Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightBig Bank Kena Beng Beng?

Big Bank Kena Beng Beng?

Sekarang pasar modal Indonesia sedang lucu. IHSG memang naik, tapi penyebab utamanya bukan karena mayoritas saham naik. Justru, indeks digerakkan hampir sepenuhnya oleh saham-saham milik Prajogo Pangestu seperti CUAN, BREN, BRPT, PTRO, dan TPIA. Dari total transaksi harian Rp9,85 triliun, sekitar Rp3,38 triliun atau 34,3 persen hanya berasal dari 5 saham grup Barito.

Artinya, sepertiga dari seluruh pergerakan pasar datang dari satu keluarga bisnis saja. Harga sahamnya pun melesat tajam dalam sehari, CDIA naik 25 persen, BREN naik 19,67 persen, CUAN naik 19,27 persen, PTRO naik 18,18 persen, dan BRPT naik 12,78 persen. Ini bukan korelasi biasa, ini kompak seperti marching band yang dikendalikan satu komando. Wajar kalau muncul pertanyaan apakah ini sehat.

Jawabannya secara fundamental jelas tidak sehat. Tapi secara psikologis pasar, ini sangat efektif. Bandar berhasil mengarahkan sentimen dan likuiditas pasar ke saham-saham tertentu, dan investor ritel ikut terbawa arus, bahkan mungkin tidak sadar sedang berdansa di tengah bubble yang dibentuk kolektif.

Yang membuat makin menarik adalah, sementara saham Prajogo terbang, saham-saham dari grup konglomerat lain seperti Salim, Sinar Mas, Astra, bahkan big bank pelat merah pun stagnan atau justru turun. Padahal, dari sisi fundamental, big bank justru lebih kuat. BBCA misalnya punya lebih dari 481 ribu investor, harga 8.500, dividen rutin, NIM stabil, dan laba yang konsisten tumbuh. 

BBRI malah punya lebih banyak investor, 674 ribu, dengan harga 3.760 dan jaringan UMKM terbesar di Indonesia. BMRI, BBNI, BRIS, BTN, semua ini punya fundamental kokoh, pendapatan bunga jelas, cadangan kerugian dicatat, beban operasional transparan. Tapi entah kenapa, para investor besar seperti lupa mereka ada. Bisa jadi karena mereka tidak diangkat di sosial media, tidak jadi bahan gorengan, atau karena mereka terlalu membosankan dibanding drama bubble Prajogo yang jauh lebih menarik buat spekulan jangka pendek.

Di tengah kekosongan arah pasar yang bergantung pada satu grup besar, justru saham-saham big bank menawarkan ketenangan di tengah badai. Big fund yang masuk ke saham Prajogo mungkin sedang mengejar momentum, bukan fundamental. Tapi untuk investor rasional yang ingin pegang saham dengan return jangka panjang dan risiko lebih terukur, big bank adalah kandidat terbaik.

Kenapa, karena mereka punya customer base besar, segmen bisnis yang reguler (lending, fee-based, treasury), dan sudah terbukti survive dari krisis ke krisis. Bahkan saat tren digital bank sempat mengalahkan mereka tahun lalu, sekarang justru big bank yang konsisten perform dan kasih dividen besar.

BBNI saat ini PBV-nya cuma 0,89 kali, murah sekali untuk bank sekelas BNI dengan aset triliunan rupiah. BMRI dengan PBV 1,73 kali juga masih wajar kalau dibandingkan dengan BREN yang PBV-nya bisa 5 kali ke atas. Kalau dibandingkan, saham big bank sudah sangat undervalued.

Tapi karena tidak ada bandar yang memelihara harga mereka seperti saham Prajogo, harga mereka jalan lambat. Padahal, dari segi kualitas, saham big bank jauh lebih baik, likuid, dan logis. Investor tinggal sabar. Beda dengan saham gorengan yang naik cepat tapi juga bisa turun lebih cepat.

Jadi di tengah hype dan euforia terhadap saham-saham konglomerat seperti milik Prajogo, justru saham big bank terlihat makin menarik. Mereka mungkin tidak punya daya tarik story seperti saham energi terbarukan atau green bubble, tapi mereka punya yang lebih penting, cash flow nyata, laba konsisten, manajemen prudent, dan struktur pemegang saham yang tersebar.

Justru di saat sentimen sedang condong ke saham-saham bubble, itulah waktu terbaik mengakumulasi saham yang fundamentalnya kuat tapi lagi dilupakan. Ketika euforia selesai dan realita kembali, saham seperti BBCA, BMRI, atau BBNI akan menunjukkan bahwa kekuatan jangka panjang tetap dimenangkan oleh yang rasional.

Jadi kalau investor merasa lelah dengan drama saham bubble, mungkin saatnya istirahat sebentar di terminal big bank. Bisa sambil ngopi, sambil nikmati dividen tiap tahun. Sambil nunggu pasar sadar lagi bahwa yang stabil dan konsisten itu layak dihargai lebih tinggi dari sekadar sensasi sesaat.

Mau belajar cara pilih saham yang sehat & potensial secara teknikal dan fundamental? Mulai dari sini!

https://bit.ly/pintarsahamid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here