PT Communication Cable Systems Indonesia Tbk dengan kode saham CCSI adalah perusahaan publik yang sudah lama berkecimpung di industri kabel fiber optik. Perusahaan ini berdiri pada 1995 melalui akta notaris Trisnawati Mulia SH dan mulai beroperasi komersial sejak 1996. Kantor pusatnya ada di Jakarta sementara pabrik berlokasi di kawasan industri Krakatau Cilegon Banten. Fokus utama bisnisnya adalah memproduksi dan menjual kabel fiber optik untuk telekomunikasi baik untuk pasar domestik maupun internasional.
Dari sisi kepemilikan saham tokoh sentralnya adalah Peter Djatmiko yang juga menjabat sebagai Presiden Direktur. Ia memiliki saham langsung sebesar 8,28% ditambah kepemilikan melalui PT Saptadaya Bumitama Persada yang dikuasai hampir penuh sehingga total kepemilikannya mencapai 26,63%. Pemegang saham besar lain adalah PT Grahatama Kreasibaru 35,30%, PT Lingkar Matra 18,35%, PT Saptadaya Bumitama Persada 18,35% dan Central Business Alliance Pte Ltd 9,99%. Jika digabung ada tiga individu yang jadi pengendali utama yaitu Tati Santosa dengan 33,57%, Peter Djatmiko 26,63% dan Mieke Santosa 18,35%.
Komisaris utamanya adalah Adi Tanuarto dengan anggota Sukarnen, Anang Pratikno, Erwin Richard Andersen, Ren Yi Newton Djatmiko dan Harris Kristanto Gozali. Sementara jajaran direksi selain Peter Djatmiko antara lain Teuku Zulfikar, Irawan Mario Noh Palilingan, Bambang Adi Prastyo, Sudarno Khou, Mike Linggawati dan Chai Khye Yeien. Jumlah karyawan per Juni 2025 sebanyak 148 orang turun dari 154 di akhir 2024.
Anak usaha yang dimiliki cukup banyak walau sebagian besar masih tahap persiapan. PT CCSI Konektivitas Digital dimiliki hampir 100% dan sudah diarahkan ke bisnis telekomunikasi kabel, interkoneksi internet, pembangunan sentral telekomunikasi, instalasi, dan fungsi holding. Anak usaha ini juga berinvestasi di PT Varuna Cahaya Santosa untuk proyek kabel laut antar pulau.
PT CCSI Niagatama Digital juga hampir 100% milik induk tapi belum operasional dan disiapkan untuk perdagangan besar peralatan telekomunikasi dan jasa instalasi. Selain itu ada PT Lucky Joint Indonesia dan PT Fuchunjiang Cable Systems Indonesia yang masing-masing 45% tapi tetap dikonsolidasikan karena kendali ada di CCSI, keduanya juga belum beroperasi. Jadi kontribusi revenue anak usaha masih nihil.
Dari sisi kinerja keuangan semester I 2025 menunjukkan perbaikan besar. CCSI berhasil mencatat laba bersih Rp 3,19 miliar padahal tahun sebelumnya rugi Rp 10,65 miliar. Pendapatan bersih naik dari Rp 113,71 miliar menjadi Rp 132,47 miliar. Laba kotor melonjak dari Rp 4,04 miliar menjadi Rp 18,76 miliar. Beban penjualan ditekan drastis dari Rp 22,80 miliar menjadi hanya Rp 3,72 miliar.
Jadi bisnis kabel optik mulai pulih dengan penjualan yang lebih besar plus efisiensi biaya pemasaran. Namun kontrak penjualan sebagian besar jangka pendek sehingga keberlanjutan revenue masih bergantung pada keberhasilan memperbarui kontrak dengan pelanggan utama seperti PT Eka Mas Republik, PT Supra Primatama Nusantara, PT Indonesia Comnets Plus dan PT Link Net.
