Request dari member yang pengen pembahasan tentang saham BOAT. Ini BOAT adalah salah satu saham kapal yang Pemegang Saham Pengendali (PSP) nya adalah keluarga Sukarno. Apakah ada hubungan dengan Presiden Indonesia yang pertama, entahlah. Fokus saja ke data LK.
Kalau investor bandingkan BOAT, SMDR, dan GTSI, sebenarnya ini bukan sekadar sama-sama kapal. BOAT itu pemain offshore minyak dan gas, bertumpu pada kontrak kapal penunjang dan banyak mengandalkan pola asset-light lewat kapal sewa.
SMDR itu raksasa logistik maritim terintegrasi, kontainer, pelabuhan, keagenan, pergudangan. GTSI itu spesialis liquefied natural gas (LNG), jadi bisnisnya lebih ke kontrak energi domestik yang panjang, bukan volume kontainer atau siklus tongkang batubara.
Dari ukuran bisnis, perbedaannya tidak main-main. Revenue BOAT di LK Q3 2025 hanya USD 12,84 juta, GTSI USD 26,87 juta, SMDR USD 571,55 juta. Artinya SMDR sekitar 44,51 kali lebih besar dari BOAT, dan sekitar 21,27 kali lebih besar dari GTSI dari sisi pendapatan.
Di laba bersih, BOAT USD 1,31 juta, GTSI USD 4,87 juta, SMDR USD 64,06 juta, jadi SMDR sekitar 48,90 kali lebih gede dari BOAT. Ini menjelaskan kenapa SMDR bisa punya daya tahan lebih baik saat satu lini bisnis melambat, karena mesin pendapatannya banyak.
Kalau investor lihat kualitas laba, menariknya margin bersih atau NPM BOAT sekitar 10,20%, SMDR sekitar 11,21%, GTSI sekitar 18,12%. Jadi yang paling tebal margin labanya di LK Q3 2025 adalah GTSI.
Namun tebal bukan berarti paling aman, karena GTSI sangat terkonsentrasi ke klien BUMN, PT PLN Energi Primer Indonesia (70%) dan PT Pertamina International Shipping (28%). Ini enak saat kontrak lancar, tapi kalau ada renegosiasi tarif atau perubahan kebijakan, dampaknya bisa langsung terasa.
Dari sisi modal dan penyangga neraca, BOAT terlihat rapi untuk ukuran emiten kecil. Ekuitas BOAT USD 25,28 juta, dengan rasio utang bersih terhadap ekuitas 33,16%, turun dari 40,38%, plus kas USD 707.896.
SMDR jauh lebih tebal, ekuitas USD 760,85 juta, kas USD 329 juta, jadi ruang manuvernya luas untuk capex, ekspansi, atau tahan badai. GTSI ekuitas USD 69,21 juta, dan karena bisnis LNG itu padat aset dan padat kontrak, investor biasanya perlu lebih teliti ke struktur pendanaan dan ketergantungan kontrak.
Bagian yang sering bikin investor keliru menangkap maksud ada di EPS. Earnings per share (EPS) 9M 2025 BOAT USD 0,00037, SMDR USD 0,003, GTSI sekitar USD 0,00030. Angka kecil bukan berarti laba kecil, tapi karena saham beredar jumbo.
BOAT 3,50 miliar saham, SMDR 16,37 miliar, GTSI 15,81 miliar. Jadi per lembar memang tipis, dan ini yang membuat valuasi jadi terasa mahal atau murah ketika dibandingkan.
Kalau bicara valuasi yang investor sering pakai buat penilaian kilat, price to earnings (P/E) versi annualized dengan kurs USD 1 sama dengan Rp16.000 menghasilkan gambaran yang kontras. SMDR di harga 396 punya P/E sekitar 6,1 kali, BOAT di harga 173 sekitar 21,6 kali, GTSI di harga 302 sekitar 47,2 kali.
Di sini pasar sedang memberi premium besar ke GTSI dan BOAT dibanding SMDR, entah karena cerita niche, kontrak, atau ekspektasi pertumbuhan. Masalahnya, premium itu menuntut eksekusi yang konsisten, karena sedikit saja laba meleset, rerating bisa terjadi.
Yang paling menarik dari BOAT justru bukan ukurannya, tapi cara dia mencetak kenaikan lewat kapal sewa. Pendapatan segmen kapal sewa naik 148% dari USD 3,25 juta menjadi USD 8,08 juta, bahkan hasil segmen bersih kapal sewa USD 1,73 juta lebih tinggi daripada kapal milik USD 0,95 juta. Ini memberi sinyal BOAT bisa fleksibel mengejar peluang tanpa harus selalu menambah aset kapal sendiri, tapi konsekuensinya adalah ketergantungan pada ketersediaan kapal sewa dan margin sewa yang bisa berubah.
Disclaimer: Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!