ZBRA memang sedang jadi sorotan karena kombinasi masalah keuangan dan isu hukum yang membelit pemiliknya. Perusahaan ini awalnya dikenal sebagai PT Zebra Nusantara, lalu diambil alih oleh grup Rudy Tanoesoedibjo dan berganti nama menjadi PT Dosni Roha Indonesia Tbk dengan fokus di distribusi dan logistik. Di masa lalu, nama Yusuf Mansur sempat muncul karena dikaitkan dengan masuknya ke saham ZBRA, yang waktu itu memicu euforia harga meski belakangan tidak ada jejak lebih lanjut soal perannya.
Masalah utama muncul ketika anak usaha ZBRA, PT Dos Ni Roha, gagal membayar utang ke PT Bank QNB Indonesia Tbk atau BKSW. Akibatnya pada Juni 2025 pengadilan memutuskan perusahaan masuk status PKPU Sementara. Status ini jelas bikin keuangan dan operasional terguncang karena artinya perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban utangnya sesuai jadwal. Kondisi ini kemudian diperburuk dengan keputusan Bursa Efek Indonesia yang mensuspensi perdagangan saham ZBRA pada Agustus 2025 dengan alasan ketidakpastian kelangsungan usaha. Sebelum kena gembok, saham ZBRA sudah merosot sampai Rp50 dan masuk papan pemantauan khusus.
Di saat bersamaan, muncul masalah hukum lain yang menimpa keluarga Tanoesoedibjo. Bambang Rudijanto Tanoesoedibjo, kakak dari Hary Tanoesoedibjo yang juga pemilik grup, ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi bansos beras tahun 2020. Kasus ini nilainya besar dengan kerugian negara yang ditaksir mencapai Rp200 miliar. Rudy Tanoe lantas mengajukan praperadilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan untuk menggugat penetapan tersangka tersebut. Sidang praperadilan dijadwalkan pada pertengahan September 2025 dan menjadi perhatian publik.
Kombinasi antara gagal bayar utang, status PKPU, suspensi perdagangan saham, ditambah kasus hukum kakak pemilik grup membuat citra ZBRA makin tertekan. Investor sulit mendapat kejelasan soal masa depan perusahaan, sementara reputasi keluarga pemiliknya juga tengah diuji. Situasi ini memperlihatkan bagaimana masalah keuangan dan hukum bisa berjalan beriringan, saling memperburuk risiko yang dihadapi perusahaan di mata pasar.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!