PT First Media Tbk saat ini berada di posisi yang cukup unik, ibarat kapal tua yang sudah tidak lagi mengandalkan mesin utamanya, tetapi tetap mengapung karena memiliki sebuah Asset play besar di dalamnya. Perusahaan ini lahir pada 6 Januari 1994 dengan nama PT Safira Ananda dan mulai beroperasi komersial pada 1 Maret 1999. Induk terakhirnya adalah PT Inti Anugerah Pratama milik keluarga Riady.
Dulu, core business mereka berada di sektor teknologi, media, dan telekomunikasi, mencakup layanan ISP, interkoneksi internet, infrastruktur telekomunikasi, jasa nilai tambah kartu panggil, penyedia konten berita, dan rumah produksi iklan televisi. Mereka juga pernah memegang lisensi wireless broadband 2,3 GHz di beberapa zona pada 2009. Namun lisensi ini dicabut pada 2017, dan lisensi pengganti pun dihentikan pada 28 Desember 2018. Pukulan terakhir datang 23 April 2024 ketika izin ISP anak usaha PT Internux juga dicabut, menandai berakhirnya fondasi core business lama mereka.
Dampaknya sangat jelas terlihat di laporan keuangan interim per 30 Juni 2025. Pendapatan yang tahun lalu masih Rp13,1 miliar kini ambruk menjadi hanya Rp954 juta. Segmen konten dan berita serta jasa internet yang dulu jadi tulang punggung kini nol kontribusi.
Beban penjualan pun ikut nol, yang artinya aktivitas pemasaran untuk bisnis lama praktis dihentikan. Sisa revenue hanya dari infrastruktur, itu pun turun tajam dari Rp2,5 miliar menjadi Rp954 juta. Skala operasi menyusut ekstrem sampai karyawan tetap tinggal dua orang, tanda bahwa aktivitas core business sudah sangat mengecil.
Yang menarik, beban umum dan administrasi justru melonjak 42% dari Rp11,4 miliar menjadi Rp16,3 miliar, dengan lonjakan besar di honorarium tenaga ahli dari Rp2,3 miliar menjadi Rp13,8 miliar. Ini mengindikasikan biaya untuk restrukturisasi, pivot business, atau urusan strategis lain. Dengan beban penjualan dan beban layanan yang hilang, rugi usaha memang menyempit dari minus Rp31,1 miliar menjadi minus Rp8,6 miliar, tapi ini bukan hasil penjualan yang membaik, melainkan karena aktivitas operasional yang sudah banyak dihapus.
Game changer ada di penghasilan komprehensif lain, di mana perusahaan mencatat unrealized gain atas aset keuangan sebesar Rp1,26 triliun, berbalik dari rugi Rp24,9 miliar tahun lalu. Seluruhnya berasal dari kenaikan nilai investasi saham di PT Multipolar Technology Tbk yang diklasifikasikan sebagai FVTOCI. Lonjakan ini membuat ekuitas naik dari Rp738 miliar akhir 2024 menjadi Rp2 triliun per Juni 2025. Rasio debt to equity pun anjlok dari 1,94x menjadi 0,72x, terlihat sangat sehat, meski faktor utamanya murni efek revaluasi aset, bukan perbaikan operasi.
Neraca menunjukkan total aset naik dari Rp2,17 triliun menjadi Rp3,43 triliun. Aset lancar stagnan di Rp315 miliar, dengan kas Rp241,3 miliar yang sebagian besar ditempatkan di PT Bank Nationalnobu Tbk, entitas sepengendali. Piutang usaha tinggal Rp164 juta dengan cadangan kerugian Rp132,9 miliar, tanda historis piutang macet yang besar. Aset tidak lancar melesat dari Rp1,85 triliun menjadi Rp3,11 triliun, didorong hampir sepenuhnya oleh investasi di Multipolar Technology yang kini menyumbang 76,9% dari total aset. Liabilitas stabil di kisaran Rp1,43 triliun, didominasi utang usaha pihak ketiga sekitar Rp1,37 triliun.