Total aset per Juni 2025 sebesar Rp 665,97 miliar naik tipis dari Rp 660,16 miliar di akhir 2024. Aset lancarnya Rp 348,60 miliar terdiri dari kas Rp 47,17 miliar, piutang Rp 54,27 miliar dan persediaan Rp 68,71 miliar. Aset tetap Rp 297,92 miliar sudah direvaluasi pada 2016, 2019 dan 2022. Liabilitas naik cukup besar dari Rp 419,26 miliar menjadi Rp 475,46 miliar. Utang jangka pendek Rp 106,19 miliar termasuk pinjaman bank Rp 22,09 miliar dan utang usaha Rp 43,92 miliar.
Utang jangka panjang Rp 184,70 miliar terdiri dari pinjaman Rp 35,18 miliar, liabilitas sewa Rp 13,78 miliar dan kewajiban imbalan kerja Rp 12,20 miliar. Pinjaman dari Danamon dan BCA punya covenant ketat seperti DER maksimal 2x atau current ratio di atas 1x. Jaminannya juga besar mulai dari mesin, persediaan, piutang hingga tanah dan bangunan. Untungnya fasilitas ini sudah diperpanjang sampai Maret 2026.
Arus kas operasi di semester I 2025 naik jadi Rp 19,89 miliar dari hanya Rp 170 juta tahun lalu. Tapi arus kas investasi keluar Rp 28,80 miliar untuk belanja aset tetap sehingga free cash flow negatif sekitar Rp -8,9 miliar. Arus kas pendanaan justru bermasalah karena laporan menunjukkan angka Rp 35,60 miliar sebagai kas digunakan tapi tertulis positif. Kalau dijumlah detailnya justru keluar sekitar Rp -43,91 miliar.
Selisih sekitar Rp 79,5 miliar ini jelas tanda merah di laporan keuangan. Retained earnings juga turun Rp 38,5 miliar padahal perusahaan cetak laba. Keanehan lain ada di tahun sebelumnya saat beban umum dan administrasi malah tercatat negatif. Hal-hal ini membuat integritas laporan keuangan perlu dipertanyakan.
Sejak IPO pada 2019 di harga Rp 250 per saham, CCSI sudah beberapa kali aksi korporasi. Tahun 2021 ada dividen saham hampir 200 juta lembar. Lalu rights issue pada Januari 2025 sebanyak 133 juta saham di harga Rp 383 per saham yang menambah modal besar. Perusahaan juga ikut tax amnesty di 2016 dan membentuk beberapa anak usaha baru antara 2023 hingga 2025. Aksi ini jelas untuk menopang modal kerja dan proyek mengingat free cash flow masih negatif.
Proyek strategis yang sedang digarap adalah Varuna Marine Cable Communication System yaitu jaringan kabel laut antar pulau. Kalau berhasil proyek ini bisa menjadikan CCSI salah satu pemain penting di infrastruktur digital Indonesia. Industri kabel optik sendiri jelas punya prospek cerah karena kebutuhan internet dan data terus meningkat.
Bisnis utamanya sederhana tapi vital, yaitu produksi dan penjualan kabel telekomunikasi, khususnya kabel fiber optik yang jadi tulang punggung jaringan komunikasi modern. Selain kabel utama, mereka juga menjual kabel standar, kabel berlapis baja, pipa, dan aksesoris, serta menawarkan jasa pendukung. Jadi kalau bicara sumber pendapatan, jelas kabel masih jadi inti bisnisnya.
Yang bikin menarik, CCSI tidak berhenti di kabel darat saja. Mereka sedang ekspansi besar dengan proyek SKKL Varuna Cable Systems, jaringan kabel bawah laut yang menghubungkan pulau besar di Indonesia mulai dari Jawa, Madura, Bali, Lombok, Sumbawa, Labuan Bajo, Sulawesi, sampai Kalimantan. Proyek ini dikerjakan lewat anak usaha PT CCSI Konektivitas Digital dalam bentuk joint venture dengan PT Varuna Cahaya Santosa. Skala proyeknya strategis, karena bisa jadi tulang punggung infrastruktur digital nasional, dan posisi CCSI jelas naik kelas karena masuk ke segmen konektivitas antar pulau.
