Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightINDR LK Q2 2025: Ini Perusahaan Tekstil atau Emas atau Coal Sih?

INDR LK Q2 2025: Ini Perusahaan Tekstil atau Emas atau Coal Sih?


PT Indo-Rama Synthetics Tbk sudah lama jadi salah satu pemain tekstil terbesar di Indonesia. Berdiri sejak 1974 dengan operasi komersial dimulai 1976, perusahaan ini awalnya berangkat dari kerangka penanaman modal asing era Orba. Sekarang, basis produksinya tersebar di Purwakarta, lalu ada cabang di Turki dan Uzbekistan, bahkan merambah ke tambang batu bara di Sumatera Selatan dan proyek mineral di Cianjur. Intinya mereka mencoba jadi grup terintegrasi, mulai dari benang pintal, polyester, resin PET, sampai listrik untuk kebutuhan sendiri. Produknya pun tak cuma main di lokal, tapi juga diekspor ke Eropa, Amerika, Asia, Afrika, sampai Timur Tengah.

Dari sisi kepemilikan, mayoritas saham dipegang Indorama Holdings BV sebesar 67,28% dan PT Irama Investama 25%. Sisanya publik, dengan porsi asing 2,51% dan domestik 5,21%. Induk utamanya ada di Singapura lewat Indorama Corporation Pte. Ltd. Tokoh utamanya jelas masih keluarga Lohia, dengan Sri Prakash Lohia sebagai preskom, Amit Lohia wakilnya, dan operasional dipegang Vishnu Swaroop Baldwa. Jumlah karyawan per Juni 2025 sekitar 6.750 orang, turun tipis dari 6.796 di akhir 2024, yang artinya ada efisiensi tenaga kerja.

Sayangnya kinerja keuangannya masih belum manis. Semester pertama 2025, revenue anjlok 11,55% ke US$366,6 juta dari US$414,5 juta di periode sama tahun lalu. Laba kotor sih melonjak 12.921% ke US$1,07 juta, tapi itu karena basis tahun lalu yang nyaris nol. Kalau dibanding pendapatan, margin tetap super tipis. Rugi sebelum pajak masih US$12,6 juta, sedikit membaik dari rugi US$13,9 juta tahun lalu. Rugi bersih yang bisa diatribusikan ke pemilik turun tipis 0,7% ke US$9,6 juta. Artinya Indo-Rama masih bleeding, meski luka sedikit mengecil.

Yang agak rawan justru arus kas. Dari operasi, perusahaan cuma berhasil kantongi US$0,46 juta, anjlok 95% dari US$10,2 juta tahun lalu. Bayangkan, jualan ratusan juta dolar, tapi kas yang nyangkut di meja cuma setengah juta. Kalau investasi, malah keluar duit US$5,99 juta, terutama karena akuisisi anak usaha tambang. Padahal tahun lalu bagian investasi sempat kasih arus masuk US$0,82 juta berkat penjualan aset. Pendanaan juga masih keluar US$4,6 juta, walau lebih kecil dari US$12,1 juta tahun lalu. Hasil akhirnya, kas bersih amblas US$10,16 juta, bikin saldo kas akhir periode tinggal US$16,5 juta. Ini jelas red flag karena bisnis inti makin sulit mengonversi revenue jadi kas.

Aset total per Juni 2025 tercatat US$756,2 juta, turun 2,76% dari akhir 2024. Liabilitas juga turun 4,65% ke US$362,8 juta. Utang bank sekitar US$116 juta. Rasio gearing naik tipis ke 25% dari 23%. Masih aman karena semua covenant pinjaman katanya terpenuhi, tapi tren utang relatif naik sementara profit masih minus itu bikin waspada. Modal kerja juga ketekan. Dari US$18,6 juta di Desember 2024, sekarang tinggal US$15,1 juta atau turun 18%. Kas dari pelanggan turun 10% ke US$381,7 juta, dan periode penagihan piutang molor dari 36 hari ke 44 hari. Lagi-lagi tekanan ke likuiditas makin jelas.