Arus kas operasi masih negatif Rp11,1 miliar, memburuk dari minus Rp4,9 miliar tahun lalu. Penerimaan dari pelanggan anjlok dari Rp21,4 miliar menjadi hanya Rp387 juta, sejalan dengan hilangnya core business. Pembayaran beban usaha melonjak ke Rp14,4 miliar, konsisten dengan kenaikan biaya tenaga ahli. Modal kerja defisit Rp1,1 triliun, current ratio hanya 0,22x, menandakan likuiditas jangka pendek yang rapuh. Kas yang ada tidak cukup menutup kewajiban lancar, meskipun keberadaan Asset play besar memberi bantalan nilai jika dilepas.
Ketergantungan pada pihak berelasi sangat tinggi, terutama pada investasi di Multipolar Technology yang menjadi pendorong utama ekuitas. Selama nilai investasinya naik atau minimal stabil, laporan keuangan akan terlihat kuat. Namun sifatnya sangat fluktuatif mengikuti pasar saham. Koreksi tajam pada harga saham ini akan memukul ekuitas dan memperburuk rasio keuangan. Dari sisi risiko lain, perusahaan terpapar fluktuasi kurs USD yang bisa berdampak sekitar Rp10,3 miliar pada rugi bersih jika dolar menguat 5%, dan perubahan suku bunga yang berdampak lebih kecil sekitar Rp941 juta untuk kenaikan 50 basis poin.
Jika dilihat utuh, First Media sekarang adalah holding company dengan core business lama yang nyaris hilang. Operasional inti lemah, revenue tipis, karyawan minim, CFO negatif, dan modal kerja defisit besar. Namun nilai bukunya terlihat sehat karena efek unrealized gain dari portofolio investasi. Ke depan ada dua skenario.
Pertama, perusahaan mempertahankan peran sebagai investment holding dan mengelola portfolio agar nilainya tetap tumbuh atau stabil. Kedua, menemukan pivot bisnis baru yang bisa mencetak revenue berkelanjutan dan cash flow positif. Jika salah satunya sukses, value untuk pemegang saham bisa terjaga. Jika gagal, risiko kembali ke defisiensi modal dan masalah likuiditas akan besar, apalagi jika Asset play utamanya mengalami penurunan nilai.
Bagi investor, saham ini adalah pure Asset play. Potensi upside besar ada jika nilai investasinya terus naik, tapi risikonya juga setara jika pasar berbalik arah. Ini bukan kisah growth stock berbasis fundamental operasi, melainkan cerita tentang perusahaan yang bertahan dan terlihat sehat berkat portofolio aset yang saat ini sedang berada di puncak valuasi. Pertanyaan utamanya, apakah manajemen bisa mengubahnya dari kapal yang hanya terapung karena harta karun menjadi kapal yang kembali berlayar dengan mesin core business baru yang bertenaga.
Kalau dilihat dari angka yang ada, investasi KBLV di PT Multipolar Technology Tbk (MLPL) ini memang jadi mesin penggerak utama laba komprehensif mereka. Per 30 Juni 2025, nilai investasi ini dibukukan sebesar Rp2.640.472 juta dengan metode FVTOCI, artinya setiap perubahan harga pasar langsung masuk ke pos Other Comprehensive Income. Dengan asumsi harga saham MLPL di tanggal itu Rp95 per lembar, kepemilikan KBLV kira-kira 27,79 miliar lembar saham.
Lalu kalau kita update ke harga 8 Agustus 2025 yang ada di pertanyaan, yaitu Rp121 per lembar, nilai investasinya otomatis naik jadi sekitar Rp3.363.128 juta. Selisihnya dari posisi 30 Juni adalah Rp722.656 juta. Angka ini adalah potensi tambahan kenaikan OCI yang belum tercatat di laporan Juni 2025. Perlu diingat, laporan semester I 2025 sudah mencatat unrealized gain sebesar Rp1.264.452 juta dari investasi ini, jadi Rp722,6 miliar tadi sifatnya tambahan di luar angka yang sudah diakui.
