Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomePengumuman EmitenKenapa Margin ADHI Tiba-Tiba Melejit? Ini Strategi di Baliknya

Kenapa Margin ADHI Tiba-Tiba Melejit? Ini Strategi di Baliknya

PT Adhi Karya Tbk (ADHI) pada Semester I 2025 ini mencatat pendapatan hanya Rp3,81 Triliun atau turun 32,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp5,68 Triliun. Tapi menariknya, laba kotor justru naik menjadi Rp572,9 Miliar dari sebelumnya Rp521,7 Miliar. Margin kotor ikut melejit dari 9% menjadi 15%.

Lonjakan margin ini bukan kebetulan. Di baliknya, ada strategi yang diam-diam mulai diterapkan ADHI sejak awal tahun, yaitu mengurangi penggunaan sub kontraktor (subkon) dan lebih banyak mengerjakan proyek secara in-house.

Tahun lalu, ADHI menghabiskan Rp1,51 triliun atau 26,6% dari pendapatan untuk biaya subkon. Tapi tahun ini, nilainya hanya Rp142,9 miliar atau setara dengan 3,7% dari pendapatan. Penurunan drastis ini berdampak besar ke efisiensi biaya, sehingga meski pendapatan turun, margin justru bisa ditingkatkan.

Dengan data tersebut, secara sederhana dapat dikatakan skema ini meningkatkan efisiensi margin. Misalnya, ada proyek senilai Rp1 miliar. Kalau dikerjakan sendiri dengan biaya Rp800 juta, maka margin bersih bisa Rp200 juta. Tapi kalau dikerjakan subkon, mereka pasti pasang harga lebih tinggi (misalnya Rp900 juta) untuk ambil untung juga. Artinya, margin buat ADHI tinggal Rp100 juta.

Di sisi lain, strategi ini muncul di waktu yang tepat, yaitu pada tahun pemerintahan baru mulai berkerja dan melakukan pergeseran fokus belanja pemerintah, yang sekarang lebih condong ke pembangunan SDM seperti program makan bergizi gratis, dibandingkan proyek infrastruktur masif seperti di era sebelumnya. Artinya, potensi proyek baru dari pemerintah untuk sektor konstruksi bisa jadi semakin terbatas.

Namun, strategi ini tentu punya konsekuensi. Ketika lebih banyak proyek ditangani langsung, ADHI harus lebih cermat mengelola cash flow, pengadaan bahan baku, dan sumber daya manusia. Beban kerja naik, dan struktur internal harus siap menyerap volume pekerjaan yang sebelumnya dialihkan ke pihak luar.

Tapi jika dikelola dengan baik, pendekatan ini bisa jadi pembeda. Di tengah ketatnya persaingan sektor konstruksi, efisiensi margin menjadi salah satu kunci bertahan. Strategi ADHI layak dicermati, bukan hanya soal revenue, tapi bagaimana cara menjaga profitabilitas tetap tumbuh.

Disclaimer:
Tulisan ini merupakan opini pribadi kontributor dan tidak mencerminkan pandangan resmi PintarSaham.id. Bukan merupakan rekomendasi investasi. Konten ini bersifat edukatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Data dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan laporan terbaru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here