Saturday, April 18, 2026
No menu items!
Google search engine
HomeInsightDRMA LK Q2 2025: Geng Triputra yang Sangat Bergantung pada ASII

DRMA LK Q2 2025: Geng Triputra yang Sangat Bergantung pada ASII

PT Dharma Polimetal Tbk adalah pemain mapan di industri komponen otomotif Indonesia yang berdiri sejak 1989 dan mulai beroperasi tahun 1990. Perusahaan ini resmi melantai di BEI pada Desember 2021 dengan harga IPO Rp500 per saham. Aktivitas usahanya mencakup pembuatan mur, baut, body kendaraan, sparepart motor dan mobil, hingga pipa besi baja. Pabrik tersebar di Cikarang, Cirebon, Bekasi, dan Tangerang, sementara kantor pusatnya ada di Delta Silicon, Cikarang. Jumlah karyawan per Juni 2025 sebanyak 2.067 orang, turun dari 2.233 di akhir 2024, yang bisa jadi refleksi efisiensi atau otomasi produksi.

Struktur kepemilikan dikuasai PT Dharma Inti Anugerah dengan 47,60% saham, lalu ada PT Triputra Investindo Arya 14,16%, Irianto Santoso 5,10%, Iwan Dewono 4,63%, dan Hadi Kasim 4,01%. Figur kunci Theodore P. Rachmat lewat keluarga dan entitasnya diwajibkan bank untuk tetap pegang minimal 51% kepemilikan. Dari sisi pengurus, susunan terbaru pasca RUPSLB 1 Juli 2025 menunjuk Hadi Kasim sebagai Presiden Komisaris, dengan jajaran komisaris lain Iwan Dewono Budiyuwono, Noel Aelyo Laras Kusuma Negara, serta komisaris independen Soekamto Tjahjonoadi dan Gatot Sudariyono.

Di posisi direksi, Irianto Santoso tetap menjabat Presiden Direktur, didampingi Yosaphat Panuturi Simanjuntak, Darmawan Widjaja, dan Immanuel Adi Pakaryanto. Ada perubahan penting ketika Prof. Dr. Didik Junaedi Rachbini resmi mundur sebagai Komisaris Independen sejak 21 April 2025 untuk fokus pada jabatan baru di BBNI, dan digantikan Noel Aelyo Laras Kusuma Negara. Perubahan ini menandai adanya pergeseran kecil tapi penting di jajaran pengawas perusahaan.

Profil dua tokoh utama juga cukup menarik. Irianto Santoso, Presiden Direktur, sudah memimpin DRMA sejak 2009. Ia lulusan Teknik Mesin Universitas Atma Jaya tahun 1985 dan melanjutkan S2 Manajemen di kampus yang sama pada 1995. Selain di DRMA, ia aktif sebagai Chairman Supervisory Board di Gabungan Industri Alat-Alat Mobil & Motor sejak 2014 dan President Commissioner di PT Sankei Dharma Indonesia sejak 2011. Kariernya menegaskan bahwa ia memang orang teknik yang paham manajemen, sehingga tahu betul seluk beluk operasional industri otomotif.

Sementara Hadi Kasim, Presiden Komisaris, lahir di Jakarta pada 14 Maret 1959. Ia punya pengalaman panjang di Triputra Group dan pernah menjadi Presiden Komisaris PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA Rent). Di Triputra Group, ia juga berperan penting sejak akhir 2000-an sebagai CEO, sehingga sosoknya identik dengan kepemimpinan strategis di level grup. Keterlibatannya di DRMA mempertegas peran Triputra Group sebagai pengendali utama sekaligus pengarah arah besar perusahaan.

Secara kinerja, DRMA masih konsisten cetak laba. Semester I 2025, laba bersih Rp245,4 miliar, naik tipis dari Rp242 miliar tahun lalu. Gross profit naik ke Rp452,5 miliar, laba operasi Rp320 miliar, dan EPS ikut naik ke Rp51 per saham. Semua itu mayoritas hasil dari recurring sales, bukan faktor non-recurring. Tambahan dari penjualan scrap Rp20,3 miliar dan gain kecil Rp16 juta dari jual aset hanya pelengkap.

