PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk atau CUAN sedang berada di fase yang bisa dibilang paling berani sepanjang sejarah perusahaannya. Resmi melantai di BEI pada 8 Maret 2023, sahamnya didominasi oleh Prajogo Pangestu yang memegang hampir 85% kepemilikan, sehingga arah strategis dan visi bisnisnya sangat ditentukan oleh keputusan beliau.
Awalnya CUAN fokus pada bisnis tambang batu bara lewat entitas seperti PT Multi Tambangjaya Utama (MUTU) dan PT Borneo Bangun Banua Bestari (BBBB). Namun, perusahaan ini jelas tidak mau selamanya menjadi pemain tunggal di tambang hulu. Mereka membentuk strategi untuk menguasai rantai bisnis dari hulu hingga hilir, melakukan akuisisi dan pendirian perusahaan baru di berbagai lini yang berkaitan dengan energi dan infrastruktur.
Langkah yang paling menonjol adalah masuknya CUAN ke PT Petrosea Tbk (PTRO) dengan kepemilikan 44,38% melalui anak usaha KJP. Walaupun kepemilikannya di bawah 50%, CUAN mendapat kontrol penuh karena ada surat pernyataan dari pemegang saham lain yang mendukung kendali tersebut. Efeknya, seluruh pendapatan, aset, dan bisnis PTRO yang meliputi jasa pertambangan, rekayasa, konstruksi, dan logistik laut langsung terkonsolidasi ke laporan CUAN.
Akuisisi ini juga memberi keuntungan instan lewat gain on bargain purchase senilai 76,7 juta dolar yang merupakan dampak membeli aset di bawah nilai wajarnya. Tidak hanya itu, CUAN juga memperkuat portofolio batu bara dengan MUTU dan BBBB, masuk ke sektor pasir silika lewat PT Sentral Sisal Jaya (SSJ), mendirikan PT Usaha Bahari Line (UBL) di bidang transportasi laut, dan pada Juli 2025 mulai membentuk PT Volta Energi Nusantara (VEN) dan PT Volta Daya Energi Indonesia (VDEI) yang fokus pada pembangkitan listrik, termasuk energi baru terbarukan.
Semua ini memperlihatkan bahwa CUAN sadar betul risiko ketergantungan pada batu bara di masa depan dan mulai mempersiapkan diversifikasi.Di sisi pasar, CUAN melayani pelanggan besar seperti BP Berau, PT Freeport Indonesia (PTFI), dan PT Kideco Jaya Agung (KJA) INDY yang memberi kontribusi signifikan pada pendapatan. Namun sifat bisnis proyek membuat angka bisa fluktuatif, contohnya pendapatan dari Freeport yang anjlok dari 65,2 juta dolar menjadi 13,1 juta dolar karena proyek utamanya sudah selesai.
Sebagai gantinya, CUAN berhasil mengamankan kontrak jangka panjang yang sangat besar seperti kontrak jasa pertambangan seumur hidup tambang dengan PT Pasir Bara Prima (PBP) yang nilainya mencapai Rp 17,4 triliun atau sekitar 1,08 miliar dolar. Pada sisi rantai pasok, PT Triguna Internusa Pratama (TIP) yang berafiliasi dengan CUAN menjadi pemasok dominan.
Proyek bernilai Rp 325 miliar atau 20,4 juta dolar diberikan ke TIP, yang membuat utang usaha CUAN ke TIP meningkat tajam. Tidak hanya itu, biaya administrasi yang dibayarkan ke TIP mencapai 4,76 juta dolar atau setara 18,45% dari total beban administrasi semester pertama 2025. Ini menunjukkan adanya hubungan yang sangat erat antara CUAN dan pemasok afiliasi.
Dari sisi kinerja keuangan, semester pertama 2025 memberi cerita dua wajah. Pendapatan melonjak 49,21% menjadi 462,1 juta dolar, tanda bahwa ekspansi dan akuisisi memang menambah kapasitas bisnis. Tetapi laba bersih justru ambruk 91,57% dari 33 juta dolar menjadi hanya 2,78 juta dolar.
Penyebabnya ada dua, beban pokok pendapatan naik 70,27% yang menggerus margin kotor dari 21,46% menjadi 10,37%, dan beban keuangan melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi 39,4 juta dolar akibat utang besar untuk membiayai ekspansi. Ada pos keuntungan non-operasional yang membantu menahan penurunan, seperti gain 34 juta dolar dari penjualan aset keuangan di 2025 dan gain 29 juta dolar dari bargain purchase di 2024, tetapi sifatnya tidak berulang sehingga tidak bisa menjadi sumber laba yang konsisten.
Di neraca, total aset tumbuh 20,07% menjadi 2,13 miliar dolar, terutama dari kenaikan aset tetap yang naik 53,78%. Namun total liabilitas juga naik lebih cepat, 29,75% menjadi 1,57 miliar dolar, membuat rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio) naik dari 2,14 menjadi 2,81, mendekati batas aman 3,0 yang disyaratkan kreditur. Kondisi ini menunjukkan peningkatan leverage yang signifikan.
Di sisi kas, justru muncul tanda bahaya, arus kas operasi (CFO) berbalik negatif 31,9 juta dolar dari sebelumnya positif 29,9 juta dolar pada tahun lalu. Kas perusahaan susut lebih dari separuh, dari 272 juta dolar menjadi hanya 125 juta dolar dalam enam bulan. Pengeluaran modal (capex) tembus 340 juta dolar, sebagian besar untuk pembelian aset dan akuisisi. Kekurangan dana ini ditutup dengan utang baru sebesar 220 juta dolar.
Artinya, operasional belum menghasilkan kas yang cukup bahkan untuk kebutuhan sendiri, dan belanja besar masih dibiayai dari utang. CUAN saat ini sedang bermain di strategi pertumbuhan agresif dengan pola pikir growth first profit later. Pasar tampaknya masih percaya pada cerita besar ini, terbukti valuasi sahamnya yang mencapai PER lebih dari 400 kali.
Namun tantangan sebenarnya adalah membuktikan bahwa semua akuisisi dan investasi besar ini bisa menghasilkan bisnis yang efisien, margin yang sehat, dan arus kas positif. Keberhasilan akan menempatkan CUAN sebagai salah satu pemain energi terintegrasi terbesar di Indonesia. Sebaliknya, jika integrasi anak usaha tersendat, biaya membengkak, dan kas tetap negatif, utang yang besar berpotensi menjadi beban yang sulit diatasi dan bisa menggerus seluruh potensi yang ada.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Mau belajar cara pilih saham yang sehat & potensial secara teknikal dan fundamental? Mulai dari sini!