Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightBRPT LK Q2 2025 = Laba BREN + Laba TPIA

BRPT LK Q2 2025 = Laba BREN + Laba TPIA

PT Barito Pacific Tbk atau BRPT adalah konglomerasi publik yang tampaknya sedang mencari arah baru dalam peta bisnisnya. Jika dilihat dari laporan keuangan konsolidasian per 30 Juni 2025, perusahaan ini sedang mengalami pertumbuhan yang masif dari sisi angka penjualan, namun di saat bersamaan harus menghadapi tekanan serius di sisi margin dan keberlanjutan laba.

Pendapatan bersih BRPT melonjak signifikan menjadi Rp52,63 Triliun pada semester 1 2025, naik sekitar 179% dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp18,86 Triliun. Lonjakan ini sekilas sangat menjanjikan, tapi justru jadi tanda tanya besar ketika laba kotor malah turun dari Rp4,00 Triliun ke Rp2,19 Triliun. Margin kotor longsor dari 21% menjadi hanya 4%. Artinya, perusahaan memang jualan lebih banyak, tapi untungnya jauh lebih kecil per unit. Ini bukan pertumbuhan berkualitas, melainkan ekspansi volume yang tidak dibarengi efisiensi atau perbaikan spread harga.

Jika ditelusuri lebih jauh, hampir seluruh pendapatan BRPT masih berasal dari segmen petrokimia, yang dijalankan melalui anak usahanya yaitu PT Chandra Asri Pacific Tbk TPIA. Segmen ini menyumbang sekitar Rp47,76 Triliun atau 90,7% dari total penjualan. Tapi ironisnya, dari angka sebesar itu, justru dihasilkan rugi kotor senilai Rp1,62 Triliun. Petrokimia seperti Chandra Asri sangat tergantung pada spread antara harga naphtha sebagai bahan baku dengan harga jual produk olahannya seperti ethylene dan polyethylene.

Tahun 2025 ini spread-nya menyempit ekstrem karena oversupply global, terutama dari Tiongkok yang menekan harga produk hilir, sementara harga minyak mentah sebagai dasar naphtha tetap tinggi. Akibatnya, meski volume ekspor meningkat, setiap ton produk yang dijual malah bikin rugi. Kondisi ini dijelaskan oleh manajemen sendiri sebagai situasi margin terendah dalam sejarah perusahaan.

Sementara itu, segmen energi terbarukan yang dijalankan lewat PT Barito Renewables Energy Tbk BREN justru tampil sebagai penyelamat. Meski hanya menyumbang Rp4,89 Triliun atau 9,3% dari total pendapatan, segmen ini menghasilkan laba kotor sebesar Rp3,85 Triliun, dengan margin mendekati 79%. Angka ini membuktikan bahwa seluruh laba operasional perusahaan saat ini sepenuhnya ditopang oleh lini bisnis energi.

Barito Renewables mengelola proyek panas bumi dan angin seperti Salak, Darajat, Wayang Windu, dan Sidrap, di mana seluruh listrik yang dihasilkan dijual ke PLN dengan kontrak jangka panjang dalam mata uang dolar. Model bisnis ini memberikan pendapatan yang stabil, tidak dipengaruhi fluktuasi harga komoditas global, dan secara arus kas jauh lebih bisa diandalkan dibanding petrokimia yang siklikal. Kombinasi volume kecil tapi margin besar inilah yang menjadi bantalan keuangan BRPT di tengah badai sektor plastik.

Namun ketika masuk ke bagian laba bersih, cerita berubah drastis. BRPT melaporkan laba sebelum pajak sebesar Rp27,90 Triliun, yang terlihat sangat besar. Tapi kalau dilihat lebih cermat, hampir seluruh angka itu berasal dari pos keuntungan satu kali, yaitu gain on acquisition senilai Rp28,53 Triliun. Ini berasal dari akuisisi Aster Chemicals and Energy oleh Chandra Asri, di mana setelah akuisisi dilakukan, kepemilikan yang sebelumnya minoritas diukur ulang ke nilai wajar dan selisihnya diakui sebagai keuntungan akuntansi.

Tidak ada uang masuk. Tidak ada produk dijual. Tidak ada efisiensi proses produksi. Ini murni penyesuaian nilai investasi sesuai standar akuntansi. Tanpa pos satu kali ini, maka laba sebelum pajak BRPT sesungguhnya negatif. Kontribusi laba operasional reguler dari segmen energi dan entitas asosiasi sekitar Rp4,76 Triliun, tidak cukup untuk menutup beban bunga yang mencapai Rp3,08 Triliun dan beban lainnya.

