ININEn +62831-1918-1386 Mon - Fri 10:00-18:00s +62831-1918-1386
Info@pintarsaham.id
Sertifikasi Internasional
CFP@ | Certificate Financial Planner
Team Berpengalaman
Lebih dari 7 tahun
Kontak Kami

How To Be Brave Buy The Dip: Susahnya Menjadi Kontrarian

How To Be Brave Buy The Dip: Susahnya Menjadi Contrarian?

Tidak banyak yang berani belanja saham ketika market sedang merah merona. Karena psikologi manusia memang diciptakan seperti itu. Ketika banyak orang yang panik, maka kepanikan itu menular ke kita juga.

Saya merasakan hal tersebut ketika zaman diskon besar di Maret 2020. Terus terang saya juga merasa takut waktu itu. Takut kalau saham yang saya beli anjlok lebih dalam lagi dan uang habis. Dan benar saja di pertengahan Maret 2020, uang saya habis. Market masih anjlok. Portofolio total minus >20%. Pasrah. Tapi saya memutuskan untuk keep saja portofolio tersebut. Hal yang membuat saya bertahan waktu itu adalah karena saya yakin kalau saham yang saya beli itu memiliki fundamental yang kuat dan tidak akan bangkrut dalam waktu dekat.

April-Mei beberapa saham yang saya hold membagikan dividen. Itu saya pakai untuk tambah posisi di saham. Lalu bunga deposito cair, itu saya pakai juga untuk tambah posisi di saham. Di bulan Juli 2020 baru portofolio saya mulai bangkit. Dari minus >20%, minus 10, minus 5% dan akhirnya tutup tahun plus >20%. Jadi 5 bulan portofolio saya merah double digit sebelum akhirnya bisa comeback di akhir tahun. Rasa nyeri di kepala akibat nyangkut hanya terasa di bulan pertama. Bulan berikutnya langsung hilang semua rasa nyeri kepala itu. Dan berkat kenyangkutan itulah akhirnya saya semakin yakin dengan metode Skydrugz Bot Radar. Radar untuk mencari tempat menyangkutkan diri. Semua cuan berawal dari nyangkut yang ditahan.

Kesalahan terbesar saya di 2020 adalah saya terlalu kalap belanja di Februari – Awal Maret 2020 dan melupakan Money Management. Harusnya tetap selot selot. Kalau pakai money management yang benar dan buy the dip di tanggal 20-an Maret, total portofolio saya mungkin bisa cuan >100%. Tapi mau bagaimana lagi, rejeki saya hanya sampai segitu saja.

Hal-hal yang membuat saya kuat hold portofolio yang minus tebal di 2020 dulu antara lain:

1. Saya membeli saham dengan menggunakan uang dingin. Tidak pakai margin, utang apalagi gadai plus KTA. Uang dingin menurut saya adalah uang yang saya anggap sudah hilang. Tidak diharapkan lagi untuk kembali. Sama seperti uang yang rencananya kita gunakan untuk buka usaha warung makan tapi kemudian warung makan itu tutup karena tidak laris. Akhirnya modal lenyap. Kalau ternyata uang tersebut beranak pinak, ya Alhamdulillah.

2. Beli saham yang fundamentalnya bagus. Jadi di 2020 saya sampai punya saham >50 saham di portofolio. Karena Maret 2020 itu banyak diskon, semua saham yang saya anggap fundamentalnya oke saya beli semua. Beli terus. Lagi dan lagi. Eh tahu – tahu duit habis. Nyangkut di saham sebanyak itu awalnya memang bikin pusing. Tapi saya membuka kembali catatan – catatan lama saya tentang mengapa saya membeli semua saham tersebut dan itu membuat saya kembali termotivasi untuk keep hold.

3. Bergabung dengan komunitas yang satu pemikiran. Kalau hanya sendiri, menjadi kontrarian itu memang sulit. Membeli saham ketika semua orang ketakutan beli adalah hal yang benar-benar hanya mudah diucapkan tapi sulit dipraktekkan. Sehingga butuh komunitas untuk saling menguatkan. Saya masih ingat beberapa bulan lalu saya membuat grup coal lover. Waktu itu banyak yang pesimis dengan coal. Jadi saya membentuk komunitas Coal Lover untuk saling menguatkan. Agar semakin kuat Hold meskipun lagi nyangkut. Dan akhirnya banyak yang tetap strong hold Coal.

Silver lining

Saya melihat di komunitas kripto, para investor nya berani hold koin dalam jangka waktu yang lama. Psikologi mereka benar – benar berbeda dengan investor saham. Di kalangan investor saham, cuan 5-20% saja mereka langsung cabut. Di kripto, investor nya berani hold sampai cuan >1000%. Mental prowess seperti ini sudah jarang ditemukan di investor saham.

Pada umumnya anjlok baru 50% saja, investor saham langsung cutloss padahal perusahaan yang dibeli sahamnya itu fundamental oke dan undervalued. Di kripto, investor nya keep hold meskipun anjlok >50%. Meskipun itu micin coin.

Perbedaan perilaku antara investor saham dan investor Kripto mungkin terbentuk karena different rule of game dan different mindset.

Investor saham orientasi utamanya adalah value, sedangkan investor Kripto orientasi utamanya adalah YPC YOLO YOLO.

Investor Kripto dan Investor Saham itu mirip dengan penganut suatu agama.

Jika di agama tujuan menjalankan ibadah adalah untuk mencapai surga di akhirat, maka investor kripto dan investor saham tujuan mereka berinvestasi adalah untuk menemukan surga di financial freedom.

Investor Kripto percaya kalau mereka hold forever kripto mereka, maka mereka akan menemukan surga financial freedom.

Hal yang sama berlaku pada investor saham, mereka beli saham karena yakin akan mencapai surga financial freedom lewat saham yang mereka beli.

Jadi ketika Pasar saham dan kripto tidak kondusif, portofolio merah, coba ingat lagi bahwa surga financial freedom itu ada agar bisa kuat hold forever.

 

Jika anda menyukai artikel ini jangan lupa untuk berlangganan di Youtube Channel Pintar Saham dan nantikan video edukasi tentang saham di channel tersebut. Jangan lupa melihat Facebook Fan Page Pintar Saham Indonesia dan Instagram Pintar Saham @pintarsaham.id

Jika ingin diskusi saham via Telegram bisa dengan menjadi Nasabah Sucor Referal TIRA2 dengan PM saya @skydrugz27 di Telegram.

Atau dengan mendaftar menjadi Nasabah Mirae dengan mengisi form ini.

Setelah mengisi form, bisa menghubungi @skydrugz27 via Telegram.

Untuk Insights Saham bisa ke sini.

Bagi yang mau buka akun Kripto bisa di Binance atau Tokokripto pakai link di sini.

Bagi yang mau join grup kripto bisa isi form PintarKripto.

Jika ingin pesan analisis Laporan Keuangan Kuartalan Komprehensif dari Pintarsaham.id bisa pesan di sini

Disclaimer :

Penyebutan nama saham (jika ada) tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, atau pun rekomendasi jual beli atau tahan untuk saham tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis. Kinerja Masa Lalu tidak menjadi jaminan akan kembali terulang pada masa yang akan datang. Semua data dan hasil pengolahan data diambil dari sumber yang dianggap terpercaya dan diolah dengan usaha terbaik. Meski demikian, penulis tidak menjamin kebenaran sumber data. Data dan hasil pengolahan data dapat berubah sewaktu-waktu tanpa adanya pemberitahuan. Seluruh tulisan, komentar dan tanggapan atas komentar merupakan opini pribadi.

Leave a Reply