Pada Public Expose Live 2024 yang dilaksanakan pada 28 Agustus 2024, PT PP (Persero) Tbk memaparkan berbagai informasi terkait proyek yang sedang berjalan dan rencana strategis untuk masa depan. Acara ini dihadiri oleh 112 investor umum dan 28 media, menunjukkan antusiasme dan ketertarikan publik terhadap perkembangan perusahaan. Dalam sesi ini, manajemen menyoroti keterlibatan perusahaan dalam 13 proyek di Ibu Kota Negara (IKN) dengan nilai kontrak sebesar Rp 11,2 Triliun, termasuk proyek penting seperti Istana Presiden dan Istana Garuda yang masing-masing telah mencapai progres sebesar 93% dan 98%.Secara keseluruhan, terdapat 17 proyek di IKN dengan nilai kontrak total mencapai Rp 12,17 Triliun, dengan kontribusi proyek di IKN terhadap pendapatan semester I 2024 mencapai 46,7%
Terkait kinerja keuangan, PT PP (Persero) Tbk menargetkan pendapatan sebesar Rp 20,5 Triliun untuk tahun penuh 2024 dengan pertumbuhan laba bersih yang diharapkan antara 3-5% Selain itu, perusahaan juga menetapkan target kontrak baru senilai Rp 32 Triliun yang diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap pendapatan di tahun 2025 Strategi perusahaan untuk kembali ke bisnis inti atau “back to core business” dengan fokus pada konstruksi diharapkan dapat mengurangi tingkat leverage dan memperkuat struktur keuangan perusahaan. Upaya ini bertujuan untuk menarik lebih banyak investor dan meningkatkan kapasitas perusahaan untuk pertumbuhan yang berkelanjutan
Strategi perusahaan untuk kembali ke bisnis inti atau “back to core business” dengan fokus pada konstruksi diharapkan dapat mengurangi tingkat leverage dan memperkuat struktur keuangan perusahaan. Upaya ini bertujuan untuk menarik lebih banyak investor dan meningkatkan kapasitas perusahaan untuk pertumbuhan yang berkelanjutan. Divestasi ini juga bertujuan untuk memperbesar cakupan kapasitas perusahaan dan menarik investor yang lebih besar, yang diharapkan dapat mempercepat pemulihan kondisi keuangan perusahaan. Beberapa portofolio investasi dan anak usaha, seperti PP Infrastruktur dan PT Ultra Mandiri Telekomunikasi, juga sedang dalam proses divestasi sebagai bagian dari upaya perusahaan untuk menyelaraskan kembali investasi mereka.
Pengelolaan utang juga menjadi fokus penting dalam strategi keuangan PT PP (Persero) Tbk. Utang jangka pendek lebih banyak digunakan untuk modal kerja utama perusahaan, sedangkan utang jangka panjang difokuskan pada investasi Untuk mengurangi beban utang jangka panjang, perusahaan berencana melakukan refinancing dan asset recycling, serta dekonsolidasi dari beberapa anak perusahaan untuk memperkuat neraca keuangan mereka. Langkah-langkah ini diharapkan dapat mengurangi utang secara signifikan hingga tahun 2029, meskipun proses ini bisa menjadi tantangan jika tidak dikelola dengan baik.
Dalam hal proyek utama yang akan diselesaikan pada sisa tahun 2024, PT PP (Persero) Tbk menyoroti beberapa proyek besar seperti TLS dengan nilai kontrak Rp 2,2 Triliun, BI Karawang dengan nilai kontrak Rp 1,08 Triliun, dan Kantor PUPR Wing 2 IKN dengan nilai kontrak Rp 815 Miliar. Dalam hal proyek utama yang akan diselesaikan pada sisa tahun 2024, PT PP (Persero) Tbk menyoroti beberapa proyek besar seperti TLS dengan nilai kontrak Rp 2,2 Triliun, BI Karawang dengan nilai kontrak Rp 1,08 Triliun, dan Kantor PUPR Wing 2 IKN dengan nilai kontrak Rp 815 Miliar. Namun, tantangan utama tetap pada kemampuan perusahaan untuk mempercepat penyelesaian proyek tanpa mengorbankan kualitas dan efisiensi biaya.
Di tengah tahun politik 2024, perusahaan telah mengantisipasi dampak potensial dari Pileg, Pilpres, dan Pilkada dengan mengoptimalkan order book yang ada. Manajemen percaya bahwa dengan ukuran order book yang cukup besar, mereka dapat melakukan “burning” lebih cepat untuk mengamankan laba perusahaan, meskipun ada ketidakpastian dari kebijakan pemerintah yang baru. arget kontrak baru sebesar Rp 32 Triliun diharapkan cukup untuk mendukung pertumbuhan di tahun 2025, namun kemampuan untuk mencapai target ini sangat tergantung pada kondisi pasar dan politik yang stabil.
Untuk mendukung strategi pengembangan bisnis, PT PP (Persero) Tbk juga sedang mempertimbangkan penggabungan beberapa perusahaan di bawah Kementerian BUMN. Proses ini melibatkan kajian yang mendalam untuk menentukan waktu dan model holding yang paling sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan arahan Kementerian BUMN. Merger ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional dan sinergi antar anak perusahaan, meskipun juga membawa risiko integrasi dan restrukturisasi yang perlu dikelola dengan hati-hati.