Arus kas operasional perusahaan juga belum mencerminkan kekuatan bisnis yang mandiri. Cash flow dari aktivitas operasi masih negatif Rp815,2 Miliar, meskipun membaik dibanding tahun lalu yang defisit Rp5,43 Triliun. Tapi tetap saja defisit. Artinya perusahaan belum bisa menghasilkan uang tunai dari bisnis hariannya. Sementara belanja modal alias capex justru tetap besar, mencapai Rp5,84 Triliun.

Jadi bagaimana kas mereka bisa bertambah? Jawabannya bukan dari laba, melainkan dari pinjaman baru dan kontribusi dari kepentingan nonpengendali. Dana dari pembiayaan ini mencapai total Rp31,13 Triliun. Dengan kata lain, kas mereka sehat bukan karena bisnisnya sudah menghasilkan arus kas positif, tapi karena masih ditopang oleh utang dan suntikan dana dari investor lain.

Secara model bisnis, BRPT berada dalam posisi silang antara masa lalu dan masa depan. Di satu sisi mereka masih memikul bisnis petrokimia raksasa yang secara historis menjadi penopang utama, tapi kini sedang terpuruk karena tekanan global yang tidak bisa mereka kendalikan. Di sisi lain, mereka mulai menanam masa depan lewat energi terbarukan yang lebih stabil, punya margin tinggi, dan tidak terlalu sensitif terhadap siklus ekonomi.

Tapi saat ini, struktur bisnis mereka masih timpang. Revenue masih 90% dari petrokimia, tapi laba kotor sepenuhnya dari energi. Artinya, selama komposisi ini belum berubah secara signifikan, laporan keuangan BRPT akan tetap memuat ketidakseimbangan yang menyulitkan investor menilai kekuatan sebenarnya dari perusahaan ini.

🟢 Energi BREN menyumbang laba kotor Rp3,85 Triliun dengan margin sangat tinggi dan arus kas stabil
🔴 Petrokimia TPIA nyumbang revenue Rp47,76 Triliun tapi rugi kotor Rp1,62 Triliun karena spread harga buruk
🔴 Laba bersih Rp27,90 Triliun bukan berasal dari bisnis inti tapi dari akuntansi gain on acquisition ACE oleh TPIA senilai Rp28,53 Triliun
🔴 Arus kas operasi masih negatif Rp815,2 Miliar dan capex tetap tinggi Rp5,84 Triliun
🔴 Kenaikan saldo kas ditopang utang dan suntikan investor minoritas senilai Rp31,13 Triliun
🟢 Model bisnis energi punya potensi keberlanjutan karena kontrak PLN jangka panjang dan stabilitas dolar

Melihat kondisi ini, BRPT belum bisa dikatakan sebagai perusahaan yang sudah sustainable dari sisi kinerja keuangan. Mereka punya prospek cerah lewat BREN dan bisnis energi terbarukan, tapi segmen ini belum cukup besar untuk menutupi semua beban dari petrokimia dan pembiayaan korporasi.

Mereka juga belum membuktikan bahwa mereka bisa menghasilkan arus kas yang cukup dari operasi untuk membiayai belanja modal dan kewajiban bunga. Selama hal ini belum tercapai, maka laba bersih yang besar masih belum mencerminkan kekuatan fundamental. Ke depan, transformasi model bisnis akan sangat ditentukan oleh seberapa cepat dan efektif mereka bisa mengembangkan porsi energi, sekaligus menekan ketergantungan terhadap bisnis resin yang makin terdisrupsi.

BRPT saat ini masih berada di tengah jalan. Di atas kertas mereka terlihat menguntungkan, tapi kenyataannya sebagian besar berasal dari pos non-kas yang tidak akan berulang. Kontribusi energi ke profit sangat besar, tapi ke revenue masih kecil. Arus kas operasi masih negatif, dan rasio utang bertambah karena proyek ekspansi masih agresif. Harapan tetap terbuka karena fondasi energi mereka kokoh dan jangka panjang.

Tapi jika petrokimia tetap tekor dan ekspansi energi melambat, maka struktur ini bisa menjadi beban jangka panjang. Sebaliknya, jika BREN terus tumbuh, arus kas masuk makin kuat, dan pembiayaan mulai berkurang, maka BRPT bisa bertransformasi penuh menjadi perusahaan energi hijau berkelas dunia. Sekarang semuanya kembali ke disiplin eksekusi dan keberanian manajemen memotong yang tidak sehat dan memperkuat yang berkelanjutan. 

Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi.

PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Mau belajar cara pilih saham yang sehat & potensial secara teknikal dan fundamental? Mulai dari sini!

https://bit.ly/pintarsahamid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here