Tiga bulan pertama tahun 2025 menjadi panggung ekspansi agresif bagi PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF). Tidak hanya dari sisi bisnis, ekspansi juga tercermin dari angka-angka yang melonjak tajam di laporan keuangan kuartal I. Laba bersih perusahaan melonjak 204% secara tahunan (YoY) menjadi Rp43,55 miliar—meski margin justru menyusut. Fenomena ini terjadi bukan karena efisiensi biaya semata, melainkan berkat akuisisi empat anak usaha baru yang bergerak di sektor perdagangan dan pengolahan daging. Akuisisi tersebut rampung pada pertengahan 2024, dan mulai dikonsolidasikan penuh pada laporan Q1 2025. Dampaknya luar biasa: pendapatan meroket 939% menjadi Rp2,37 triliun. Penting dicatat, ini bukan transaksi konsinyasi atau sekadar markup—BEEF bertindak sebagai prinsipal, sehingga seluruh nilai penjualan masuk ke revenue. Namun, konsekuensinya, harga pokok penjualan (COGS) juga ikut melonjak 1.103% menjadi Rp2,25 triliun. Gross margin pun menyusut tajam, dari 18% menjadi hanya 5%. Meski begitu, karena volume penjualan meningkat drastis, laba kotor tetap naik 188% menjadi Rp118,1 miliar. Secara sederhana, BEEF mengadopsi model “dagang tipis tapi masif”—mengejar kuantitas besar meski margin kecil. Dari sisi efisiensi, ada perkembangan positif. Beban penjualan dan administrasi (G&A) hanya naik 94%, jauh lebih rendah dibanding kenaikan laba kotor. Ini membuat laba operasi melesat 309% ke Rp73,5 miliar, meski margin operasi terkoreksi ke level 3,1%.
Namun, ada ganjalan di pos “pendapatan/beban lain-lain”, yang tercatat minus Rp12,6 miliar. Penyebab utamanya adalah kenaikan signifikan bunga utang jangka pendek, yang melonjak dari Rp262 miliar di akhir 2024 menjadi Rp804 miliar. Beban bunga untuk Q1 saja mencapai Rp17,4 miliar, dengan suku bunga efektif sekitar 31%. Meski demikian, tidak ada kontribusi laba dari aktivitas non-operasional seperti penjualan aset atau revaluasi. Artinya, laba bersih Rp43,6 miliar ini sepenuhnya berasal dari aktivitas inti perusahaan—suatu sinyal positif untuk kualitas profitabilitas. Di neraca, persediaan melonjak 181% menjadi Rp778 miliar, mencerminkan volume distribusi yang semakin besar. Kas justru turun 21% menjadi Rp109,9 miliar, sementara utang dagang dan pinjaman jangka pendek naik signifikan. Pinjaman jangka pendek bertambah Rp543 miliar, sedangkan utang jangka panjang berkurang Rp471 miliar—mengindikasikan ketergantungan yang lebih tinggi pada pembiayaan harian bank. Ekuitas yang sebelumnya defisit Rp388 miliar kini membaik menjadi minus Rp345 miliar, ditopang oleh laba ditahan dan tambahan modal dari transaksi sepengendali. Posisi modal kerja juga berbalik dari negatif Rp167 miliar menjadi surplus Rp576,7 miliar, sebagian besar karena pemasok belum dibayar, yang menyebabkan utang dagang membengkak. Uang masuk ini cukup untuk menutupi belanja modal (CAPEX) Rp71 miliar dan pelunasan utang bersih Rp481 miliar. Meskipun kas turun, arus kas operasional tetap positif Rp20 miliar—artinya laba benar-benar masuk ke kas, meskipun masih mengandalkan mekanisme “utang dulu, bayar belakangan”. Empat anak usaha baru yang diakuisisi, dengan kepemilikan 99–99,6%, menyumbang aset sebesar Rp301 miliar dan dikonsolidasikan penuh. Ini menjelaskan mengapa hampir seluruh laba bersih menjadi milik induk, dengan porsi non-pengendali hanya Rp33.800—praktis hanya formalitas. Laporan arus kas konsolidasi dan induk juga berbeda karena induk tidak mencatat perputaran stok dan piutang anak usaha secara langsung. Namun karena laporan interim tidak menyajikan rincian laporan induk tersendiri, maka analisis wajib mengacu pada data konsolidasi.


