PT Bumi Resources Tbk (BUMI) adalah perusahaan tambang yang kalau dilihat di atas kertas, terlihat luar biasa kaya. Cadangan batubara melimpah, aset properti tambang tersebar di berbagai blok strategis, hingga kepemilikan di perusahaan-perusahaan besar seperti KPC dan Dairi Prima Mineral. Tapi seperti banyak cerita keuangan lainnya, angka-angka yang terlihat mengesankan itu menyimpan dinamika yang jauh lebih kompleks di balik layar. BUMI masih duduk di atas cadangan batubara raksasa sebanyak 2.207,73 juta ton. Di tahun 2024, produksi mereka sebesar 74,7 juta ton—sedikit turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 77,8 juta ton. Kalau ritme produksi ini bertahan, umur tambang mereka secara teori masih mencapai 29,5 tahun ke depan. Artinya, dari sisi kelangsungan operasional, BUMI masih punya napas panjang.
Total aset BUMI per akhir Maret 2025 mencapai USD 4,06 miliar, turun sedikit dari posisi akhir 2024 yang sebesar USD 4,16 miliar. Penurunan ini bukan karena kerugian besar, melainkan akibat penurunan pada akun kas dan piutang berelasi. Yang menarik, distribusi aset mereka sangat “berat ke jangka panjang”:
- Properti pertambangan: USD 1,56 miliar (38,4%)
- Investasi di entitas asosiasi & ventura bersama: USD 949 juta (23,4%)
- Aset tetap: USD 226 juta
- Aset eksplorasi dan evaluasi: USD 130 juta
- Aset lancar lainnya: USD 295 juta
- Kas dan setara kas: hanya USD 37 juta (0,9%)
Total liabilitas BUMI berhasil turun dari USD 1,30 miliar menjadi USD 1,17 miliar. Namun, sekitar 61,3% dari total utang itu adalah jangka pendek—harus dibayar dalam waktu dekat. Di saat yang sama, kas mereka tinggal USD 37 juta. Ini jelas bikin posisi likuiditas mereka sangat rawan.
BUMI mencatat kenaikan pendapatan sebesar +12,2% yoy ke USD 348,78 juta, dengan efisiensi yang cukup baik karena COGS hanya naik +3%. Margin laba kotor pun membaik, dan laba usaha melonjak 163% ke USD 27,91 juta. Sayangnya, laba bersih justru turun tajam jadi USD 30,07 juta, dari sebelumnya USD 72,72 juta. Penyebabnya? Tahun lalu BUMI menikmati windfall dari penyesuaian pajak dan kontribusi besar dari KPC. Tapi tahun ini, kontribusi KPC anjlok ke USD 9 juta, dari USD 21 juta. Ditambah lagi, ada kerugian penghapusan aset tetap senilai USD 7,6 juta. Sisi positifnya, cash flow dari aktivitas operasi (CFO) akhirnya positif di angka USD 15,71 juta setelah sempat negatif. Namun, belanja modal (capex) dan investasi lainnya membuat arus kas investasi defisit sebesar USD 35,45 juta. Dan karena arus kas pendanaan sudah tipis, total kas bersih turun jadi USD 37 juta saja.
Satu hal yang patut diapresiasi adalah rasio akrual—pengukur kualitas laba. Tahun lalu rasio ini 2,26%, dan sekarang turun ke 0,35%. Artinya, laba BUMI sekarang lebih berbasis kas nyata, bukan sekadar angka akuntansi. Ini menunjukkan bahwa meski angkanya lebih kecil, kualitas labanya justru membaik.