Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightInternet Rakyat Apakah Butuh Menara?

Internet Rakyat Apakah Butuh Menara?

Internet rakyat itu pakai apa sih sampai bisa nyampe ke rumah orang. Pertanyaan ini sebenarnya nyentuh urat nadi industri, karena tarif yang digembar-gemborkan sekitar Rp100.000 per bulan untuk up to 100 Mbps unlimited itu langsung nantang harga internet fiber yang selama ini ada. Kalau bener jalan, ini bukan sekadar perang harga, tapi perang arsitektur jaringan, dari spektrum 1,4 GHz sampai last mile di rumah. 

Yang bikin makin menarik, pemenang seleksi pita 1,4 GHz untuk layanan Akses Nirkabel Pitalebar atau Broadband Wireless Access (BWA) di Regional I adalah PT Telemedia Komunikasi Pratama, sedangkan Regional II dan III dimenangkan PT Eka Mas Republik. Surge juga sudah bilang mereka gandeng $TBIG dan $CENT yang punya portofolio sekitar 50.000 tower site existing yang siap dipakai, jadi cerita awalnya lebih ke numpang di menara lama daripada bikin menara baru dari nol.

Di sisi perangkat, OREX SAI disebut menyiapkan sistem Open Radio Access Network (Open RAN) untuk 5G Fixed Wireless Access (FWA) 1,4 GHz plus 5G Core (5GC) yang dikembangkan NEC. Target awalnya sampai 4.800 stasiun basis pada 2026, jadi yang diuji itu bukan cuma teknologinya, tapi eksekusinya di lapangan. Sekarang kita urutkan hulu ke hilirnya, sambil dibandingkan dengan IndiHome, ISP fiber lain, operator seluler, sampai contoh negara lain.

Internet Rakyat yang lagi ramai ini pada dasarnya adalah layanan internet rumah berbasis FWA. Bedanya dengan fiber, last mile ke rumah bukan kabel, tapi sinyal radio dari site pemancar ke modem rumah yang biasa disebut Customer Premises Equipment (CPE). Paket yang banyak dikutip media itu 30 hari Rp100.000, up to 100 Mbps, unlimited, gratis pemasangan, dan gratis sewa CPE. Hulu paling hulunya adalah spektrum. Tanpa spektrum, tidak ada udara untuk dipakai. Di kasus ini, pita 1,4 GHz dipakai untuk BWA, dan Komdigi menetapkan pemenang seleksi 2025 untuk tiap regional. 

Ini penting karena karakter lisensinya beda dengan operator seluler yang pegang spektrum untuk layanan bergerak. BWA itu konteksnya akses pita-lebar nirkabel yang logikanya dibuat untuk internet tetap ke rumah atau fixed broadband, jadi desain jaringan dan produknya bisa lebih fokus ke home internet, bukan ke mobilitas.

Masuk ke layer teknologi. Kalau ini benar-benar dijalankan seperti yang disebut media, arsitekturnya kira-kira begini. Dari core jaringan, ada 5GC yang dikembangkan NEC. Dari radio access-nya, ada Open RAN, lalu perangkat radio dipasang di titik pemancar yang melayani area sekitar.

Di sisi rumah, CPE menangkap sinyal 1,4 GHz lalu membagi koneksi lewat Wi-Fi ke HP, laptop, smart TV, dan lain-lain. Di sinilah istilah tiang pemancar sinyal 1,4 GHz muncul. Tiangnya bisa menara telekomunikasi, rooftop gedung, atau struktur lain yang memenuhi syarat ketinggian, listrik, dan keamanan perangkat. Secara praktik, kalau mau cepat dan murah, operator FWA hampir pasti pilih nempel perangkat di site yang sudah ada daripada bangun struktur baru. 

Image by Pojoksatu.id

Jadi, pakai menara atau tidak. Jawaban realistisnya iya, mayoritas butuh menara atau titik tinggi, karena coverage radio sangat dipengaruhi line of sight dan ketinggian antena. Lalu menara baru atau lama.

Surge menempatkan TBIG dan CENT sebagai partner infrastruktur, dengan klaim portofolio sekitar 50.000 site existing dan bahkan disebut perseroan jadi tidak perlu membangun menara lagi untuk pengembangan jaringan awal.

Ini biasanya berarti modelnya colocation. Ada menara milik tower company, lalu tenant datang bawa perangkat aktifnya, pasang antena dan radio unit, sewa space, sewa power, sewa shelter jika perlu, lalu jalan. 

