinggi (DER 2,47x) juga menambah profil risiko perusahaan.
Dari sisi valuasi, PER yang sangat tinggi tidak dapat menjadi acuan karena laba yang minim, sementara PBV yang sangat rendah (0,25x) menunjukkan bahwa saham diperdagangkan jauh di bawah nilai bukunya. Hal ini bisa menjadi peluang jika perusahaan mampu memperbaiki kinerjanya, namun juga mencerminkan risiko yang dipersepsikan pasar. Investor perlu memperhatikan kemampuan perusahaan untuk meningkatkan pendapatan, mengelola beban (terutama beban keuangan), dan memperbaiki profitabilitas di kuartal selanjutnya, serta mengelola tingkat utangnya.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!


