BBTN menjadi salah satu bank tier 2 yang sudah rilis LK Q3 2025. Untuk big bank tier 1 seperti $BBCA dan BBNI juga sudah rilis LK Q3 2025. Menariknya, hanya BBCA yang labanya naik. BBNI sempat rebound, meskipun labanya turun.
Jadi ketika giliran BBTN keluar laporan, banyak investor sudah siap dengan rasa waswas. Ternyata laba BBTN juga naik.
Senyuman pun terbit. Namun, dalam dunia perbankan, senyuman saja tidak menjawab semua hal.
Karena bank bukan cuma cerita soal laba. Bank adalah tentang laba yang berkualitas. Tentang risiko yang tersembunyi.
Pendapatan bunga bruto BBTN naik menjadi 26,59 Triliun Rupiah. Tumbuh 18,90% dibanding tahun lalu.
Sementara biaya bunga hanya naik 2,52%. Ini seperti naik kelas, tapi bayar uang sekolahnya tetap segitu-segitu saja.
Hasil akhirnya, pendapatan bunga neto atau NII meroket 44,49% menjadi 12,61 Triliun Rupiah. Untuk bank sebesar BBTN, kenaikan NII di atas 40% itu bukan sekadar bagus, tapi mewah.
Namun setiap pertumbuhan kredit selalu ditemani bayangan risiko kredit. Itu hukumnya. Beban CKPN melonjak dari 1,31 Triliun Rupiah menjadi 4,48 Triliun Rupiah, atau naik 242,49%.
Jadi tambahan mesin turbo dari NII pada dasarnya dihabiskan untuk membangun pagar pengaman dari kredit yang semakin berisiko. Rasio kredit bermasalah naik dari 3,16% menjadi 3,45%.
Tampaknya kecil, tapi itu dari basis kredit total sekitar 381 Triliun Rupiah. Naik sepersekian persen berarti tambahan potensi kerugian bisa triliunan Rupiah.
Investor yang tidak mau pusing akan bilang angka NPL masih aman. Investor yang kritis akan bilang ini tanda bahaya sedang berkedip. Upgrade Skill
Meski demikian, laba bersih masih mampu naik 10,58% menjadi 2,30 Triliun Rupiah. Di sini penting untuk ditelisik penyusunnya.
Salah satu penyumbang keuntungan berasal dari perubahan nilai wajar efek-efek. Keuntungan pasar seperti ini tidak selamanya bersahabat.
Ketika suku bunga global goyang, portofolio investasi bisa ikut mabuk. Jadi laba yang sekarang nampak manis bisa jadi terasa pahit di kuartal berikutnya jika pasar tiba-tiba berbalik arah.
Pendapatan non bunga naik 9,51%. Tidak besar, namun menambah bantalan. Biaya karyawan naik 6,51% menjadi 3,63 Triliun Rupiah. Masih dalam koridor yang terkendali.
Namun liabilitas imbalan kerja jangka panjang juga ikut naik, dan kerugian aktuaria yang muncul membuat ekuitas harus memikul beban tambahan. Sedikit demi sedikit, tekanan itu menumpuk.
Barisan pendanaan BBTN sangat didukung pemerintah dan BUMN. Lebih dari 56% liabilitas berasal dari pihak berelasi. Ini memberikan rasa aman sisi likuiditas.
Namun di sisi strategi, hal ini bisa jadi belenggu. Bank menjadi seperti kapal besar yang stabil, tetapi tidak mudah bermanuver. Padahal kompetisi perbankan ke depan menuntut fleksibilitas dan adaptasi cepat.
Harga saham BBTN saat tulisan ini dibuat adalah 1.205 Rupiah. Itu artinya PER 5,51 kali dan PBV hanya 0,49 kali.
Artinya market belum yakin 100% pada kualitas aset BBTN. Market menunggu bukti. Market belum mau membayar BBTN sesuai PBV 1. Tinggal lihat aja kemampuan bandar goreng BBTN.
ROE BBTN hanya 8,85% dan ROA 0,60%. Ini menegaskan bahwa modal yang sudah ditanam BBTN di kredit KPR belum menghasilkan profit yang menggugah selera investor institusi.
Kalau sebuah bank hanya menghasilkan ROA setipis itu, maka valuasi murah belum tentu jadi alasan beli. Bisa jadi itu malah hukuman.
Investor yang optimis mungkin memandang sebaliknya. Investor yang optimis melihat BBTN ini ibarat pemain bola muda penuh bakat, tapi masih baru selesai terapi cedera.
CKPN besar adalah bentuk pembersihan bank dari dosa masa lalu. Setelah bersih-bersih, hasil akan bersinar.
Kalau ROE bisa tembus 12% misalnya, maka PBV bisa mendekat ke 1 kali dan harga saham berpotensi 2.400 Rupiah. Peluang multibagger di hadapan mata bagi yang berani bersabar. Tapi sekali lagi itu tergantung manajemen dan bandar.
Kalau investor yang pesimis justru menganggap CKPN adalah hal yang menakutkan. Risiko kredit mungkin baru awalnya saja.
Jika kondisi properti melemah terus, maka beban risiko bisa tambah membengkak. Harga saham rendah adalah alarm. Bukan kesempatan.
BBTN di satu sisi sedang di turning point sebagai bank ritel perumahan yang kembali ke posisi strategis. Di sisi lain ada risiko penurunan kualitas kredit yang memaksa bank masuk ke mode pemadaman kebakaran.
Investor mungkin melihat BBTN sebagai mobil bertenaga turbo yang sedang melaju di tikungan. Tenaganya dari kredit growth sangat kuat. Arah ke depan menarik.
Tetapi jalanan masih berkabut karena CKPN gede. Ada investor yang gaspol karena percaya pada kelihaian driver.
Ada juga investor yang lebih suka menunggu jalanan terang, meski risikonya adalah ketinggalan tumpangan bandar.
Pertumbuhan pendapatan inti BBTN ini bisa dikatakan sangat kuat tapi risiko kredit nya dalam bentuk CKPN juga menguat. Valuasi BBTN harus diakui sangat murah.
Pertumbuhan pendapatan inti BBTN ini bisa dikatakan sangat kuat tapi risiko kredit nya dalam bentuk CKPN juga menguat. Valuasi BBTN harus diakui sangat murah.
Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!