Mari kita mulai dari pengaruh dan kontribusi Syariah dalam tubuh BNGA. Per 31 Maret 2025, aset segmen Syariah mencapai Rp64,78 Triliun, alias 17,5% dari total aset BNGA Rp370,99 Triliun.
Liabilitasnya pun besar, Rp51,04 Triliun, sekitar 16,2% dari total liabilitas BNGA. Secara struktur neraca, UUS bukan segmen kecil. Ia nyumbang nyaris seperlima dari isi neraca BNGA.
Bagaimana dengan income? Laba sebelum pajak Syariah tercatat Rp374 Miliar, atau 16,7% dari total Rp2,24 Triliun. Setelah pajak, kontribusinya tetap signifikan, yaitu 20,3% dari total laba bersih BNGA Rp1,84 Triliun. Ini artinya, setiap 5 rupiah laba bersih yang BNGA hasilkan.
Tapi sayangnya, performa UUS makin ke sini makin menunjukkan gejala stagnasi. Di saat segmen Tresuri naik aset +12,4% yoy, Korporasi tumbuh +16,9%, bahkan Anak Usaha meledak +68,1%, aset UUS cuma tumbuh +0,3%, nyaris diam di tempat. Lebih parah, laba sebelum pajaknya turun 14,5% dari tahun sebelumnya. Jadi meskipun kontribusinya besar, UUS sudah masuk ke fase besar tapi berat.
Kalau kita bandingkan dari sisi margin, ceritanya makin menarik. ROA (return on asset) segmen Syariah hanya 0,58%, lebih rendah dibanding Ritel (1,58%), Korporasi (1,11%), bahkan Anak Usaha (1,80%).
Dari sisi ROE, UUS Syariah mencatat 2,72%, kalah dari Korporasi (4,51%) dan Anak Usaha (4,56%). Bahkan jika kita lihat margin terhadap estimasi kredit (sekitar Rp45–48 Triliun), UUS cuma mencetak 0,83%, kalah dari Ritel (2,16%) dan Bisnis (1,96%). Dengan kata lain, UUS memang besar, tapi makin tidak efisien.
Masalah makin dalam saat kita lihat impairment loss segmen Syariah yang mencapai Rp190,4 Miliar di Q1 2025. Ini adalah angka terbesar di antara seluruh segmen. Jadi kalau segmen lain lagi semangat cari margin, UUS malah sibuk menambal kerugian akibat pembiayaan macet.
Keuntungan buat UUS jika spin-off:
- Kendali penuh atas bisnis. Gak perlu lagi numpang infrastruktur konvensional. Bebas bikin produk Syariah tanpa kompromi seperti BRIS dan BTPS.
- Potensi IPO dan investor baru. Bisa tarik modal dari investor yang memang fokus di keuangan syariah, tanpa harus berbagi panggung dengan produk non-Syariah.
- Efisiensi terukur. Biaya operasional memang mungkin naik, tapi fleksibilitas jangka panjang lebih besar.
- Strategi jangka panjang bisa lebih agresif. Masuk fintech Syariah, digital zakat, dan skema hybrid akad baru.
Keuntungan buat BNGA:
- Neraca lebih bersih. Aset turun, tapi segmen berisiko tinggi seperti UUS dipisah. ROA dan ROE bisa naik.
- Efisiensi operasional meningkat. Tak perlu lagi pusing jaga keseimbangan dua sistem: konvensional dan Syariah.
- Bebas dari impairment loss tinggi. Beban UUS nggak perlu ditanggung konsolidasi.
- Fokus ke segmen yang jelas tumbuh. Ritel, Bisnis, dan Anak Usaha lagi moncer.
Keuntungan buat investor BNGA:
- EPS langsung turun sekitar 20%. Karena kehilangan penyumbang laba.
- Skala bisnis mengecil. Bisa memengaruhi persepsi institusi yang senang big-cap bank.
- Kalau spin-off tidak transparan, dan tidak ada alokasi saham ke investor lama, pasar bisa bereaksi negatif.
Dan jangan lupakan, ini semua bergantung pada satu faktor yaitu eksekusi. Kalau spin-off dijalankan profesional, dengan valuasi wajar, manajemen baru kredibel, roadmap pertumbuhan jelas, dan transparansi tinggi, ini bisa jadi win-win.
Tapi kalau malah jadi ajang goreng IPO, diambil alih oleh jaringan BudiDolDol, dan dijual dengan narasi ESG syariah tapi di balik layar pakai skema gorengan, maka ini bisa jadi tragedi pasar modal.
Cari saham bagus tapi bingung mulai dari mana? Ini dia panduan yang kamu butuhkan.


