Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeAnalisis SahamINTP: Harga Saham Saat Ini Lebih Rendah dari 2020 Tapi Kinerja Laporan...

INTP: Harga Saham Saat Ini Lebih Rendah dari 2020 Tapi Kinerja Laporan Keuangan Lebih Baik dari 2020

INTP itu ibarat restoran legendaris yang tiap tahun tetap jual makanan enak, dapurnya bersih, chef-nya gak pernah cuti, dan semua laporan keuangannya lolos audit tanpa drama. Tapi entah kenapa, sejak lima tahun terakhir, pelanggan malah kabur satu per satu. Parahnya, bukan karena makanannya basi atau pelayanannya jelek, tapi karena lurah setempat tiap minggu bikin pernyataan yang bikin orang males mampir ke lingkungan itu. “Saya kapok makan di restoran,” katanya. Lah gimana gak sepi?

Kita mulai dari dapurnya dulu. Selama 2016–2024, revenue INTP naik dari Rp15,3 triliun ke Rp18,5 triliun. Laba bersih? Dari titik terendah di Rp1,1 triliun (2018) naik pelan-pelan ke Rp2 triliun di 2024. Bukan kencang, tapi konsisten. Laju pertumbuhannya memang bukan kayak startup, tapi juga bukan stagnan. Mereka ini maratonis—gak heboh, tapi gak pernah ngos-ngosan. Free cashflow-nya juga disiplin. Di 2024, mereka menghasilkan Rp2,75 triliun arus kas bebas. Margin FCF-nya tembus 14,8%. Gak banyak perusahaan industri padat modal yang bisa jaga margin segitu tanpa perlu drama hutang atau revaluasi.

Utang berbunga mereka? Ada. Tapi kayak cicilan motor di tengah rekening tabungan miliaran. Beban bunganya cuma Rp181 miliar dari total revenue Rp18,5 triliun—alias kurang dari 1%. Dan kas perusahaan lebih besar dari utangnya. Secara teori, mereka bisa lunasi semua utang sebelum jam makan siang tanggal 31 Desember 2024, tapi manajemen lebih pilih kelola dengan cerdas. Gak agresif, tapi efisien.

Valuasinya? Sudah bukan undervalued lagi. Ini kayak rumah di tengah kota yang dijual di bawah NJOP karena rumor di Twitter bilang lokasinya angker. PER 8,4x, PBV 0,77x, dan EV/FCF cuma 5,4x. Dengan angka segitu, kalau ini perusahaan di negara yang presidennya ngerti pentingnya pasar modal, mungkin sahamnya udah dilelang rebutan. Tapi di Indonesia 2025? Sayangnya, logika bukan mata uang utama. Pasar kita lebih peka pada “emosi mikrofon” daripada rasio keuangan.

Lihat saja: sejak awal 2025, harga saham INTP turun dari Rp7.400 ke Rp4.620. Dalam lima tahun, anjlok dari Rp15.650. Padahal selama periode yang sama, revenue dan laba naik. Artinya apa? Ini bukan koreksi karena kinerja. Ini koreksi karena kepercayaan. Dan penyebab utamanya bukan dari emiten, tapi dari atmosfer nasional. Pasar dihajar dari segala sisi: rupiah longsor ke 16.573, IHSG anjlok -20%, dan yang punya kuasa malah bilang “saham itu bukan buat rakyat desa”. Jadi ya, pasar kabur. Tapi bukan karena INTP, melainkan karena arah kompas nasionalnya muter sendiri.

Lucunya, saat investor lokal panik dan buang saham, investor asing justru belanja. Net buy asing di INTP per 24 Maret 2025 udah tembus Rp161 miliar. Jadi siapa yang waras di sini? Investor asing pelan-pelan koleksi, sementara investor lokal ikut arus drama. Ini kayak kejadian orang jual rumah karena denger isu setan, padahal yang beli justru dukun tanah sebelah.

ROIC INTP memang belum spektakuler: 8,18%. Di bawah WACC 9,75%. Tapi tunggu dulu—di sektor semen, angka segitu udah lumayan. Mereka bukan produsen software margin 90%. Ini produsen semen: modal besar, margin tipis, tapi solid. Gak fancy, tapi gak tipu-tipu. Dan ketika kamu punya FCF sehat, margin stabil, utang kecil, dan operasional kuat, itu udah cukup buat dibilang perusahaan layak huni jangka panjang. Bahkan kalau lingkungan sekitarnya lagi penuh asap.

Jadi, apakah INTP ini hidden gem atau value trap? Jawabannya jelas. Fundamentalnya bukan rusak. Justru makin bagus tiap tahun. Masalahnya ada di luar: pasar yang kehilangan kepercayaan, bukan karena akuntansi, tapi karena presiden suka ngegas. Kalau kamu analisis pake Excel, ini hidden gem. Tapi kalau kamu pegang mouse sambil baca pernyataan pejabat, ini bisa jadi value trap mental—karena kamu ragu bukan karena datanya, tapi karena narasinya.

INTP bukan perusahaan gagal. Tapi dia kebetulan tinggal di lingkungan yang presidennya alergi saham, dan pasar modal dikira ajang taruhan. Jadi ya begini: perusahaan sehat dihukum karena tinggal di negara yang memperlakukan bursa seperti panggung komedi. Tapi kalau kamu tanya siapa yang bakal senyum di akhir? Mungkin aseng yang diam-diam nyicil INTP di bawah Rp5.000 sambil bilang, “ya udah, kita tunggu yang lain sadar sendiri.”

Data perbandingan

⚡Tahun 2020

Harga saham: Rp10.35

Laba bersih: Rp1,81 triliun

PER: 25x

PBV: 2,1x

FCF: 2,9 Triliun

⚡Tahun 2024

Harga saham: Rp4.620

Laba bersih: Rp2,01 triliun

PER: 8,4x

PBV: 0,77x

FCF: Rp2,75 triliun

EV/FCF: ±5,4x

Revenue naik, laba naik, arus kas tetap tinggi, tapi valuasi 2024 jauh lebih murah daripada 2020. Tahun 2020 pasar menghargai INTP dengan PER 25x dan PBV 2,1x — mahal banget dibanding kondisi 2024 yang justru lebih sehat.

Detail terkait harga wajar saham TPIA bisa dilihat di Grup Priority Pintar Saham

Klik link berikut untuk daftar menjadi bagian dari komunitas Pintar Saham agar hidup kamu menjadi lebih mudah dalam berinvestaasi saham – priority-membership-pintarsahamid-41664.getresponsesite.com

Toko Kaos Pintar Nyangkut https://cutt.ly/XruoaWRW

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here