Jadi core bisnisnya kuat dan berulang. Yang menarik, arus kas operasional bahkan lebih besar dari laba, Rp354,6 miliar vs Rp245,4 miliar, menandakan kualitas laba bagus. Kas akhir periode Rp419 miliar, naik Rp17,3 miliar dibanding akhir 2024. Capex Rp72,9 miliar lebih rendah dari tahun lalu, artinya investasi besar mungkin sudah rampung. Beban operasional Rp181,3 miliar masih proporsional dibanding gross profit.

Dari sisi aset, total Rp3,85 triliun dengan porsi besar di aset lancar Rp1,8 triliun dan PPE Rp1,67 triliun. Liabilitas Rp1,35 triliun, sehingga gearing ratio 31%, sedikit turun dari 32% di akhir 2024, artinya leverage terkendali. Semua covenant kredit bank masih dipatuhi, dengan jaminan berupa tanah, bangunan, mesin, dan piutang. Jadi meski ada ikatan ketat, posisi keuangan masih aman.

Kontrak bisnis dengan pelanggan besar menjadi tulang punggung, misalnya AHM hingga 2028, Toyota hingga 15 tahun setelah model dihentikan, serta dengan Daihatsu, Hyundai, Astra Otoparts, dan Epson. Kontrak ketat ini bisa jadi kekuatan sekaligus risiko karena konsentrasi pelanggan tinggi. Contoh, AHM sendiri sumbang lebih dari 10% penjualan, Rp1,5 triliun dari Rp2,7 triliun semester I 2025. Selain itu, transaksi pihak berelasi masih signifikan, karyawan berkurang, dan ada anak usaha kecil yang dilikuidasi. Risiko kurs juga nyata karena ada utang dan transaksi USD, JPY, CNY.

DRMA ini mengandalkan jaringan pemasok yang luas untuk mendukung bisnis komponen otomotif dan metalworking mereka. Sampai 30 Juni 2025, utang usaha ke pihak ketiga mencapai Rp595,28 miliar, ditambah utang non-trade Rp41,22 miliar, jadi total kewajiban ke vendor ini tidak bisa dianggap kecil. Angka ini langsung nyambung ke laporan laba rugi karena belanja bahan baku saja sudah tembus Rp1,79 triliun dalam 6 bulan pertama 2025, yang bikin COGS mereka membengkak Rp2,32 triliun. Jadi, vendor jelas jadi tulang punggung biaya operasional.

Kalau diurutkan, top vendor trade paling besar antara lain PT Ewindo dengan saldo utang Rp44,13 miliar, naik drastis dari Rp26,26 miliar di akhir 2024. PT Indowire Prima Industrindo juga konsisten, dari Rp37,31 miliar naik ke Rp37,75 miliar, sementara PT Indonesia Steel Tube Works juga ikut naik dari Rp34,22 miliar ke Rp37,52 miliar. Sebaliknya, beberapa vendor malah turun, misalnya PT Posco IJPC yang turun dari Rp24,61 miliar jadi Rp19,79 miliar, atau PT Lotte Chemical yang turun dari Rp21,67 miliar ke Rp20,03 miliar. Ada yang lebih ekstrem seperti PT Harrosa Darma Nusantara yang utangnya habis, dari Rp3,43 miliar jadi nol. Ini menunjukkan pola belanja bahan baku mereka bisa bergeser antar vendor.

Vendor non-trade, yang lebih banyak kasih jasa penunjang seperti peralatan atau renovasi, relatif kecil porsinya. Paling besar hanya Rp2,57 miliar ke PT Andhika Mitra Teknik, lalu ada Rp863 juta ke PT Ervan Prima Abadi, dan Rp377 juta ke PT Unggul Semesta. Total utang non-trade ini malah turun dari Rp54,98 miliar di akhir 2024 ke Rp41,22 miliar pertengahan 2025. Jadi, dibanding vendor bahan baku, kontribusi non-trade jelas tidak terlalu signifikan.

Kalau ditarik ke cashflow, pembayaran ke pemasok menyedot kas Rp1,96 triliun dalam 6 bulan pertama 2025, sementara beban bunga dari pinjaman bank mencapai Rp16,58 miliar. Bank sendiri, seperti BCA, CIMB Niaga, dan Danamon, masuk kategori vendor finansial karena mereka jadi sumber pendanaan. Pinjaman jangka pendek dan panjang dengan bunga 7,25%-7,95% jelas bikin beban tambahan di sisi keuangan, meskipun dibungkus dengan covenant ketat seperti rasio DSCR, debt to equity, sampai aturan dividen dan perubahan manajemen.

