Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeAnalisis SahamKinerja ADHI Semester I-2025: Laba Tipis, Saham Murah? Ini Fakta di Baliknya

Kinerja ADHI Semester I-2025: Laba Tipis, Saham Murah? Ini Fakta di Baliknya

PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) menghadapi semester pertama tahun 2025 dengan kondisi yang menantang. Pendapatan usaha turun tajam, namun laba bruto dan laba usaha justru meningkat. Meskipun arus kas operasional tercatat negatif dan laba bersih menurun, neraca perusahaan tetap relatif stabil dengan rasio likuiditas dan solvabilitas yang masih terkendali.

Di sisi pasar, valuasi saham ADHI terpantau sangat rendah jika dilihat dari Price to Book Value (PBV) sebesar 0,24x, meskipun Price to Earning Ratio (PER) yang tinggi di angka 143,33x menjadi catatan penting. Apakah ini peluang bagi investor value atau sinyal kehati-hatian? Mari kita kupas tuntas.

Kinerja Laba Rugi: Pendapatan Turun, Margin Naik

Pendapatan usaha ADHI pada semester I-2025 tercatat sebesar Rp3,81 triliun, anjlok 32,9% dibanding periode yang sama tahun lalu. Namun menariknya, laba bruto justru naik menjadi Rp572,87 miliar dari sebelumnya Rp521,66 miliar menunjukkan efisiensi dalam pengelolaan beban pokok pendapatan.

Laba usaha meningkat signifikan menjadi Rp188,85 miliar, namun laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk hanya sebesar Rp7,54 miliar, turun dari Rp13,77 miliar.

Rasio Profitabilitas

RasioSemester I-2025Keterangan
Gross Profit Margin (GPM)15,03%Meningkat dari 9,18%
Operating Profit Margin (OPM)4,95%Meningkat dari 2,44%
Net Profit Margin (NPM)0,20%Menurun dari 0,24%

Margin laba meningkat di tingkat operasional, namun hampir seluruh keuntungan terserap oleh beban non-operasional seperti bunga dan pajak.

Neraca: Stabil, Tapi Liabilitas Jangka Pendek Masih Mendominasi

Per 30 Juni 2025, total aset ADHI mencapai Rp34,38 triliun, terdiri dari:

  • Aset lancar: Rp21,79 triliun
  • Aset tidak lancar: Rp12,59 triliun

Liabilitas menurun tipis menjadi Rp24,68 triliun, didominasi oleh liabilitas jangka pendek sebesar Rp19,19 triliun. Sementara itu, total ekuitas naik sedikit ke Rp9,69 triliun, di mana Rp9,05 triliun di antaranya merupakan milik pemegang saham induk.

Rasio Keuangan Utama

RasioNilaiPenjelasan
Current Ratio1,14xCukup untuk menutupi kewajiban jangka pendek
Debt-to-Equity (DER)2,55xUmum dalam industri konstruksi
Debt-to-Asset (DAR)0,72x72% aset dibiayai oleh utang

Arus Kas: Operasional Minus, Investasi Didukung Pengembalian Modal

  • Arus kas operasi: Negatif Rp181,36 miliar
    → Menandakan pengeluaran kas operasional melebihi penerimaan dari pelanggan.
  • Arus kas investasi: Positif Rp91,45 miliar
    → Didukung oleh pengembalian investasi dari ventura bersama sebesar Rp365,8 miliar.
  • Arus kas pendanaan: Negatif Rp676,84 miliar
    → Pembayaran utang melebihi penerimaan pendanaan baru.

Valuasi Pasar: Saham Dianggap Murah, Tapi Laba Masih Tipis

Dengan asumsi harga saham Rp258, berikut perhitungan rasio valuasi:

Price to Earnings Ratio (PER)

  • EPS tahunan (disetahunkan): Rp0,90 × 2 = Rp1,80
  • PER: Rp258 / Rp1,80 = 143,33x

PER sangat tinggi, mengindikasikan laba yang masih kecil dibanding harga saham saat ini.

Price to Book Value (PBV)

  • BVPS: Rp9,05 triliun / 8,407 miliar saham = Rp1.076,28
  • PBV: Rp258 / Rp1.076,28 = 0,24x

PBV ini menunjukkan saham diperdagangkan di bawah nilai buku — bisa jadi sinyal undervaluation jika perusahaan mampu memperbaiki profitabilitasnya.

Return on Equity (ROE)

  • ROE tahunan: (Rp7,54 miliar × 2) / Rp9,05 triliun = 0,17%

Tingkat pengembalian terhadap ekuitas masih sangat rendah, menandakan efisiensi penggunaan modal belum optimal.

Kesimpulan

ADHI menunjukkan perbaikan efisiensi operasional, namun tantangan tetap besar, terutama pada sisi laba bersih dan arus kas. Valuasi pasar menunjukkan saham ini dihargai sangat rendah oleh investor — PBV 0,24x adalah sinyal klasik saham murah. Tapi dengan ROE hanya 0,17% dan PER di atas 140x, investor perlu berhati-hati dan meninjau prospek proyek-proyek strategis serta manajemen utang perusahaan ke depan.

Investor value mungkin melihat ini sebagai peluang. Tapi bagi investor pertumbuhan, angka-angka ini menuntut bukti pemulihan kinerja yang lebih kuat di semester berikutnya.

Mau belajar cara pilih saham yang sehat & potensial secara teknikal dan fundamental? Mulai dari sini!

https://bit.ly/pintarsahamid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here