Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightCGAS LK Q2 2025: Utang Naik + Laba Anjlok

CGAS LK Q2 2025: Utang Naik + Laba Anjlok

PT Citra Nusantara Gemilang Tbk atau CGAS adalah salah satu pemain di industri perdagangan dan distribusi gas alam dan gas buatan yang punya cerita perjalanan cukup berwarna. Perusahaan ini berdiri pada 21 Desember 2005 lewat akta notaris Edi Priyono SH dan baru disahkan oleh Kementerian Hukum pada September 2006. Kantornya berada di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, tepatnya di Jalan Kali Malang No 126. Fokus usahanya meliputi perdagangan besar bahan padat, cair, gas, dan hasil YBDI, distribusi gas alam maupun gas buatan, serta kegiatan sebagai induk usaha.

Perubahan anggaran dasar sudah beberapa kali dilakukan, terakhir pada Januari 2024. Pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia terjadi pada 8 Januari 2024 setelah menggelar IPO sebesar 531.429.000 lembar dengan harga penawaran Rp338 per saham dan modal yang berhasil dikantongi Rp179,62 miliar. Pemegang kendali utamanya adalah PT Petro Asia Energy dengan porsi 32,32% atau setara 572,57 juta saham, sedangkan pengendali akhir adalah Zaki Ismail dan Sanjaya, anak mantan pejabat BIN.

Struktur organisasi CGAS cukup lengkap, dewan komisaris diisi oleh As’ad Said Ali sebagai Presiden Komisaris, Radtya Muhas Juvirawan sebagai Komisaris, dan Leo Herlambang sebagai Komisaris Independen. Di jajaran direksi ada Andika Purwonugroho sebagai Presiden Direktur, Agung Wibawa, M Isa Safardi, dan Andika Andianto sebagai direktur. Oke Mahalo menjabat Corporate Secretary sejak Februari 2025 menggantikan Agung Wibawa. Komite audit diketuai Leo Herlambang dengan anggota Soetono Mediyanto dan Imam Syarifudin. Jumlah karyawan pada pertengahan 2025 tercatat 249 orang, naik tipis dari 247 di akhir 2024.

Anak usaha CGAS cukup banyak dan bergerak di segmen yang saling melengkapi. Ada PT Citra Nusantara Energi dengan kepemilikan 98,96% di Surabaya yang berbisnis perdagangan gas sejak 2007. PT CNG Hilir Raya dengan kepemilikan 79,20% di Palembang juga fokus di perdagangan gas. PT CNG Global dengan kepemilikan 75% di Jakarta bergerak di perdagangan peralatan gas dan jasa perbaikan mesin.

PT Cipta Rizqi Energi di Jakarta kepemilikannya naik dari 55% menjadi 60% pada pertengahan 2025, bidang usahanya perdagangan gas dan bahan bakar. Ada juga kepemilikan tidak langsung melalui PT CNG Hilir Raya di PT Kanaka Bumi Laksana yang fokus pada jasa bengkel dan perawatan peralatan teknik. Total aset anak-anak usaha ini bervariasi, mulai dari Rp4,59 miliar hingga Rp42,13 miliar sebelum eliminasi konsolidasi.

Rantai bisnis CGAS berjalan dari hulu ke hilir, mulai dari pengadaan gas alam atau buatan, perdagangan, distribusi ke pelanggan, hingga penjualan peralatan gas dan layanan terkait. Pemasok utamanya adalah PT Bayu Buana Gemilang yang juga pihak berelasi. Dalam enam bulan pertama 2025, pembelian dari pemasok ini mencapai Rp123,38 miliar, artinya ada ketergantungan signifikan terhadap satu pemasok.

Di sisi pelanggan, tidak ada satu pun yang kontribusinya lebih dari 10% pendapatan sehingga risiko konsentrasi relatif rendah. Namun ada kasus dengan PT Waskita Beton Precast Tbk yang masuk PKPU dan membuat piutang Rp3,85 miliar dialihkan sebagian menjadi saham senilai Rp2,5 miliar dan sisanya dibayar bertahap lima tahun. Langkah ini mengubah kas menjadi aset nonlikuid sehingga berpotensi mengikat modal kerja. Nyangkut juga CGAS di WSBP. BUMN penjerat vendor.

Kinerja semester I 2025 tidak memuaskan. Pendapatan hanya tumbuh tipis 1,04% menjadi Rp265,48 miliar, tapi beban pokok penjualan naik 3,07% sehingga laba kotor turun 9,07% menjadi Rp39,99 miliar. Margin kotor menyusut dari 16,74% menjadi 15,06%. Laba usaha merosot 61,09% menjadi Rp3,15 miliar karena beban operasional naik sedikit namun basis labanya tergerus.

Pendapatan lain-lain bersih jatuh 94,49% menjadi Rp43,12 juta akibat lonjakan beban bunga dari Rp375,86 juta menjadi Rp1,05 miliar dan pergeseran lain-lain dari laba menjadi rugi di entitas induk. Laba sebelum pajak anjlok 64,03% menjadi Rp3,20 miliar, dan laba bersih terkikis 69% menjadi Rp2,21 miliar. EPS dasar anjlok drastis dari Rp104,33 menjadi Rp1,05, penurunan 99% yang langsung mencerminkan tergerusnya nilai bagi pemegang saham.

Posisi keuangan menunjukkan total aset naik 7,02% menjadi Rp386,70 miliar, namun seluruh kenaikan aset ini dibayar dengan utang yang melonjak 26,06% menjadi Rp122,59 miliar, sedangkan ekuitas praktis stagnan di Rp264,12 miliar. Kas dan bank turun 10,39% menjadi Rp104,38 miliar, sementara utang bank jangka pendek melonjak dari Rp9,06 miliar menjadi Rp20,73 miliar dan utang bank jangka panjang dari Rp10,15 miliar menjadi Rp17,93 miliar.

Ada kenaikan signifikan pada beban dibayar di muka yang terkait proyek LNG excavation dan proyek Ogan, indikasi investasi yang sedang berjalan. Retained earnings yang tidak ditentukan penggunaannya turun dari Rp12,84 miliar menjadi Rp8,99 miliar akibat pembagian dividen Rp4,71 miliar di tengah laba yang jatuh dan arus kas operasional negatif.

Arus kas operasional semester I 2025 masih negatif Rp11,93 miliar meski membaik dari minus Rp22,86 miliar setahun sebelumnya. Arus kas investasi juga negatif Rp20,73 miliar untuk belanja modal sekitar Rp12,95 miliar dan pembayaran proyek. Kekurangan ini ditutup lewat arus kas pembiayaan Rp21,61 miliar yang berasal dari utang baru Rp25,5 miliar dan setoran modal nonpengendali Rp2,6 miliar, dikurangi pembayaran utang dan dividen. Hasil akhirnya kas turun Rp11,05 miliar. Situasi ini berarti operasional inti belum menghasilkan kas dan perusahaan hidup dari pendanaan eksternal.

Rasio keuangan menunjukkan current ratio masih sehat di 3,23x walau turun dari 3,72x, cash ratio turun dari 1,79x ke 1,31x, dan DER naik dari 0,37x ke 0,46x. Secara covenant bank masih aman, tapi tren penambahan utang cepat dan CFO negatif adalah kombinasi yang perlu diwaspadai.

PBV di harga Rp113 adalah 0,798x yang terlihat murah secara nilai buku, tapi PER membengkak jadi 53,8x karena laba yang tipis. Untuk mencapai PBV 1,5x harga harus naik ke Rp212,38, sedangkan untuk PER 15x di harga sekarang EPS tahunan harus naik ke Rp7,53 atau lebih dari 3,5 kali lipat dari proyeksi saat ini. Syaratnya adalah margin membaik, beban bunga turun, CFO berbalik positif, dan proyek-proyek baru cepat menghasilkan laba.

Risiko yang dihadapi tidak kecil. Ketergantungan besar pada pemasok berelasi bisa membatasi fleksibilitas harga dan margin. Beban bunga yang melonjak adalah dampak langsung dari strategi pembiayaan dengan utang. Pernyataan manajemen bahwa tidak ada risiko likuiditas bertolak belakang dengan fakta CFO yang negatif, artinya jika akses pendanaan melemah maka kemampuan bertahan akan tertekan.

Pembayaran dividen besar di tengah laba dan kas yang tertekan juga memunculkan tanda tanya soal prioritas penggunaan modal. Potensi perbaikan ada jika manajemen berhasil menekan COGS, memperbaiki efisiensi distribusi, mengelola utang dengan hati-hati, dan mengubah proyek menjadi sumber pendapatan signifikan. Jika tidak, risiko tekanan likuiditas, pelemahan nilai saham, dan penurunan kepercayaan investor akan membesar.

Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Mau belajar cara pilih saham yang sehat & potensial secara teknikal dan fundamental? Mulai dari sini!

https://bit.ly/pintarsahamid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here