Dari sisi operasional, segmen polyester paling parah, revenue turun 21,5% dan hasil segmen tetap negatif. Segmen benang pintal juga masih rugi. Geografis pun sama, hampir semua pasar dari Eropa sampai Asia melemah, hanya Amerika Selatan yang agak stabil. Sementara untuk pemasok, konsentrasi tinggi ke PT INEOS Aromatics Indonesia yang supply 24,56% bahan baku. Untungnya untuk pelanggan, tidak ada yang dominan di atas 10% revenue.

Free cash flow juga konsisten merah. Semester pertama 2025 FCF tercatat minus US$9,29 juta, sedikit lebih buruk dari minus US$9,09 juta tahun lalu. Padahal capex sudah ditekan hampir setengahnya, dari US$19,3 juta jadi US$9,75 juta. Jadi masalah bukan lagi belanja besar-besaran, tapi memang operasi tidak menghasilkan kas yang cukup.

Kalau bicara kontrak dan perjanjian, Indo-Rama punya fasilitas pinjaman dengan bank-bank besar seperti HSBC, SMBC, BCA, sampai DBS dan ANZ. Dana ini buat modal kerja dan ekspansi kapasitas produksi. Mereka juga baru akuisisi UJI yang pegang 51% tambang batu bara TDM. Kepemilikan di ITDS pun sudah naik jadi 100%. Jadi ada upaya diversifikasi ke energi dan tambang, meski sampai sekarang masih lebih banyak jadi beban ketimbang mesin laba.

Dengan kondisi ini, jelas ada beberapa red flag. Pertama, arus kas operasi nyaris nol, padahal revenue masih ratusan juta dolar. Kedua, kerugian berlanjut walau tipis membaik. Ketiga, penurunan kas bersih lebih dari US$10 juta dalam 6 bulan. Keempat, piutang makin lama ditagih. Semua ini mengarah ke kualitas laba yang rendah dan tidak berkelanjutan. Indo-Rama butuh strategi turnaround serius, entah lewat efisiensi produksi, renegosiasi kontrak pemasok, atau mencari segmen pasar baru dengan margin lebih tebal. Kalau tidak, grup ini akan terus bergantung pada pendanaan eksternal dan akuisisi aset, yang pada akhirnya hanya menambah tekanan ke kas.

INDR, yang selama ini identik dengan bisnis tekstil, poliester, dan petrokimia, ternyata sedang merintis jalur baru di sektor pertambangan. Lewat strategi akuisisi dan diversifikasi, INDR kini punya dua aset penting di segmen mineral, yaitu tambang emas dan tambang batu bara. Keduanya dijalankan melalui anak usaha dengan kepemilikan penuh, meski kontribusinya ke laba masih jauh dari kata signifikan. Namun dari sisi pertumbuhan aset dan komitmen belanja modal, jelas terlihat bahwa INDR memposisikan bisnis mineral sebagai bagian dari strategi jangka panjang.

Tambang emas dikelola oleh PT Cikondang Kancana Prima atau CKP, yang berlokasi di Cianjur, Jawa Barat. CKP memegang Izin Usaha Pertambangan No. 503/Tmb.839/DPSDA.P dengan luas 2.410 hektare. Aset yang tercatat di entitas ini mencapai US$18,88 juta per 30 Juni 2025, naik dari US$12,08 juta di akhir 2024. Yang menarik, CKP memiliki probable reserves senilai US$15,97 juta yang sudah diakui sebagai bagian dari aset pertambangan. Angka ini menunjukkan cadangan emas yang bisa ditambang secara ekonomis di masa depan.

