Kalau kita lihat laporan keuangan konsolidasian Diamond Food Indonesia (DMND) per Maret 2025, secara kasat mata terlihat cukup solid. Tapi kalau ditelaah satu per satu, ada beberapa hal penting yang perlu dicermati lebih dalam. Total aset perusahaan tercatat sebesar Rp7,86 triliun, naik 5,5% dibandingkan akhir 2024. Namun pertumbuhan aset ini tidak diiringi dengan peningkatan laba yang justru turun 21% menjadi Rp51,7 miliar.
Artinya, aset bertambah tetapi tidak berdampak signifikan terhadap profitabilitas. Aset terbesar adalah aset tetap senilai Rp3 triliun atau sekitar 38% dari total aset. Salah satu aspek penting adalah revaluasi nilai tanah sejak 2017, dari Rp358 miliar menjadi Rp1,2 triliun, menghasilkan surplus revaluasi sebesar Rp848 miliar yang langsung mempertebal ekuitas. Tanpa revaluasi ini, ekuitas DMND akan jauh lebih tipis.
Inventori atau persediaan barang juga masih besar, sekitar Rp1,92 triliun atau seperempat dari total aset. Namun di kuartal ini, inventori turun Rp233 miliar dan menjadi penyumbang utama kenaikan arus kas operasi hingga Rp303 miliar, padahal laba bersih tidak seberapa.
Artinya, kenaikan kas operasional lebih disebabkan pelepasan persediaan, bukan pertumbuhan laba. Sementara itu, piutang usaha naik menjadi Rp1,23 triliun, bertambah Rp110 miliar dibanding akhir 2024. Piutang macet yang berusia lebih dari 360 hari senilai Rp25,7 miliar, dengan cadangan kerugian penurunan nilai Rp23,9 miliar.
Masih aman secara rasio, namun tren piutang yang makin membesar tetap perlu dipantau. Yang agak mencurigakan adalah pos aset lancar lain-lain yang melonjak dari Rp219 miliar menjadi Rp831 miliar. Komponen utama terdiri dari uang muka dan pajak dibayar di muka, tapi tidak dijelaskan secara rinci. Kenaikan lebih dari 4 kali lipat ini cukup janggal bila tidak ada klarifikasi dari manajemen.
Dari sisi liabilitas, total utang DMND sebesar Rp1,6 triliun atau sekitar seperempat dari ekuitas. Komposisinya didominasi utang usaha senilai Rp1,3 triliun. Sekitar 17% dari total utang berbentuk valuta asing, mayoritas dalam USD, sehingga rentan terhadap fluktuasi nilai tukar. Kabar baiknya, perusahaan nyaris tidak memiliki utang berbunga dari bank, sehingga beban bunga hanya Rp521 juta, tergolong sangat ringan.
Meski demikian, terdapat jaminan atas aset seperti tanah Rp98 miliar, persediaan Rp497 miliar, dan piutang Rp399 miliar sebagai agunan untuk fasilitas bank, menandakan mereka masih memiliki ruang pinjaman jika dibutuhkan. Posisi kas dan deposito juga cukup sehat, masing-masing Rp554 miliar dan Rp417 miliar dengan tingkat bunga antara 5,5% hingga 6,4%.
Ekuitas perusahaan naik menjadi Rp6,25 triliun, didominasi oleh laba ditahan sebesar Rp3,7 triliun. Tidak ada aksi korporasi yang signifikan seperti right issue, dan cadangan wajib sudah ditetapkan sebesar Rp351 miliar. Hal ini menunjukkan pendekatan modal yang konservatif dan terjaga.
Namun, penting dicatat bahwa arus kas operasi positif lebih banyak berasal dari pelepasan persediaan dan pengelolaan piutang, bukan dari kenaikan laba bersih. Ini perlu menjadi perhatian di kuartal-kuartal berikutnya, apakah pola ini berkelanjutan atau justru merupakan indikasi tekanan likuiditas.
Dari sisi pendapatan, DMND membukukan penjualan Rp2,55 triliun pada Q1 2025, naik 5,2% dibanding periode sama tahun lalu. Namun margin kotor turun dari 21,3% menjadi 19,9% karena beban pokok meningkat, terutama dari barang jadi impor yang terdampak pelemahan rupiah.