Bedanya dengan menara perusahaan seperti $TOWR, TBIG, dan juga CENT itu di sini. Bisnis tower company itu mayoritas passive infrastructure. Mereka bukan yang jual paket 100 Mbps ke rumah. Mereka jual real-estate vertikal dan utilitasnya. Mereka cari tenancy ratio naik, karena satu menara kalau bisa ditempeli banyak tenant, margin biasanya makin enak. Internet Rakyat dan jaringan BWA 1,4 GHz ini justru bisa jadi tenant baru. Itu sebabnya kolaborasi dengan TBIG dan CENT masuk akal, karena bagi tower company, setiap tenant tambahan itu kontrak sewa dan arus kas yang relatif stabil, sementara bagi operator FWA, menumpang di menara existing itu jalan pintas untuk scale cepat.

Kenapa TBIG dan CENT bisa nyambung khususnya. Karena yang dibutuhkan operator FWA bukan cuma tower, tapi juga backhaul, listrik, dan akses ke jaringan transport. Di pemberitaan, CENT juga disebut punya fiber dan solusi data connectivity seperti local loop ke Network Access Point (NAP) serta IP transit. Ini persis komponen yang dibutuhkan untuk mengangkut trafik dari site pemancar menuju internet global. 

Sekarang kita masuk ke bagian yang sering bikin orang salah paham, backhaul itu apa. Backhaul itu jalan tol data dari site pemancar ke pusat jaringan dan ke internet. Untuk FWA, backhaul umumnya 2 jenis. Fiber optic atau microwave point to point. Fiber itu kapasitas besar dan stabil, tapi perlu ketersediaan jalur. Microwave itu lebih cepat digelar di area tertentu, tapi kapasitasnya terbatas dan sensitif ke desain link. Operator besar dan penyedia infrastruktur biasanya memakai kombinasi keduanya, tergantung densitas pelanggan dan kesiapan jalur.

Contoh di Indonesia, ada pemain yang menawarkan IP transit dan jaringan fiber untuk enterprise atau wholesale seperti Moratelindo dan Link Net. Di sisi telco, XL juga punya jaringan fiber backbone yang dipakai untuk transport data. Indosat pun historically membangun jaringan transport termasuk microwave backbone di banyak area.

Jadi kalau ditanya perusahaan apa saja yang bisa terlibat di backhaul, secara kategori ada tower company yang punya fiber ke site, telco yang punya backbone nasional, dan penyedia wholesale fiber serta NAP dan IP transit. Di titik ini, desain komersialnya bisa macam-macam, bisa sewa dark fiber, sewa kapasitas, atau bahkan revenue share.

Kalau dibandingkan dengan IndiHome, bedanya ada di last mile dan konsekuensi ekonominya. IndiHome itu fiber ke rumah, sehingga dari sentral atau hub, trafik dibagi lewat jaringan akses fiber sampai ke Optical Network Terminal (ONT) di rumah. Keunggulannya biasanya stabilitas, latency, dan kapasitas per rumah yang lebih konsisten, tapi ada biaya penarikan kabel, perangkat ODP dan OLT, serta proses instalasi yang tergantung ketersediaan jalur di perumahan. IndiHome sendiri memajang harga mulai Rp230.000 untuk 50 Mbps, Rp250.000 untuk 75 Mbps, Rp325.000 untuk 150 Mbps, sampai Rp490.000 untuk 200 Mbps.

Sedangkan Internet Rakyat ingin memangkas bagian kabel last mile itu dan menggantinya dengan radio 1,4 GHz, sehingga secara teori deployment lebih cepat dan capex per home pass bisa lebih rendah, tapi trade-off-nya kapasitas radio per sektor harus dibagi ke banyak pelanggan, dan performanya sensitif ke kepadatan user, interferensi, serta kualitas CPE di rumah.

Kalau dibandingkan dengan MyRepublic dan Biznet, gambarannya makin jelas. Di promo MyRepublic yang pernah tayang, paket internet mereka misalnya Nova 100 Mbps Rp220.000, Fast 50 Mbps Rp250.000, Value 30 Mbps Rp235.000.

Biznet untuk paket bulanan 50 Mbps tercantum Rp250.000 per bulan.

Jadi kalau Internet Rakyat benar stabil di Rp100.000 untuk up to 100 Mbps, itu diskon psikologisnya besar sekali dibanding harga fiber mass market.

Di sini provokasinya. Harga semurah itu tidak otomatis berarti semua orang akan pindah, karena customer rumah itu sensitif ke stabilitas, apalagi untuk WFH, gaming, dan streaming. Fiber biasanya menang di konsistensi. FWA menang di kemudahan dan kecepatan pemasangan, terutama di area yang fiber-nya belum rapat atau perumahan yang ribet izin penarikan kabel.