Selain itu, persediaan barang jadi di segmen mineral senilai US$1,28 juta juga tercatat pada Juni 2025, hasil dari kombinasi bisnis yang sudah berjalan. Walaupun kinerja laba masih rugi, INDR tetap menggelontorkan capital expenditure atau capex sebesar US$1,69 juta hanya untuk semester pertama 2025. Manajemen juga menegaskan tidak ada indikasi penurunan nilai properti pertambangan, artinya mereka percaya aset ini masih punya prospek jangka panjang.

Tambang batu bara ada di bawah PT Tigadaya Minergy atau TDM, yang lokasinya berada di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. TDM memegang Izin Usaha Pertambangan No. 22/1/IUP/PMA/2018 dengan luas area 9.963 hektare. Struktur kepemilikan TDM agak berlapis, karena saham mayoritasnya 51% dipegang PT Unggul Jaya Indonesia atau UJI. INDR resmi menguasai TDM setelah mengakuisisi 100% UJI pada 30 Juni 2025.

Akuisisi ini dicatat sebagai kombinasi bisnis entitas sepengendali. Dari akuisisi tersebut, INDR mengakui aset tambang berproduksi senilai US$3,37 juta. Namun ada juga beban yang ikut terbawa, seperti utang pajak penghasilan sebesar US$1,07 juta dan withholding taxes atau potongan pajak sebesar US$34,7 ribu. Sama seperti CKP, manajemen memastikan tidak ada indikasi penurunan nilai aset pertambangan TDM.

Kalau dilihat secara segmen, bisnis mineral INDR yang mencakup CKP dan TDM mencatat total aset sebesar US$17,16 juta pada Juni 2025, melonjak tajam dari US$5,03 juta di Juni 2024. Lonjakan ini jelas didorong masuknya TDM sekaligus pertumbuhan di CKP. Meski begitu, kinerja segmen masih mencatat rugi sebesar US$13,85 ribu di Juni 2025, sedikit lebih buruk dibanding rugi US$11,94 ribu di tahun sebelumnya.

Dengan kata lain, segmen mineral memang masih jadi cost center, belum bisa menyumbang profit. Namun lonjakan aset dan belanja modal yang konsisten menunjukkan ada dorongan serius untuk menjadikan sektor ini sebagai salah satu pilar masa depan INDR. Kombinasi cadangan emas yang sudah nyata dan tambang batu bara yang berproduksi memberikan pondasi awal untuk itu.

INDR sendiri menambahkan lapisan finansial lewat perjanjian dengan pemegang saham minoritas CKP, berupa pinjaman berbunga JIBOR+0,5% yang baru akan dibayar mulai 2027 sampai 2029 dengan tiga kali angsuran. Struktur seperti ini membuat akuisisi lebih fleksibel sekaligus memberi ruang bagi manajemen untuk mengatur arus kas tanpa terlalu terbebani dalam jangka pendek.

Sementara itu, masuknya TDM melalui UJI memperlihatkan bagaimana INDR berani mengambil langkah diversifikasi di luar industri intinya. Strategi ini bisa dibaca sebagai upaya menciptakan penyeimbang, karena industri tekstil dan petrokimia dikenal cyclical, sehingga masuk ke tambang emas dan batu bara bisa menjadi alternatif untuk menstabilkan kinerja keuangan jangka panjang.

Saat ini segmen mineral milik INDR memang belum bisa dipandang sebagai profit generator. Tetapi dari sisi aset, cadangan, dan komitmen belanja, arahnya sudah jelas. CKP punya cadangan emas senilai US$15,97 juta dengan aset hampir US$19 juta, sementara TDM sudah berkontribusi dengan aset tambang berproduksi US$3,37 juta. Jika pengelolaan dan integrasi berjalan baik, ditambah dengan harga komoditas yang mendukung, segmen ini bisa jadi penopang penting di masa depan. Untuk sekarang, investor hanya bisa melihatnya sebagai investasi jangka panjang yang butuh waktu sebelum mulai membalikkan rugi menjadi laba.

Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!

https://bit.ly/pintarsahamid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here