Friday, April 17, 2026
No menu items!
Google search engine
HomeInsightHOKI LK Q2 2025: Kurang Hoki Karena Nyangkut di Adaro

HOKI LK Q2 2025: Kurang Hoki Karena Nyangkut di Adaro

PT Buyung Poetra Sembada Tbk atau yang dikenal dengan kode saham HOKI adalah perusahaan yang berangkat dari bisnis beras, dengan sejarah berdiri sejak 2003 dan resmi mendapat pengesahan pada 2004. Kantornya ada di Pasar Induk Cipinang, yang memang jadi pusat perdagangan beras terbesar di Indonesia. Perusahaan ini kemudian melantai di Bursa pada 2017 dengan harga perdana Rp310 per saham, melepas 700 juta lembar saham dan mengantongi Rp208,8 miliar sebagai modal kerja.

Jumlah saham beredar sekarang mencapai 9,67 miliar lembar, dengan mayoritas masih digenggam keluarga Bujung melalui PT Buyung Investama Gemilang hampir 60%, publik 31%, dan sisanya tersebar ke anggota keluarga yang lain dalam porsi kecil. Tokoh kuncinya adalah Sukaking Bujung sebagai direktur utama, Muliati sebagai direktur, lalu Jonathan Jochanan yang duduk sebagai komisaris independen, didampingi Sukarta dan Elly Tjandra. Jumlah karyawan tetap per Juni 2025 ada 294 orang.

Bisnis utama HOKI memang jualan beras, tetapi struktur usahanya lebih lebar. Mereka punya anak usaha PT Hoki Distribusi Niaga yang mengurus distribusi beras khusus seperti beras jagung, beras singkong, beras merah, sampai sagu. Lalu ada PT Buyung Putra Energi yang menyewakan pembangkit listrik ke afiliasi, dan PT Hoki Investasi Sejati yang fokus pada aktivitas keuangan. Jadi secara grup mereka tidak hanya jualan beras, tapi juga mencoba diversifikasi ke energi dan investasi.

Di sisi pelanggan, jaringan distribusinya sangat luas, karena mereka punya kontrak dengan pemain retail besar seperti Indomaret, Alfamart, Carrefour, Hero, Super Indo, Alfamidi, Lotte Mart, sampai AEON. Sebagian besar kontrak bersifat perpanjangan otomatis atau sedang dalam proses negosiasi perpanjangan, jadi terlihat ada kepastian pasar jangka panjang. Vendor juga beragam, mulai dari pihak afiliasi seperti PT Buyung Putra Pangan, PT Astha Beras Perkasa, PT Koki Sehat Sejahtera, hingga pemasok eksternal seperti PT Nusa Berkat Alam.

Namun, cerita 2025 tidak seindah portofolio pelanggan yang kuat. Per Juni 2025, kinerja keuangan mereka terjun dibandingkan tahun lalu. Penjualan bersih turun dari Rp744,4 miliar di semester I 2024 menjadi Rp575,3 miliar di semester I 2025. Laba yang tadinya Rp15,2 miliar berbalik rugi Rp9,9 miliar. Lebih parah lagi, operasional inti mencatat rugi Rp7,9 miliar padahal tahun sebelumnya masih untung Rp13,3 miliar. Biaya penjualan membengkak ke Rp23,5 miliar dari Rp17,6 miliar, sedangkan beban bunga naik ke Rp11,9 miliar dari Rp9,9 miliar. Margin keuntungan praktis lenyap, dan inti bisnis jadi tidak lagi profitable.

Salah satu penyebab terbesar kerugian adalah segmen lain di luar jualan beras, yaitu investasi di surat berharga. Mereka menanggung rugi belum terealisasi Rp25,5 miliar dari portofolio surat berharga. Tahun lalu segmen ini malah memberi keuntungan, tetapi tahun ini jadi penyedot laba. Jadi wajar kalau banyak analis mempertanyakan kenapa sebuah emiten beras malah mengambil risiko volatilitas di pasar modal yang tidak nyambung dengan core business.

