Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightDirut BBRI Sunarso Diganti

Dirut BBRI Sunarso Diganti

24 Maret 2025, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) resmi melakukan pergantian pucuk pimpinan. Dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Sunarso dicopot dari jabatannya sebagai Direktur Utama dan digantikan oleh Hery Gunardi, yang sebelumnya menjabat sebagai Dirut Bank Syariah Indonesia (BRIS). Hery bukan orang baru di dunia perbankan: dia pernah menjabat sebagai Wakil Dirut Bank Mandiri dan memegang banyak posisi strategis di sana sejak 2013. Tapi yang membuat pergantian ini begitu relevan dan—jujur saja—sangat dinantikan publik pasar adalah karena jejak kontroversial Sunarso yang terlalu sibuk menyalahkan influencer saham, alih-alih mengakui lemahnya kinerja.


Kontroversi memuncak ketika, dalam acara Kompas 100 Outlook pada 17 Februari 2025, Sunarso secara terbuka menyebut bahwa penurunan harga saham BBRI disebabkan oleh narasi para YouTuber dan konten kreator di media sosial. Mereka dianggap menyebar ketakutan dengan analisis “di awang-awang” yang bisa merusak persepsi investor. Pernyataan ini langsung memicu reaksi keras dari komunitas pasar modal. Karena faktanya, investor—baik ritel maupun institusi—tidak membuat keputusan berdasarkan konten TikTok dan Youtube yang pakai backsound viral, tapi berdasarkan data dan kinerja. Dan sayangnya, pada saat itu, data BBRI sedang tidak berpihak pada narasi “fundamental kuat” yang selalu digaungkan oleh Sunarso.

🔥Mari kita lihat datanya. Di Januari 2025, BBRI buka tahun dengan performa yang bisa dibilang bikin investor tarik napas panjang:

Laba bersih anjlok 58,33% yoy, dari Rp4,82 Triliun di Januari 2024 menjadi hanya Rp2 Triliun.
Pendapatan bunga turun 6,24% yoy menjadi Rp12,99 Triliun.

Beban bunga memang berhasil ditekan 3,08% yoy ke Rp4,07 Triliun, tapi gak cukup menyelamatkan karena pendapatan bunga bersih tetap merosot 7,62% yoy jadi Rp8,92 Triliun. Kerugian nilai aset keuangan alias beban pencadangan meledak 188,49% yoy jadi Rp5,62 Triliun. Pendapatan komisi juga turun 8,16%.

Total aset turun 1,41% yoy ke Rp1.826 Triliun.
Jadi kalau saat itu harga saham BBRI jeblok, bukan karena YouTuber nyebarin rumor, tapi karena laporan keuangan-nya memang bikin jantung investor copot duluan.


🔥Untungnya, Februari 2025 mulai kasih sedikit harapan—walau belum cukup buat menutupi kekacauan Januari:

Laba bersih bank only naik 129% dibanding Januari, jadi Rp4,6 Triliun. Secara tahunan, naik 42%. Tapi secara total dua bulan, laba masih turun 18% yoy ke Rp6,6 Triliun.

Credit cost (CoC) turun signifikan dari 5,57% di Januari jadi 3,28%. Dibanding Februari 2024 yang ada di 6,72%, ini memang membaik drastis. Provisi pun turun jadi Rp3,3 Triliun, anjlok 49% yoy dan 41% secara bulanan.

NIM (Net Interest Margin) naik ke 6,39%, lebih tinggi dari Januari (6,15%) dan Februari 2024 (6,17%). Tapi dua bulan pertama 2025, NIM masih di 6,25%, di bawah target manajemen yang menargetkan 7,3–7,7%.

Net Interest Income (NII) naik ke Rp9,3 Triliun, tumbuh 3% yoy, didorong beban bunga yang turun 8,7%. Time deposit turun 9,8%, bikin beban bunga ikut turun—jadi efisiensi mulai kelihatan.

Tapi opex (biaya operasional) tetap meledak: Rp4,3 Triliun di Februari (naik 111% yoy), dan Rp9,1 Triliun sepanjang dua bulan (naik 37%). Biaya pegawai selama dua bulan tembus Rp4,2 Triliun, naik 20% yoy—yang kemungkinan besar karena efek musiman THR.


Jadi secara keseluruhan, Februari 2025 adalah bulan recovery setelah Januari penuh luka. Tapi total kinerja selama dua bulan masih loyo dan jauh dari ekspektasi pasar. Sementara itu, direksi malah sibuk narasi soal “solidnya fundamental” dan ancaman dari “analisis awang-awang” influencer Youtube. Pernyataan yang bukan cuma defensif, tapi juga menunjukkan disconnect antara manajemen dan kenyataan pasar. Apakah anjloknya laba BBRI itu kesalahan influencer atau kesalahan direktur? Simpel aja.

Dan dengan semua itu, apakah pergantian Dirut Sunarso wajar? Maybe yes, maybe no. Ketika seorang pimpinan lebih sibuk membela ego daripada menjelaskan data, lebih sibuk menyalahkan eksternal daripada membenahi internal, maka pergantian bukan cuma rasional—itu langkah penyelamatan. BRI bukan bank kecil yang bisa main-main dengan kepercayaan pasar. Dan investor nggak butuh narasi, mereka butuh transparansi dan eksekusi. Sekarang dengan Hery Gunardi masuk, kita tunggu: apakah babak baru ini jadi awal pemulihan, atau malah sekadar pergantian pemain dalam drama yang sama?

Jangan lewatkan kesempatan ini—klik link berikut sekarang dan raih keuntungan lebih maksimal! https://bit.ly/PriorityMemberships

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here