Artinya, jika harga MLPL tetap bertahan di Rp121 atau lebih saat penutupan periode pelaporan berikutnya, KBLV bisa kembali mencatat lonjakan laba komprehensif yang besar tanpa harus mengubah apapun di bisnis operasionalnya. Namun sifatnya jelas fluktuatif karena semua bergantung pada pergerakan harga pasar saham MLPL.
KBLV saat ini memiliki harga saham Rp103 per lembar dan jumlah saham beredar 1,74 miliar unit, kapitalisasi pasarnya hanya sekitar Rp179,4 miliar. Angka ini terlihat sangat kecil jika dibandingkan dengan book value per share yang mencapai Rp1.651,04, sehingga PBV-nya cuma 0,062. Sekilas ini seperti barang obral yang murah sekali, tapi perlu dicatat kalau nilai buku yang tinggi ini bukan hasil dari laba operasi yang stabil melainkan dari unrealized gain atas investasi di PT Multipolar Technology yang dicatat di pos OCI. Kalau investasi ini nilainya turun di pasar, ekuitas KBLV juga bisa ikut terkikis.
Dari sisi laba, situasinya belum positif. Laba tahun berjalan yang bisa diatribusikan ke pemegang saham induk untuk semester I 2025 masih rugi Rp1,86 miliar. Kalau diannualisasi, ruginya menjadi Rp3,73 miliar sehingga PER tidak bisa dihitung secara bermakna. EPS juga masih minus Rp1 per saham untuk enam bulan pertama tahun ini, meskipun sudah membaik dibanding minus Rp11 per saham di periode yang sama tahun lalu. PEG pun tidak bisa dihitung karena tetap butuh laba positif.
Yang paling bikin geleng-geleng kepala adalah pendapatan yang jatuh bebas. Dari Rp13,1 miliar di paruh pertama 2024, sekarang tinggal Rp954 juta. Segmen konten dan berita serta jasa langganan internet sudah hilang total, sementara segmen infrastruktur yang tersisa juga turun tajam. Akibatnya, rasio P/S membengkak menjadi 94 dan EV/Sales tembus 259,3. Biasanya angka setinggi ini hanya wajar kalau perusahaan sedang berada di fase awal dengan potensi pertumbuhan luar biasa, tapi untuk KBLV justru terjadi saat bisnisnya menciut karena pencabutan lisensi.
Secara operasional, rugi usaha semester I 2025 tercatat Rp8,68 miliar dengan arus kas operasi negatif Rp11,1 miliar. Current ratio hanya 0,22x, artinya aset lancar jauh di bawah kewajiban jangka pendek. Memang rugi bersih sudah berkurang dibanding tahun lalu dan beban penjualan nyaris dihapus, tapi ini lebih mencerminkan penyusutan skala bisnis daripada perbaikan penjualan.
Kalau membidik valuasi ideal seperti PBV 1,5 dan PER 15, itu artinya KBLV harus berubah menjadi perusahaan yang stabil, untung secara konsisten, dan punya prospek pertumbuhan jelas. Caranya, mereka harus menemukan kembali core business yang bisa memberi pendapatan signifikan dan berkelanjutan, memangkas biaya administrasi yang kini lebih besar dari pendapatan, serta membalikkan arus kas operasi menjadi positif. Return on equity juga perlu naik dari posisi defisit saat ini menjadi produktif. Tanpa transformasi ini, target PBV 1,5 dan PER 15 akan sulit dicapai karena tidak ada basis laba dan book value saat ini sangat bergantung pada portofolio investasi yang sifatnya fluktuatif.
Risikonya, kalau upaya perbaikan ini gagal, harga saham kemungkinan akan bertahan di level rendah atau bahkan menurun, ekuitas bisa terkikis oleh rugi operasional, dan masalah likuiditas akan membayangi. Jadi meskipun terlihat sangat murah secara PBV, saham ini lebih cocok disebut sebagai pure asset play yang nilainya bertumpu pada investasi di luar bisnis inti. Investor yang melirik KBLV harus paham betul bahwa kesehatan laporan keuangan sekarang lebih ditopang oleh kenaikan nilai investasi, bukan oleh kekuatan mesin bisnis yang menghasilkan uang dari operasional sehari-hari.