Menariknya, perusahaan menekankan kalau tidak ada satu pun vendor yang kontribusinya lebih dari 10% dari total pembelian. Ini artinya strategi mereka memang diversifikasi, supaya tidak kebergantungan ke satu pemasok. Dengan kata lain, kalau tiba-tiba ada masalah supply dari satu vendor besar, dampaknya masih bisa ditahan karena distribusinya cukup merata. Jadi, vendor bagi Dharma Polimetal bukan sekadar penyedia barang, tapi cerminan dari bagaimana perusahaan ini menjaga stabilitas rantai pasok, mengelola kewajiban, dan menekan risiko operasional.

Pelanggan utamanya didominasi raksasa otomotif seperti PT Astra Honda Motor (AHM), PT Astra Daihatsu Motor, Hyundai, Toyota, Yamaha, Suzuki, sampai Honda Prospect Motor. Dari sekian banyak, AHM jadi raja karena kontribusinya luar biasa besar, bahkan penjualannya tembus Rp1,50 triliun hanya dalam 6 bulan pertama 2025. Angka ini sendirian sudah lebih dari 10% dari total penjualan bersih perusahaan yang mencapai Rp2,77 triliun. Jadi wajar kalau AHM bukan hanya sekadar pelanggan, tapi jadi tulang punggung revenue Dharma Polimetal.

Dari sisi piutang, AHM juga paling dominan dengan saldo Rp349,11 miliar per Juni 2025, meski turun dari Rp390,86 miliar di akhir 2024. Penurunan ini malah positif karena berarti pembayaran mereka lancar. Bandingkan dengan Astra Daihatsu Motor yang piutangnya turun dari Rp60,78 miliar jadi Rp50,13 miliar, sementara Hyundai justru naik tipis dari Rp20,33 miliar jadi Rp21,49 miliar.

Suzuki menarik karena piutangnya melonjak dari Rp7,13 miliar ke Rp12,20 miliar, begitu juga PT Imamo Rajawali yang naik dari Rp2,82 miliar ke Rp5,53 miliar. Ada juga pemain baru seperti PT Badan Kaisan Karya Muda dan PT Suzuki Indomobil Motor yang muncul di daftar setoran pelanggan pada Juni 2025 padahal Desember lalu masih nol.

Menariknya, Dharma Polimetal juga punya hubungan dengan pihak berelasi. PT Dharma Kyungshin Indonesia menyumbang penjualan Rp72,30 miliar di paruh pertama 2025, padahal tahun lalu masih nol. Sebaliknya, PT Sankei Dharma Indonesia turun dari Rp645,90 juta di 2024 jadi Rp355,03 juta di 2025. Jadi jelas ada pergeseran kontribusi antar entitas afiliasi. Selain itu, perusahaan mencatat uang muka pelanggan Rp41,44 miliar per Juni 2025, sedikit turun dari Rp42,64 miliar di akhir 2024. Penurunan uang muka ini bisa berarti pesanan baru lebih sedikit atau pembeli mulai bayar dengan skema normal tanpa down payment.

Kalau ditarik ke laporan keuangan, pelanggan ini langsung nendang di banyak akun. Piutang usaha total Rp717,63 miliar jadi aset lancar terbesar yang bersumber dari penjualan kredit. Penerimaan kas dari pelanggan tembus Rp2,83 triliun, bahkan lebih tinggi dari penjualan bersih Rp2,77 triliun, artinya koleksi kas mereka cukup cepat dan efisien. Tidak ada pencadangan kerugian piutang yang dibentuk karena manajemen yakin semua pelanggan high grade atau setidaknya standar grade yang bisa ditagih. Jadi dari sisi kas, pelanggan ini justru memperkuat likuiditas perusahaan.

Kalau bicara kontrak, hampir semua pelanggan besar diikat dengan fixed price agreement jangka panjang. Contohnya AHM punya kontrak yang diperpanjang sampai 2028, dengan aturan ketat kalau kualitas barang tidak sesuai atau kalau jigs dan dies yang dititipkan rusak, perusahaan wajib ganti rugi. Bahkan kalau pengiriman telat, AHM bebas alihkan order ke pemasok lain tanpa kompensasi. Begitu juga Daihatsu, Toyota, Hyundai, hingga Yamaha, semua kasih syarat ketat soal kualitas dan ketepatan waktu. Jadi meskipun ada kepastian permintaan, risiko penalti ini bikin Dharma Polimetal harus disiplin dalam produksi.

Kalau dilihat secara tren, penjualan bersih naik dari Rp2,56 triliun di paruh pertama 2024 ke Rp2,77 triliun di 2025, alias tumbuh. Piutang usaha justru turun dari Rp774,31 miliar di akhir 2024 ke Rp717,63 miliar di Juni 2025, yang menandakan koleksi pembayaran makin lancar. Hanya saja, beberapa pelanggan besar seperti AHM dan Daihatsu terlihat menekan piutangnya, sementara pelanggan menengah macam Suzuki dan Imamo Rajawali justru naik kontribusinya. Artinya, struktur pelanggan agak bergeser, walaupun dominasi AHM tetap tak tergoyahkan. Jadi kalau ditanya siapa yang paling menentukan hidup matinya Dharma Polimetal, jawabannya ya jelas AHM, dengan sumbangan revenue yang terlalu besar dibanding yang lain.

DRMA ini lagi serius berinvestasi untuk memperbesar kapasitas produksi. Ada aset dalam pembangunan senilai Rp26,75 miliar, turun dari Rp39,41 miliar di akhir 2024. Penurunan ini biasanya tanda ada proyek yang sudah selesai dan direklasifikasi ke kategori aset tetap. Dari rincian progres, bangunan dan prasarana sudah 32% rampung dan ditarget selesai antara September 2025 sampai Maret 2026, sementara mesin dan peralatan bervariasi antara 5% sampai 75% dengan target rampung Desember 2025 sampai Maret 2026. Jadi roadmap-nya lumayan padat untuk 1 tahun ke depan.

Investasi ini tentu tidak lepas dari kontrak dengan bank. Anak usaha PT Dharma Electrindo Manufacturing menjaminkan tanah, bangunan, piutang, mesin, dan persediaan ke BCA untuk modal kerja. Lalu ada PT Dharma Poliplast yang dapat fasilitas kredit dari Bank Danamon, salah satunya Kab 5 senilai Rp17 miliar khusus buat beli mesin dan peralatan pendukung produksi proyek K1AL, sedangkan Kab 6 dipakai buat refinancing mesin produksi. Kontrak pinjaman model begini biasanya disertai covenant ketat, seperti DSCR, Debt to Equity, sampai Current Ratio, ditambah larangan bagi dividen atau perubahan manajemen tanpa izin bank. Jadi investasi fixed assets memang erat kaitannya dengan disiplin finansial.

Kalau ditarik ke angka capex, dalam 6 bulan pertama 2025 perusahaan keluar biaya Rp139,64 miliar untuk belanja aset tetap. Rinciannya Rp124,04 miliar buat pembelian aset, Rp15,60 miliar untuk pembangunan aset, ditambah transaksi non-kas seperti pembelian lewat utang non-trade Rp7,11 miliar dan dari uang muka aset tetap Rp73,80 miliar. Jadi komitmen capex ini lumayan besar, artinya memang ada arah ekspansi nyata.

Sementara itu, opex yang terkait fixed assets juga kelihatan jelas. Beban depresiasi saja Rp140,80 miliar, mayoritas masuk ke COGS Rp129,75 miliar, sisanya Rp11,05 miliar ke G&A. Ditambah biaya perawatan Rp34,36 miliar, listrik dan air Rp25,22 miliar, bahan bakar Rp4,11 miliar, dan gaji pegawai yang memang ikut membengkak. Artinya mesin dan bangunan bukan hanya investasi, tapi juga sumber biaya operasional rutin.

Dari sisi prospek, investasi ini logis karena core bisnis Dharma Polimetal adalah manufaktur komponen otomotif dan metal. Tambahan kapasitas dan mesin modern bisa bikin produksi lebih banyak, lebih efisien, sekaligus membuka ruang untuk bikin produk baru. Proyek spesifik seperti K1AL jelas ditargetkan untuk memperkuat lini produksi dengan pembiayaan khusus dari bank.

Ditambah fakta kalau pelanggan besar macam Astra Honda Motor sudah menyumbang penjualan Rp1,50 triliun dalam 6 bulan pertama 2025, maka masuk akal kalau perusahaan butuh investasi supaya bisa memenuhi permintaan sekaligus jaga hubungan dengan klien besar. Diversifikasi vendor yang tidak ada satupun di atas 10% dari total pembelian juga bikin rantai pasok lebih aman, jadi supply bahan baku tidak gampang terganggu.

Jadi secara sederhana, fixed assets dalam pembangunan ini adalah pondasi buat revenue di masa depan. Caranya dengan naikin volume produksi, turunin biaya per unit lewat efisiensi, dan nambah produk baru. Alasannya karena tanpa ekspansi, perusahaan bisa ketinggalan di industri komponen otomotif yang kompetitif. Dengan proyek berjalan sampai 2026, bisa dibilang Dharma Polimetal lagi tanam modal besar-besaran supaya siap menggarap demand otomotif yang terus tumbuh.

Kalau dilihat dari sumber yang ada, indikasi keterlibatan PT Dharma Polimetal Tbk dengan sektor kendaraan listrik memang muncul, tapi masih sebatas transaksi uang muka pelanggan. Nama yang muncul adalah PT Kendaraan Listrik Nusantara alias MAKA Motors, perusahaan motor listrik lokal yang baru berdiri 2022 dengan produk andalan MAKA Cavalry. Dalam laporan keuangan Dharma Polimetal, pada 31 Desember 2024 ada uang muka Rp2,35 miliar dari Kendaraan Listrik Nusantara, yang secara akuntansi dicatat sebagai liabilitas karena barang/jasa belum diserahkan. Namun per 30 Juni 2025 saldo ini sudah nihil, artinya transaksi tersebut sudah selesai atau dibatalkan.

Peran Kendaraan Listrik Nusantara di sini adalah sebagai pelanggan pihak ketiga yang memberi komitmen awal melalui uang muka. Besar kemungkinan Dharma Polimetal memang terlibat dalam suplai komponen atau jasa pendukung terkait proyek motor listrik mereka, meski jenis part, nilai kontrak, maupun cakupannya tidak dijelaskan detail. Dari sisi laporan keuangan, kontribusinya relatif kecil dibanding total penjualan Dharma Polimetal Rp2,77 triliun di semester I 2025, tapi secara strategis cukup menarik karena menunjukkan exposure awal Dharma Polimetal ke industri EV.

Dari sisi pertumbuhan, saldo uang muka yang turun dari Rp2,35 miliar jadi nol dalam 6 bulan pertama 2025 menandakan transaksi itu sifatnya sekali jalan, bukan proyek berulang. Bisa jadi barang sudah dikirim sesuai kontrak, bisa juga order dibatalkan. Jadi, kalau mau ditarik kesimpulan, Dharma Polimetal sudah sempat masuk ke ekosistem kendaraan listrik melalui MAKA Motors, tapi belum ada bukti keterlibatan besar atau kontrak jangka panjang. Ini lebih tepat dibaca sebagai uji coba atau pijakan awal, bukan sebagai transformasi bisnis yang signifikan.

Kalau dilihat lebih dekat, PT Dharma Polimetal Tbk memang punya jaringan bisnis yang cukup kompleks, tersebar di berbagai lokasi pabrik, anak usaha, sampai segmen produk yang mereka layani. Pabrik utama ada di Cikarang, tepatnya di Jl. Angsana Raya A9 No. 8, Delta Silicon, Desa Sukaresmi, Cikarang Selatan, ditambah satu lagi di Cirebon di Jl. Wadas Blok Simaja, Plumbon. Dari sana, anak-anak usahanya juga tersebar, mayoritas di Cikarang, dengan beberapa di Cirebon dan Tangerang.

Misalnya PT Dharma Electrindo Manufacturing punya pabrik di Cikarang dan Cirebon, PT Dharma Poliplast punya dua plant di Lippo Cikarang dan Tangerang, sementara PT Dharma Precision Tools dan PT Dharma Precision Parts sama-sama beroperasi di kawasan industri Bekasi International Industrial Estate. Ada juga yang khusus memproduksi kabel kontrol motor, seperti PT Dharma Controlcable Indonesia, lalu PT Trimitra Chitrahasta, PT Saikono Otoparts Indonesia, bahkan PT Dharma Energy Resources yang fokus ke logistik (masih belum operasional penuh). Uniknya, ada juga PT Taiyoarya Nugraha di Balaraja yang dulunya main di produk safety box, tapi sekarang malah masuk proses likuidasi.