Lalu bedanya dengan operator telekomunikasi seperti Telkomsel, XL, dan Indosat. Operator seluler itu bisnisnya mobile broadband duluan. Mereka pegang spektrum seluler, punya jaringan nasional, dan kapasitas radio yang harus dibagi antara pengguna HP, IoT, enterprise, dan produk lain. Mereka juga bisa jual home internet berbasis FWA, tapi biasanya FWA mereka riding di jaringan seluler yang sama, sehingga harus pintar membagi kapasitas agar tidak mengganggu pengalaman mobile. Internet Rakyat versi BWA 1,4 GHz ini punya narasi berbeda, seolah dibuat lebih dedicated untuk fixed broadband ke rumah, jadi secara desain produk, mereka bisa lebih fokus mengejar harga murah dan skema distribusi yang agresif, misalnya menggandeng puluhan distributor lokal untuk go to market awal.

Di negara lain, konsep seperti internet rakyat itu ada, walaupun nama dan kemasannya beda. Di Amerika Serikat, Verizon memasarkan 5G Home Internet mulai $35 per bulan, modelnya home internet via jaringan nirkabel, bukan fiber ke rumah.

T-Mobile juga memasarkan Home Internet dengan narasi harga mulai $35 per bulan.

Di Inggris, Three menawarkan 5G Home Broadband unlimited data mulai £21 per bulan.

Di Australia, Telstra memasarkan 5G Home Internet dengan harga dari $85 per bulan.

Di India, Jio AirFiber menawarkan paket mulai ₹599.

Sekarang pertanyaan pamungkasnya, mereka bisa cetak laba dari mana, dan dibandingkan dengan internet rakyat gimana. Kuncinya hampir selalu sama. Utilisasi jaringan, biaya akuisisi pelanggan, dan biaya per gigabyte yang sukses ditekan. Di banyak negara, operator yang menawarkan home internet nirkabel sering memonetisasi kapasitas jaringan yang sudah terlanjur mereka bangun untuk mobile. Jadi incremental cost per pelanggan home internet bisa lebih rendah, karena tower, backhaul, core network, dan spektrum sudah ada, tinggal menambah CPE dan sedikit optimasi. Itu salah satu alasan kenapa harga $35 per bulan di AS bisa masuk akal untuk mereka, terutama kalau bundling dengan paket mobile, karena churn turun dan lifetime value naik.

Internet Rakyat punya tantangan yang beda. Kalau mereka membangun jaringan BWA 1,4 GHz yang memang didedikasikan, berarti ada capex dan opex baru yang harus ditutup dari ARPU Rp100.000.

Supaya tetap bisa cetak laba, biasanya ada beberapa tuas yang harus jalan bareng. Satu, memaksimalkan sharing infrastruktur, yaitu numpang di menara existing TBIG dan CENT agar tidak terbakar capex menara.

Dua, backhaul harus murah per Mbps, makanya koneksi ke fiber, NAP, dan IP transit jadi krusial, dan ini nyambung dengan narasi CENT yang punya local loop ke NAP dan IP transit.

Tiga, CPE harus efisien, karena kalau janji sewa modem gratis, biaya perangkat itu tetap harus balik lewat kontrak berbulan-bulan.

Empat, mereka hampir pasti akan mulai dari area padat dulu supaya satu site bisa menampung banyak pelanggan dan biaya site lease kebagi. Di berita juga disebut rencana sampai 4.800 stasiun basis untuk tahap awal 2026, yang secara implisit menunjukkan mereka memang mengejar skala.

Jadi hubungan internet rakyat dengan emiten tower itu sederhana tapi dampaknya bisa besar. Internet rakyat butuh titik tinggi, listrik, dan backhaul. Tower company butuh tenant. Makanya kolaborasi TBIG dan CENT itu bukan kisah romantis, tapi transaksi yang sangat pragmatis.

Dan pembeda paling besar dengan IndiHome adalah jenis last mile, fiber versus radio. Pembeda paling besar dengan operator seluler adalah fokus layanan, BWA fixed broadband versus jaringan mobile yang harus melayani banyak use case sekaligus. Pembeda paling besar dengan ISP fiber seperti Biznet dan MyRepublic adalah trade-off antara harga super agresif versus konsistensi performa, karena radio selalu bergantung pada kepadatan user dan kualitas cakupan, sementara fiber lebih deterministik tapi lebih berat di instalasi.

Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id (https://pintarsaham.id/), baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id (https://pintarsaham.id/) dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!

https://bit.ly/pintarsahamid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here