BNI adalah salah satu bank besar dengan positioning kuat di segmen corporate. Plafon kredit nasabah utama mereka berada di atas Rp500 miliar. Hal ini tercermin dari komposisi kredit yang 56% disalurkan ke nasabah corporate, dengan loan yield sekitar 6,7%.
Masalahnya, loan yield di segmen corporate ini relatif rendah dibanding segmen lain. Di small segment, nasabah dengan plafon kredit sampai Rp15 miliar, BNI bisa mencatat loan yield hingga 9,6%. Tapi porsinya hanya 9,4% dari total pinjaman. Segmen medium dengan plafon Rp10–150 miliar juga lebih menarik dengan yield 7,4%, namun kontribusinya tidak sebesar corporate.
Dengan struktur portofolio seperti ini, margin BNI cenderung menurun. Data Q2 2025 memperlihatkan beberapa tekanan penting:
- Beban bunga naik 7% YoY
- Pendapatan bunga hanya naik 4,5% YoY
- Net Interest Income (NII) naik tipis 2,3% YoY
- Biaya operasional melonjak 7,2% dibanding kuartal sebelumnya
- Biaya provisi tumbuh 7,9% YoY
Akibatnya, laba bersih BNI turun 5,6% YoY atau 12,4% QoQ.
Tekanan terbesar terlihat di NIM (Net Interest Margin). Pada Q2 2025, NIM BNI hanya 3,7%, level terendah dalam lima tahun terakhir. Penyebabnya kombinasi dari meningkatnya cost of fund dan dominasi segmen corporate yang secara yield memang lebih rendah.
Bagi investor, kondisi ini memberi sinyal bahwa strategi BNI yang fokus di corporate membawa tantangan tersendiri. Secara kualitas aset, segmen besar biasanya lebih aman, tapi secara profitabilitas bank kehilangan peluang margin yang lebih tinggi dari segmen kecil dan menengah.
Ke depan, kunci BNI ada pada kemampuan menyeimbangkan portofolio kredit agar NIM tidak semakin tergerus. Apakah mereka akan tetap menjaga basis corporate yang besar demi stabilitas, atau lebih agresif masuk ke small dan medium untuk mengejar yield lebih tinggi, akan jadi faktor penting bagi kinerja laba BNI ke depan.
Disclaimer:
Tulisan ini merupakan opini pribadi kontributor dan tidak mencerminkan pandangan resmi PintarSaham.id. Bukan merupakan rekomendasi investasi. Konten ini bersifat edukatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Data dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi pasar dan laporan terbaru.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!


