BNLI alias Bank Permata ini mungkin dulu sempat dipandang sebelah mata karena sempat ketar-ketir di awal 2010-an akibat banyak kredit macet waktu masih dipegang ASII, tapi sekarang setelah diambil alih Bangkok Bank dari Thailand, arah anginnya berubah total. Per Maret 2025, total aset bank ini tembus 264,3 Triliun, naik 2% dibanding akhir 2024.
Motor utamanya tetap kredit, yang mencapai 145,6 Triliun atau naik 1,2%, lalu diikuti surat berharga yang naik 4,4% jadi 67 Triliun. Penempatan dana di BI dan bank lain justru turun hampir 4 Triliun, bisa jadi karena manajemen mulai memilih instrumen yang kasih yield lebih tinggi ketimbang cuma parkir likuiditas.
Di sisi funding, DPK-nya nambah tipis-tipis aja, dari 185,8 Triliun ke 187,7 Triliun atau naik 1%. Tapi menariknya, komposisinya makin efisien. Giro melonjak 8% jadi 66,3 Triliun dan tabungan naik 2,4 Triliun jadi 43,7 Triliun. Sementara deposito justru turun 6,7% ke 77,8 Triliun. Artinya, CASA ratio-nya naik jadi 58,5%, yang bikin biaya dana tetap adem walau bunga pasar belum turun signifikan. Cost of fund tetap stabil, dan beban bunga plus beban syariah cuma naik 2,4% yoy jadi 1,8 Triliun, artinya efisiensi funding jalan.
Soal pendapatan, net interest income BNLI di kuartal ini 2,44 Triliun, tumbuh 1,6%. Pendapatan non-bunga stagnan di 0,38 Triliun, jadi kontribusi fee-based income belum terlalu agresif. Total pendapatan operasional 3,02 Triliun ketemu beban operasional 1,99 Triliun, jadi BOPO di kisaran 66%.
CKPN naik cukup tajam ke 0,62 Triliun atau naik 33% yoy, artinya bank ini agak waspada terhadap potensi risiko kredit, bisa jadi karena habis masa relaksasi pasca pandemi. Laba bersih akhirnya mendarat di 0,79 Triliun, turun 2,3% yoy, yang mostly karena tekanan provisi, bukan karena penurunan pendapatan inti.
Dari sisi kualitas aset, posisi kredit bermasalahnya masih aman. NPL bruto 1,98% dan net hanya 0,33%. Bank juga sediakan CKPN sampai 11,97 Triliun, jadi coverage ratio-nya 400%, alias bantalan cadangannya super tebal kalau ada kredit yang macet. LDR-nya 78%, artinya ruang ekspansi masih luas, tinggal manajemen mau atau enggak ambil risiko lebih.
Modalnya juga enggak ada cerita. CAR 33,6% dan CET-1 21,1%, jauh di atas batas minimal regulator. Net Open Position 0,15%, jadi eksposur kurs juga minim. Ini bikin BNLI relatif aman dari shock nilai tukar ataupun krisis makro yang mendadak.
Cashflow-nya juga matching sama profit. Arus kas dari operasional positif 0,93 Triliun, lebih tinggi sedikit dari laba bersih. Artinya, laba yang dilaporkan benar-benar berbasis kas, bukan cuma angka akuntansi. Arus investasi defisit 2,25 Triliun karena belanja surat berharga, tapi ditutup lewat pendanaan via repo sebesar 1,36 Triliun. Jadi saldo kas akhir masih sehat di 23,5 Triliun.
Soal transaksi pihak berelasi, ini bank termasuk tertib. Kredit ke afiliasi 0,64 Triliun dan simpanan dari afiliasi kurang dari 0,30 Triliun. Angka segitu kecil banget dibanding total aset, jadi risiko governance dan conflict of interest minim.
Risiko utama yang layak dipantau ada di margin. Persaingan di tabungan makin ketat, dan kalau CASA stagnan, bank terpaksa bakal balik lagi ke deposito mahal. CKPN yang naik juga bisa terus menggerus laba kalau kualitas kredit mulai memburuk. Tapi sejauh ini belum ada tanda-tanda window dressing atau permainan angka. Pergerakan provisi dan aset produktif sejalan, dan kalau pakai pendekatan Beneish M-Score, bank ini masih jauh dari kategori manipulatif.
Dengan harga pasar di 2.500 per lembar, PBV-nya ada di sekitar 2,1x, dan PER sekitar 28x kalau EPS kuartalan 22 Rupiah diannualisasi. Bandingkan dengan rata-rata bank KBMI 3 yang PBV-nya 1,5–2x dan PER 15–20x, BNLI ini tergolong premium.
Tapi premiumnya bukan karena digoreng asing atau diborong ritel, karena net buy asing juga tipis dan jumlah investor ritel stabil. Jadi market kelihatannya kasih premium buat kualitas modal, disiplin risiko, dan kepemilikan asing dari Bangkok Bank.
Kalau ditanya apakah BNLI overvalued atau undervalued, jawabannya ada di tengah. Secara angka dia memang mahal, tapi bukan bubble. Masih layak buat yang cari bank dengan pertumbuhan stabil, risiko rendah, dan struktur modal super sehat.
Tapi kalau ternyata NPL naik di atas 2,5%, coverage jebol karena write-off agresif, atau CASA turun drastis, maka valuasi ini bisa dianggap overpriced. Selama tiga hal itu belum kejadian, BNLI ini boleh dibilang mahal yang masuk akal.
Cari saham bagus tapi bingung mulai dari mana? Ini dia panduan yang kamu butuhkan.