Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomePengumuman EmitenDMAS Kas Gede Tapi Tetap Ambil Utang Bank

DMAS Kas Gede Tapi Tetap Ambil Utang Bank

DMAS ini ibarat orang kaya yang tinggal di rumah mewah, punya tabungan miliaran, tapi tetap ngutang ke bank. Per 31 Desember 2024, mereka punya utang berbunga Rp 500 miliar dari fasilitas kredit agunan surat berharga di Bank Mandiri.

Lucunya, pinjaman ini dijamin pakai bilyet deposito senilai sama, jadi kayak minjam duit sendiri tapi tetap bayar bunga. Suku bunga pinjamannya cuma 0,5% di atas suku bunga deposito, yang waktu itu ada di rentang 2,50% – 5,25% per tahun, jadi total bunga pinjaman mereka sekitar 3,00% – 5,75% per tahun. Gak gede sih, tapi tetap aja bikin penasaran: ngapain utang kalau duitnya banyak? Bagi dividen? Goreng saham? Buyback?

DMAS ini bukan bokek, mereka pegang kas Rp 1,759 triliun yang tersebar di berbagai bank. Cuma cara mereka menyebar dananya agak menarik. Kas di bank saja sudah Rp 1,645 triliun, dengan distribusi yang cukup acak-acakan. BTN jadi favorit mereka, dapat simpanan Rp 690 miliar, lalu Bank Bukopin Rp 300 miliar, Bank BJB Rp 250 miliar, Bank Agro Rp 200 miliar, OCBC NISP Rp 130 miliar, dan Bank Mega Rp 75 miliar.

Kalau ditotal, hampir semua duitnya disimpan di bank-bank lokal. Selain itu, mereka juga punya kas mata uang asing Rp 24,24 miliar di OCBC NISP dan Rp 9,25 miliar di BTMU—lumayan buat jaga-jaga kalau tiba-tiba perlu transaksi internasional. Bagian paling menarik ada di deposito berjangka. Mereka naruh Rp 501,57 miliar di Bank Mandiri, yang kebetulan juga pemberi pinjaman mereka.

Jadi bisa dibilang ini semacam barter halus: bank kasih pinjaman, tapi DMAS juga nabung di situ. Selain itu, mereka punya dana di CIMB Niaga (Rp 3,83 miliar), Bank Permata (Rp 1,75 miliar), dan yang paling absurd, Maybank Indonesia Rp 61 juta. Rp 61 juta? Buat apa? Beli kopi tiap bulan? Gak jelas juga. Jadi, kalau duitnya banyak, kenapa tetap utang? DMAS sebenarnya cuma main strategi ala perusahaan besar.

Mereka punya fasilitas term loan Rp 1,5 triliun dari Bank Mandiri yang bisa mereka tarik kapan saja selama 5 tahun, tapi sampai akhir 2024, belum satu rupiah pun mereka tarik. Kalau butuh, tinggal gesek, kalau gak butuh, ya dibiarkan saja. Strategi ini bukan asal-asalan, ada logikanya. Dengan fasilitas pinjaman ini, mereka bisa operasi tanpa tekanan bunga. Kalau butuh ekspansi atau cash flow mepet, tinggal tarik.

Kalau gak, ya biarin. Selain itu, mereka juga bisa memanfaatkan suku bunga deposito. Dengan menaruh duit di deposito 2,50% – 5,25% per tahun, mereka dapat passive income. Sementara bunga pinjamannya hanya 0,5% lebih tinggi dari bunga deposito. Artinya, mereka bisa ambil pinjaman tanpa rugi banyak. Malah bisa dibilang dapet cashback dari bank sendiri.

Strategi ini juga menjaga hubungan dengan bank. Bank suka kasih kredit ke perusahaan yang sehat, dan DMAS dengan kas Rp 1,759 triliun jelas bikin bank nyaman. Jadi kalau nanti mereka butuh dana besar buat ekspansi kawasan industri, mereka bisa langsung tarik tanpa perlu lobi-lobi ribet. Selain itu, utang Rp 500 miliar yang mereka ambil cuma buat operasional, bukan buat proyek masif.

Jadi mereka gak buru-buru tarik Rp 1,5 triliun sampai ada sesuatu yang benar-benar worth it. Kalau mereka narik semua Rp 1,5 triliun, otomatis beban bunga bakal lebih besar. Dengan gak buru-buru, mereka bisa tetap pegang kendali atas keuangan tanpa harus bayar bunga lebih dari yang perlu. Strategi ini mirip dengan apa yang dilakukan perusahaan raksasa dunia.

Apple, Microsoft, Tesla, Amazon, dan bahkan Warren Buffett pakai trik yang sama. Apple punya kas ratusan miliar dolar, tapi tetap utang buat buyback saham dan bayar dividen. Microsoft simpan kas tapi tetap utang buat efisiensi pajak. Warren Buffett pakai dana dari asuransi (float) yang bisa dia akses kapan saja tanpa buru-buru dipakai.

Tesla dulu sering ngutang buat survive, tapi setelah profit mereka tetap pegang credit line tanpa buru-buru narik dana. Amazon tahan pembayaran ke supplier, tapi langsung tagih pembayaran dari customer buat bikin arus kas tetap positif. Jadi, meskipun DMAS bukan Apple atau Microsoft, mereka pakai strategi ala big player dunia. Bedanya, kalau Apple pakai buat buyback saham,

DMAS pakai buat jaga-jaga di sektor properti. Intinya, mereka bisa main aman tanpa kehilangan fleksibilitas. DMAS bukan gak bisa bayar utang, mereka cuma gak mau buru-buru. Biar cash flow tetap lancar, beban bunga rendah, dan tetap punya senjata keuangan kalau nanti ada peluang besar. Bisa dibilang, mereka kaya, pelit, dan cerdas dalam waktu bersamaan.

Tapi apa gunanya kas gede + laba besar + laba naik tapi harga saham nyungsep + ndak ada dividend + ndak ada buyback?

Ingin selangkah lebih maju dalam investasi? 🚀 Jadi Priority Member di PintarSaham dan dapatkan akses eksklusif ke analisis premium, rekomendasi terbaik, serta strategi investasi yang tidak dibagikan ke publik!

Jangan lewatkan kesempatan ini—klik link berikut sekarang dan raih keuntungan lebih maksimal! 👉https://bit.ly/PriorityMemberships

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here