Produk tanpa merek memberikan margin rendah, dan bahkan segmen produk bermerek ikut tertekan. Alhasil, meskipun revenue naik, laba justru menurun. Beban distribusi naik 9%, beban lain-lain cenderung stabil, dan laba operasi turun signifikan menjadi Rp53 miliar, anjlok 35%. Tidak ada pendapatan non-rutin seperti penjualan aset atau revaluasi, jadi laba ini bisa dianggap murni dari operasional.
COGS tercatat sekitar Rp2 triliun, dengan tekanan utama berasal dari pembelian barang jadi impor senilai Rp1,15 triliun. Hal ini membuat margin menyempit. Beban usaha (SGA) berada di Rp457 miliar atau sekitar 18% dari revenue dan relatif stabil.
Namun, perusahaan belum cukup transparan dalam rincian biaya iklan dan promosi. Di sisi lain, laba rugi lain-lain juga tidak menunjukkan kejutan besar, selisih kurs tercatat minus Rp574 juta, yang menunjukkan kerugian kecil dari sisi valas. Tidak ada transaksi one-off maupun akrobat akuntansi yang mencolok.
Jika melihat anak usaha, dua entitas utama adalah PT Sukanda Djaya (aset Rp5 triliun) dan Diamond Cold Storage (Rp2,5 triliun), keduanya masih berkontribusi terhadap laba. Anak usaha lainnya relatif kecil dan kurang signifikan. Investasi pada entitas asosiasi seperti PT NHF Diamond Indonesia mencatat rugi Rp3 miliar, namun nilai investasinya terlalu kecil untuk berdampak material.
Transaksi pihak berelasi juga masih dalam batas wajar. Pembelian bahan dari entitas berelasi senilai Rp69 miliar atau sekitar 2% dari COGS, dan utang kepada mereka sekitar Rp82 miliar atau 6% dari total liabilitas. Gaji manajemen kunci juga masih tergolong wajar, di bawah Rp9 miliar.
Tidak terdapat isu hukum yang mencolok. DMND memiliki lisensi merek dagang dari luar negeri dan tidak sedang menghadapi sengketa besar. Rasio utang terhadap modal berada di kisaran 25%, cukup sehat. Perusahaan juga membagikan dividen Rp7 per saham untuk tahun 2024, dengan payout ratio sekitar 30%, menandakan kepercayaan diri terhadap arus kas yang mereka miliki.
Dari sisi valuasi, per 1 Juli 2025, harga saham DMND adalah Rp525 per lembar. Dengan total saham sekitar 9,47 miliar, market cap-nya sekitar Rp4,97 triliun. PBV saat ini berada di level 0,8 kali, terlihat murah jika dibandingkan perusahaan sektor consumer goods lain yang rata-rata memiliki PBV 2 hingga 3 kali.
Tapi dari sisi PER, laba kuartalan Rp51,7 miliar setara dengan laba tahunan sekitar Rp207 miliar (jika konsisten), sehingga PER-nya mencapai 24 kali. Artinya, valuasi DMND cukup mahal jika pertumbuhannya hanya satu digit dan margin masih menurun. PBV yang rendah lebih disebabkan oleh surplus revaluasi tanah, bukan karena akumulasi laba atau kekuatan operasional.
Tantangan utama DMND adalah margin yang terus tertekan, kenaikan piutang dan uang muka yang belum disertai penjelasan detail, serta ketergantungan pada bahan impor yang menambah risiko nilai tukar. Namun, sisi positifnya adalah beban bunga yang rendah, posisi kas yang kuat, dan arus kas operasi yang saat ini masih positif.
Perbaikan bisa terjadi jika manajemen berhasil menurunkan beban impor dan mengembalikan margin ke atas 21%. Kalau tidak, saham ini berisiko menjadi jebakan valuasi. Investor sebaiknya memantau harga bahan baku utama seperti susu dan gula, pergerakan kurs rupiah, serta perkembangan piutang dan uang muka di laporan keuangan berikutnya. Jika margin bisa stabil dan likuiditas tetap terjaga, DMND berpotensi kembali menarik bagi investor jangka menengah.
Cari saham bagus tapi bingung mulai dari mana? Ini dia panduan yang kamu butuhkan.