Kalau bicara segmen, laporan keuangannya dibagi tiga besar. Segmen roda dua jadi yang paling dominan, dengan pendapatan eksternal Rp1,73 triliun hanya di semester pertama 2025. Segmen roda empat menyumbang Rp622,25 miliar, dan segmen lain-lain Rp417,79 miliar. Jadi kontribusi utamanya memang masih di roda dua, yang porsinya lebih dari separuh total penjualan Rp2,77 triliun.

Bandingkan dengan periode sama 2024, penjualan total Rp2,56 triliun, artinya ada pertumbuhan top line sekitar Rp218 miliar. Gross profit juga naik tipis dari Rp448,06 miliar ke Rp452,55 miliar, laba bersih naik dari Rp242,02 miliar ke Rp245,41 miliar, dan arus kas operasi membaik dari Rp314,93 miliar ke Rp354,64 miliar. Jadi secara tren, meskipun margin tidak melonjak tinggi, arah pertumbuhan tetap positif.

Yang bikin menarik, pertumbuhan ini sangat bergantung pada satu pelanggan besar. PT Astra Honda Motor sendirian menyumbang Rp1,50 triliun, alias 54,1% dari total penjualan. Jadi kalau AHM tiba-tiba cabut kontrak, dampaknya bisa guncang banget. Pertama, revenue langsung anjlok setengah lebih, bikin gross profit Rp452,55 miliar di semester I 2025 bisa tergerus drastis.

Kedua, fixed cost seperti depresiasi Rp140,80 miliar, biaya perawatan, dan overhead lainnya tetap jalan, sehingga profit operasional dan laba bersih bisa longsor. Ketiga, covenant bank juga bisa jebol. Pinjaman dari BCA, Danamon, CIMB, dan lainnya pasti ada syarat DSCR, debt to equity, sampai current ratio. Begitu cash flow operasi turun karena hilangnya setoran kas dari AHM, ada risiko default atau cross-default, yang bisa bikin utang ditarik balik atau akses pembiayaan baru makin susah.

Dari sisi cash flow, penerimaan kas dari pelanggan Rp2,83 triliun di semester I 2025, sementara pengeluaran ke pemasok Rp1,96 triliun. Kalau kontribusi AHM hilang, otomatis arus kas operasi bisa tekor, perusahaan berisiko kesulitan bayar vendor dan gaji karyawan. Lebih parah lagi, inventory yang disiapkan khusus buat AHM bisa jadi usang, bahkan berpotensi impairment. Aset tetap berupa mesin dan pabrik yang sudah terlanjur dipakai buat produksi komponen AHM bisa idle, memicu penurunan nilai. Jadi dampaknya bukan cuma di P&L, tapi juga neraca dan arus kas.

Peta lokasi pabrik dan anak usaha Dharma Polimetal memang tersebar dan segmennya lumayan beragam, tapi secara realita, mesin utama penggerak bisnis masih roda dua dengan AHM sebagai pelanggan kunci. Pertumbuhan dari 2024 ke 2025 memang positif, tapi ketergantungan berlebihan pada satu entitas bikin risiko konsentrasi sangat tinggi. Kalau AHM masih setia, bisnis akan terus stabil. Tapi kalau tiba-tiba kontrak diputus, itu bisa jadi pukulan telak yang berimbas ke revenue, profit, cash flow, covenant bank, sampai aset fisik yang harus ditulis turun nilainya.

PT Dharma Polimetal Tbk menunjukkan profil perusahaan sehat dengan laba yang sustainable, arus kas kuat, utang aman, serta kepemimpinan yang berpengalaman. Dengan Irianto Santoso yang punya kombinasi latar belakang teknik dan manajemen di level CEO, ditambah Hadi Kasim dengan pengalaman panjang di Triputra Group sebagai Presiden Komisaris, DRMA berada di bawah kendali orang-orang yang matang di industri. Meski ada tantangan dari konsentrasi pelanggan, covenant pinjaman ketat, dan eksposur kurs, disiplin manajemen risiko serta relasi jangka panjang dengan pelanggan besar masih jadi modal utama untuk survive dan tumbuh.

Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan! https://bit.ly/pintarsahamid

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Latest Post

Most Popular

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments