PT Distribusi Voucher Nusantara Tbk atau DIVA adalah perusahaan yang lahir tahun 2003, bertransformasi ke bisnis distribusi produk digital, solusi pembayaran, dan platform O2O, lalu IPO di 2018 dengan harga Rp2.950 per saham. Induknya PT 1 Inti Dot Com, sedangkan pemegang saham besar lain adalah PT Asuransi Jiwa Kresna 32,49%, PT Soteria Wicaksana Investama 17,90%, Martin Suharlie 8,33%, dan publik 19,85%. Komisaris dipimpin Stanley Tjiandra, direksi oleh Raymond Loho. Jumlah karyawan tetap turun dari 95 orang menjadi 76 orang di pertengahan 2025, sinyal efisiensi atau penyusutan skala operasi.
Kinerja paruh pertama 2025 bikin kejutan. DIVA membalik kerugian Rp245,59 miliar jadi laba Rp22,38 miliar. Laba usaha naik 69% ke Rp10,71 miliar, laba kotor naik 15,18% ke Rp82,22 miliar, dan laba per saham dasar berbalik dari minus Rp176,51 ke Rp12,18. Tapi lebih dari 51% laba bersih itu datang dari pos keuntungan investasi lainnya sebesar Rp11,43 miliar.
Tahun sebelumnya pos ini justru mencatat rugi Rp246,85 miliar. Jadi kontribusinya ke laba neto sangat besar, sekitar 51,05%. Artinya, selain operasional inti yang membaik, DIVA sangat terbantu oleh rebound nilai pasar investasinya. Masalahnya, ini bukan recurring, sifatnya unrealized profit yang bergantung pada pergerakan harga saham.
Detail investasinya lumayan berwarna. Investasi lainnya berupa saham pihak berelasi seperti PT M Cash Integrasi, PT Telefast Indonesia, PT NFC Indonesia, PT Digital Mediatama Maxima, bahkan ada porsi di PT Bank Central Asia. Dari sinilah muncul keuntungan Rp11,43 miliar semester I 2025. DIVA juga punya obligasi konversi dengan PT Qerja Manfaat Bangsa senilai Rp68 miliar yang awalnya jatuh tempo Maret 2025 tapi diperpanjang sampai Desember 2026 dengan bunga 3,5%.
Lalu ada investasi saham di PT Red Bean Sukses Indonesia (1,44%), PT Jurnal Digital Indonesia (18%), PT Anugerah Wicaksana Digital (8,25%), dan Bahasalab Automation Pte Ltd (9,43%). Namun, untuk RBSI dan JDI manajemen sudah mencadangkan 100% karena usaha tidak sesuai harapan. Ini menunjukkan tidak semua investasi menghasilkan, bahkan sebagian jadi beban kualitas aset.
Dari sisi operasional, revenue justru menurun hampir 20% jadi Rp1,75 triliun, turun dari Rp2,18 triliun. Penurunan ini terjadi di semua segmen, dari produk digital sampai jasa keuangan dan pariwisata. Beban pokok turun lebih dalam 20,97% sehingga margin kotor naik. Pelanggan besar seperti PT Anugerah Wicaksana Digital menyumbang Rp177,10 miliar atau di atas 10% dari penjualan. Pemasok besar tetap operator telekomunikasi seperti XL Axiata, Telkomsel, dan Indosat. Jadi bisnis inti berjalan, tapi top line sedang tertekan.
Neraca menunjukkan total aset turun jadi Rp732,63 miliar, kas anjlok dari Rp79,36 miliar ke Rp37,83 miliar, piutang naik ke Rp177,45 miliar dengan Rp163,59 miliar dari pihak berelasi yang rawan macet, persediaan turun ke Rp130,78 miliar. Total liabilitas tinggal Rp55,85 miliar, dengan utang bank jangka pendek tersisa Rp8,18 miliar. Debt to equity negatif menandakan kas lebih besar daripada utang berbunga, tapi masalah muncul karena perusahaan induk gagal penuhi kovenan Bank Permata. Ini red flag yang bisa memicu krisis likuiditas jika bank bertindak tegas.
Cashflow operasi jadi kabar baik, berbalik positif Rp26,49 miliar dari sebelumnya minus Rp45,88 miliar. Aktivitas investasi neto keluar Rp0,23 miliar, kecil saja. Aktivitas pendanaan justru outflow Rp67,79 miliar karena pelunasan utang Rp64,12 miliar, membuat kas bersih turun Rp41,53 miliar. Jadi secara fundamental, bisnis inti menghasilkan kas tapi saldo kas total tergerus oleh strategi degearing.
Dari sisi modal kerja, ada masalah. Arus kas dari pelanggan turun dari Rp2,21 triliun ke Rp1,73 triliun. DSO naik dari 12,7 hari ke 18,5 hari, artinya nagih piutang makin lama. DIO stabil di 14,3 hari, DPO naik tipis jadi 1,7 hari. Cash conversion cycle melebar dari 25,9 hari ke 31,1 hari. Jadi efisiensi modal kerja menurun, uang lebih lama terikat di piutang dan persediaan.
Kontrak dan kemitraan bisnis masih luas, mulai dari Telkomsel, Finnet, LinkAja, hingga transportasi publik seperti KAI dan MRTJ. Tapi ada beberapa titik rawan. Perpanjangan kontrak Finnet masih belum selesai, kontrak BRI lewat anak usaha MDD sudah berakhir tanpa tanda diperpanjang, dan piutang pihak berelasi banyak yang sudah dicadangkan 100%. Investasi ke beberapa entitas juga underperform. Ditambah beban administrasi naik 13,07% di tengah revenue turun, menunjukkan efisiensi biaya belum terjaga.
Satu catatan penting datang dari pemegang saham besar, PT Asuransi Jiwa Kresna. Kresna Life sejak 2020 bermasalah, gagal bayar klaim, izinnya dicabut OJK 2023, sempat dibatalkan PTUN 2024, tapi Mahkamah Agung 2025 menguatkan pencabutan izin. Nasabah menuntut pendiri dan direksi, bahkan ada kasus pidana. Buat DIVA, ini bisa jadi bayangan reputasi karena hampir sepertiga sahamnya dipegang Kresna. Meski operasionalnya terpisah, pasar bisa mengaitkan risiko reputasi dan potensi pergeseran kepemilikan jika aset Kresna dijual untuk nutupi kewajiban.
DIVA berhasil balik rugi jadi laba, laba usaha tumbuh 69%, CFO positif, liabilitas turun drastis, dan beban bunga turun lebih dari 50%. Tapi sisi gelapnya revenue anjlok 20%, piutang pihak berelasi mendominasi, investasi di beberapa entitas sudah dicadangkan penuh, kovenan bank gagal dipenuhi, dan ada tekanan reputasi dari kasus Kresna.
Lebih dari 51% laba bersih berasal dari pos investasi yang sifatnya fluktuatif, bukan dari penjualan inti. Jadi meski ada tanda perbaikan, sustainabilitas laba tetap butuh penopang dari top line yang tumbuh, biaya lebih terkendali, dan manajemen investasi yang lebih selektif agar laba tidak hanya bergantung pada untung rugi di portofolio saham.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!