Hoki punya dua jenis investasi utama di luar bisnis berasnya. Pertama ada portofolio efek alias saham yang diperdagangkan di BEI dan dicatat sebagai aset keuangan FVTPL, artinya setiap naik turunnya harga saham langsung ngaruh ke laporan laba rugi. Kedua ada investasi pada entitas asosiasi, yaitu PT Koki Sehat Sejahtera dengan porsi kepemilikan 40% yang dicatat pakai metode ekuitas. Dua pos ini sama-sama tercatat di laporan keuangan konsolidasi dan memberi warna yang lumayan besar terhadap kinerja bottom line perusahaan.

Kalau dilihat dari portofolio efeknya per 30 Juni 2025, nilai wajarnya ada di Rp283,29 miliar, turun sekitar 7,60% dari posisi akhir 2024 yang masih Rp306,59 miliar. Penyebab utamanya karena saham-saham seperti Metrodata Electronics (MTDL) merosot Rp22,18 miliar, Multi Indocitra (MICE) minus Rp659 juta, Panin Financial (PNLF) minus Rp2,32 miliar, Paninvest (PNIN) minus Rp404 juta, sampai Adaro Andalan Indonesia (AADI) dan Adaro Resources (ADRO) juga turun masing-masing Rp78 juta dan Rp120 juta. Ada juga saham yang nambah nilai, misalnya Kedawung Setia Industrial (KDSI) naik Rp1,62 miliar dan Indopoly Swakarsa (IPOL) naik Rp1,49 miliar, tapi secara agregat tetap kalah dari saham yang minus.

Bahkan ada perpindahan kecil, seperti Asiaplast (APLI) turun Rp690 juta, sementara saham baru yang nongol adalah MREI dengan Rp79,5 juta, sedangkan ANJT justru keluar dari portofolio. Dari sisi dampak ke laporan laba rugi, selama semester I 2025 Hoki malah nyatet rugi belum direalisasi Rp25,64 miliar, berbanding terbalik dengan setahun penuh 2024 yang sempat untung belum direalisasi Rp11,13 miliar.

Untuk realisasi penjualan, cuma ada untung Rp105 juta sepanjang semester I 2025, jauh lebih kecil dibanding Rp3,96 miliar di semester I 2024. Untungnya, dividen yang diterima cukup lumayan, Rp10,39 miliar, naik 11,25% dibanding periode sama tahun lalu Rp9,34 miliar. Kontributor terbesar dividen jelas dari MTDL Rp7,34 miliar dan KDSI Rp2,99 miliar.

Sementara itu investasi Hoki di PT Koki Sehat Sejahtera (KSS) lebih stabil. Nilainya naik tipis 2,93% dari Rp11,88 miliar akhir 2024 jadi Rp12,23 miliar per Juni 2025. Dari situ Hoki berhasil mencatat bagi hasil laba Rp348,75 juta, melonjak 89,44% dibanding Rp184,09 juta di semester I 2024.

Secara proporsi, investasi di KSS memang kecil, baru 1,41% dari total aset konsolidasi, tapi arah pertumbuhannya positif dan cenderung konsisten, mengingat KSS bergerak di segmen beras sehat yang pasarnya masih berkembang. Dengan metode ekuitas, setiap kali KSS cetak laba, Hoki otomatis dapat tambahan catatan positif di laporan laba rugi konsolidasinya.

Kalau dua pos ini digabung ke dalam kategori Other Income (Expenses) Net, hasilnya justru bikin bengkak biaya. Semester I 2025 tercatat rugi bersih Rp1,77 miliar dari pos ini, berbalik arah dibanding semester I 2024 yang masih mencatat untung Rp2,61 miliar. Biang kerok utamanya jelas dari rugi belum direalisasi atas portofolio saham yang turun cukup tajam.

Jadi meskipun ada dividen Rp10,39 miliar dan laba asosiasi Rp349 juta, tetap saja nggak nutup kerugian nilai wajar Rp25,64 miliar. Singkatnya, pos investasi Hoki ini tahun 2025 lebih banyak memberi tekanan ke laba daripada jadi penyelamat, berbeda dengan tahun sebelumnya yang masih bisa jadi penambah pundi-pundi.

Dari sisi aset, totalnya juga menyusut lumayan dalam. Per Desember 2024 total aset Rp1,12 triliun, per Juni 2025 tinggal Rp865,7 miliar. Kas hanya Rp16,3 miliar, sementara surat berharga Rp283,3 miliar. Piutang bersih Rp72 miliar, persediaan Rp75,9 miliar, aset tetap Rp283,5 miliar, dan properti investasi Rp74,9 miliar. Terlihat portofolio surat berharga justru lebih besar dari kas, yang ironis karena nilainya fluktuatif dan sudah terbukti bikin rugi.

Liabilitas menyusut dari Rp476,3 miliar ke Rp236,6 miliar. Utang bank jangka pendek Rp150,2 miliar, utang usaha ke pihak afiliasi Rp20,5 miliar, utang dividen Rp9,6 miliar, dan utang bank jangka panjang Rp17,7 miliar. Posisi ini memang bikin rasio utang terhadap ekuitas membaik, dari 0,71x ke 0,35x. Current ratio juga naik ke 2,41x, di atas syarat minimum 1x. Dari sisi struktur neraca sebenarnya lebih sehat, tetapi masalahnya ada di interest coverage ratio yang rawan. Dengan EBITDA yang minus, kemampuan menutup bunga dengan laba operasional sangat tipis, meskipun secara covenant bank mereka masih dinyatakan lolos.

Menariknya, meski rugi di laporan laba rugi, arus kas operasi justru positif Rp227,7 miliar, naik dari Rp129,4 miliar tahun lalu. Ini terjadi karena perusahaan menekan persediaan dan menarik piutang, jadi kas masuk lebih besar. Tapi saldo kas di akhir Juni 2025 malah negatif Rp8,9 miliar akibat overdraft Rp25,2 miliar. Jadi meski kas operasional mengalir, tetap saja habis untuk bayar kewajiban jangka pendek dan aktivitas investasi. Capex pun ditekan, hanya Rp1,4 miliar dibandingkan Rp13,6 miliar tahun lalu.

Kalau dilihat lebih jauh, ada beberapa red flag lain. Pertama, beberapa kontrak distribusi tidak diperpanjang di 2024, artinya ada potensi kehilangan sebagian pasar. Kedua, merek dagang seperti Topikoki masa perlindungannya sudah habis di 2024-2025. Manajemen bilang bisa diperpanjang, tapi kalau gagal bisa jadi masalah serius untuk brand. Ketiga, ada pemeriksaan pajak lapangan di 2023 dan sengketa merek Warung Koki yang masih dalam proses banding. Keempat, kompensasi untuk direksi dan komisaris sebesar Rp2,1 miliar tetap berjalan meski perusahaan merugi, yang secara tata kelola bisa memicu kritik.

Di sisi lain, ada bukti perusahaan masih punya daya tahan. Arus kas operasi positif adalah indikator penting, karena berarti bisnis inti masih menghasilkan kas meskipun laba akuntansi negatif akibat depresiasi dan rugi unrealized. Struktur utang yang lebih ringan juga memberi ruang manuver. Jaringan pelanggan yang luas dan brand yang sudah dikenal seperti HOK-1, HOKAIRI, Daily Meal, dan Warung Koki tetap jadi modal kuat untuk rebound kalau bisa mengamankan kontrak jangka panjang. Bahkan para pemegang saham utama masih menjaminkan aset pribadi untuk menutup utang perusahaan, yang menunjukkan komitmen mereka.

Masalah utamanya jelas di keberlanjutan. Kalau penjualan tidak cepat dipulihkan dan biaya operasional tidak ditekan, arus kas positif bisa habis karena beban bunga dan investasi yang salah arah. Kalau ke depan mereka terus bermain di surat berharga dan bukannya memperkuat distribusi beras, risikonya makin besar. Modal kerja saat ini memang cukup aman, tetapi free cash flow bisa goyah kalau strategi manajemen tidak berubah.

Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Mau belajar cara pilih saham yang sehat & potensial secara teknikal dan fundamental? Mulai dari sini!

https://bit.ly/pintarsahamid

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Latest Post

Most Popular

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments