PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) melaporkan kerugian bersih sebesar USD 58,94 juta (sekitar Rp960 miliar) pada kuartal I 2025. Laporan ini sontak mengundang perhatian pelaku pasar, mengingat nominal rugi yang sangat besar.
Namun, apakah kerugian ini benar mencerminkan kinerja buruk TOBA secara menyeluruh?
Penyebab utama kerugian TOBA berasal dari divestasi anak usaha, PT Gorontalo Listrik Perdana (GLP), dengan kerugian akuntansi sebesar USD 50,98 juta. Ini terjadi karena nilai buku anak usaha lebih tinggi daripada nilai jual aktualnya. Artinya, TOBA tidak mengeluarkan kas secara langsung, namun tetap harus mencatat selisih nilai tersebut sebagai kerugian sesuai standar akuntansi.
Secara operasional, TOBA juga menghadapi tekanan. Pendapatan turun drastis sebesar 43% dibanding tahun sebelumnya, dari USD 124,3 juta menjadi USD 71,5 juta. Penurunan harga dan volume penjualan batubara menjadi penyebab utama.
Margin laba kotor juga turun dari 16% ke 10%, sementara biaya umum dan administrasi naik 12%, mempersempit ruang profitabilitas.
Segmen pembangkit listrik (IPP) menjadi penyelamat. Meski kontribusinya belum dominan secara nominal, margin laba usaha dari sektor ini mencapai 81% berkat skema kontrak kapasitas tetap dengan PLN.
Namun, pendapatan dari IPP sebagian besar masih tercatat sebagai unbilled receivables sebesar USD 247,8 juta—pendapatan yang sah tetapi belum diterima secara tunai.
Di tengah pendapatan yang menurun dan kas yang tertahan, TOBA justru melakukan ekspansi besar-besaran. Akuisisi proyek PLTU dan pembangkit surya menyebabkan arus kas investasi (CFI) negatif USD 277,9 juta. Pendanaan diperoleh dari pinjaman bank dan penerbitan sukuk senilai USD 244,3 juta. Imbasnya, beban bunga naik tajam 41% menjadi USD 13,03 juta.
TOBA menghadapi berbagai risiko finansial yang perlu dicermati:
- Risiko mata uang: Pengaruh negatif terhadap laba jika Rupiah melemah.
- Risiko suku bunga: Pinjaman berbunga mengambang rentan terhadap kenaikan suku bunga.
- Risiko likuiditas: Cashflow tertahan, sementara kewajiban jatuh tempo terus berjalan.
- Risiko komoditas: Fluktuasi harga batubara dan solar berdampak pada margin.
- Risiko derivatif: Posisi rugi mark-to-market USD 4,9 juta dari kontrak swap.
Mau belajar cara pilih saham yang sehat & potensial secara teknikal dan fundamental? Mulai dari sini!