Di sisi kontrak dan pelanggan, CCSI punya beberapa nama besar yang menyumbang lebih dari 10% penjualan, seperti PT Eka Mas Republik, PT Supra Primatama Nusantara, PT Indonesia Comnets Plus, dan PT Link Net Tbk. Artinya arus pendapatan mereka bergantung pada kontrak jangka menengah dengan pemain besar di industri telekomunikasi. Dari sisi finansial, mereka mengandalkan fasilitas pinjaman dari Bank Danamon dan BCA untuk modal kerja, pembelian mesin, hingga investasi.
Pinjaman ini dijamin dengan aset mulai dari mesin, persediaan, piutang, sampai tanah dan bangunan. Ada juga kontrak penting dengan PT Krakatau Bandar Samudra untuk sewa gudang penyimpanan kabel bawah laut dan dengan PT Krakatau Sarana Infrastruktur untuk pemakaian lahan industri sebagai lokasi pabrik. Jadi, operasional mereka cukup bergantung pada kontrak-kontrak strategis dengan pihak ketiga.
Hal yang menarik, ada klausul khusus dari BCA yang mewajibkan pemegang saham pengendali seperti Tati Santosa, Mieke Santosa, dan Peter Djatmiko tetap memegang minimal 51% saham baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Bank menilai keberadaan mereka sangat krusial untuk stabilitas perusahaan.
Jadi bisa dibilang, keberadaan manajemen dan pemegang saham pengendali ini bukan sekadar simbol, tapi jadi penjamin kredibilitas di mata kreditur. Bahkan kompensasi untuk direksi dan komisaris semester I 2025 tercatat Rp5 miliar, angka yang sebanding dengan posisi strategis mereka dalam mengawasi penjualan, proyek, keuangan, sampai strategi bisnis.
Kalau bicara anak usaha paling berguna, jelas PT CCSI Konektivitas Digital. Anak usaha ini jadi kendaraan utama untuk proyek kabel bawah laut Varuna, sekaligus mengembangkan layanan interkoneksi internet, pembangunan sentral telekomunikasi, dan instalasi kabel. Proyek-proyeknya langsung mengangkat prospek jangka panjang grup karena terhubung dengan pertumbuhan kebutuhan data dan konektivitas di Indonesia. Sementara anak usaha lain tetap penting, tapi CCSI Konektivitas Digital yang paling strategis karena membawa perusahaan masuk ke arena besar infrastruktur digital nasional.
Di kursi komisaris utama ada Ir. Adi Tanuarto, pria kelahiran Jakarta 1959, jebolan University of East London dan University of Birmingham. Backgroundnya sipil dan lalu lintas, tapi kariernya banyak bersentuhan dengan proyek infrastruktur dan telekomunikasi, jadi wajar kalau ditarik jadi pengawas utama. Sementara dari sisi keluarga bisnis besar, ada Amelia Gozali, lahir di Singapura 1985, lulusan University of Southern California. Kariernya cukup mapan di Plaza Indonesia Realty dan Cornerstone Retail, plus pengalaman di A T Kearney dan Merrill Lynch, jadi membawa warna manajemen modern ke meja komisaris.
Nama lain yang sudah lama malang melintang di industri kabel adalah Sudarno Khou, kelahiran Pontianak 1960, lulusan Teknik UKI. Dari awal 2000an sudah ada di CCSI, pernah jadi direktur hingga wakil direktur utama sebelum naik kursi komisaris, jadi jelas hafal luar dalam urusan pabrik dan bisnis kabel optik. Lalu ada Drs. Triana Mulyatsa, MM, lahir Cilacap 1959, background manajemen, lama berkarya di Telkom dan sempat jadi komisaris utama Telkom Vision, yang membawa pengalaman regulator dan corporate governance.
Ada juga Bambang Rahardja Burhan, kelahiran 1955, berlatar belakang akuntansi dan keuangan internasional, sampai meraih CFA dan posisi senior di Citibank maupun Standard Chartered. Jadi komposisi komisaris ini campuran teknisi veteran, profesional ritel, banker global, sampai praktisi telekomunikasi.
Di jajaran direksi, kursi utama dipegang Peter Djatmiko, lahir Surabaya 1960, punya latar teknik mesin University of Kansas dan MIT, plus MBA. Ia pendiri iForte, jadi DNA entrepreneur teknologi kental sekali. Tandemnya adalah Sukarnen, kelahiran Medan 1971, ekonom lulusan Trisakti dan UI, yang lama berkecimpung di sektor keuangan dan audit sebelum jadi Wakil Direktur Utama. Untuk sisi keuangan, sempat dipegang Apolonia Irwina Gunawan, lahir Jakarta 1971, lulusan akuntansi Trisakti, yang membawa pengalaman panjang di finance dan accounting.
Bidang teknis dipegang Anang Pratikno, lahir Jakarta 1970, spesialis operasional pabrik kabel di Cilegon sejak lama. Bidang penjualan dan proyek diisi Teuku Zulfikar, kelahiran Aceh 1973, lulusan Elektro ITB, pengalaman lintas sektor energi dan infrastruktur sebelum masuk CCSI.
Pemasaran dan business development dipegang oleh generasi lebih muda, Ren Yi Newton Djatmiko, lahir Jakarta 1994, lulusan Northeastern University dan Columbia University, yang membawa gaya baru dalam negosiasi dan pengembangan pasar. Lalu ada Harris Kristanto Gozali, lahir Singapura 1990, lulusan Claremont McKenna, dengan pengalaman di Grahatama Kreasibaru dan berbagai startup infrastruktur.
Ada juga Irawan Mario Noh Palilingan, lahir Surabaya 1970, lulusan ekonomi Trisakti dan MM Prasetiya Mulya, kariernya di ritel dan FMCG sebelum jadi direktur umum dan sekretaris perusahaan. Mike Linggawati, kelahiran 1960an, akuntan lulusan UI, lama di iForte, menangani audit dan finance, sekarang masuk jajaran direksi. Nama lain yang pernah menghiasi 2024 adalah Denny Hendaya, engineer lulusan ITB, lama berkarya di Ericsson dan Telkom, yang fokus di operasi dan proyek sampai 2024.
Perubahan di 2025 cukup signifikan. RUPS mengangkat Chai Khye Yeien sebagai komisaris utama, seorang profesional properti dan perhotelan asal Singapura dengan pengalaman di Far East Organization. Ada juga Erwin Richard Andersen yang masuk ke kursi direktur, membawa pengalaman keuangan dan properti dari MNC Group. Sementara Bambang Adi Prastyo, yang sebelumnya di jajaran direksi, bergeser menjadi komisaris independen. Perombakan ini menunjukkan CCSI sedang mencari keseimbangan antara pengalaman lama, darah baru, dan koneksi internasional.
Kalau dilihat l, jajaran pengurus CCSI ini memang campuran generasi dan latar belakang yang unik. Dari engineer kawakan era 80an, banker global, praktisi telekom senior, sampai anak muda dengan pendidikan top di AS dan Singapura. Kombinasi ini bisa jadi kelebihan karena ada sinergi pengalaman lapangan dengan wawasan modern, tapi juga tantangan supaya visi mereka bisa jalan searah di bisnis kabel dan jaringan yang sedang berat-beratnya bersaing.
CCSI punya daya tahan karena berhasil balik laba, arus kas operasi meningkat dan modal diperkuat lewat rights issue. Fokus bisnisnya di kabel optik juga berada di sektor yang sedang naik. Namun kelemahannya besar, free cash flow negatif, laporan keuangan ada kejanggalan, kontrak penjualan pendek dan anak usaha serta joint venture masih tidur. Jadi meski ada growth story dari proyek kabel laut, investor harus waspada dengan integritas laporan keuangan dan keberlanjutan arus kasnya.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Mau belajar cara pilih saham yang sehat & potensial secara teknikal dan fundamental? Mulai dari sini!