Kita mulai dari April 2024. Di masa itu, BBKP mencatat rugi bersih Rp3,3 Triliun. Beban CKPN (penurunan nilai kredit) tembus Rp4,2 Triliun. Ini artinya banyak kredit macet atau perlu dikoreksi nilainya, yang ujungnya jadi beban ke P&L. Total aset memang masih Rp80,17 Triliun dan ekuitas terlihat Rp12,1 Triliun, tapi itu semua ditopang oleh modal disetor yang besar.
Kalau dihitung bersih, akumulasi rugi BBKP sudah mencapai Rp16,75 Triliun. Ini bukan angka main-main. Beban SDM dan operasional lain pun lumayan berat, dan satu hal yang menonjol adalah besarnya aset tak produktif yang mencapai Rp2,7 Triliun dalam bentuk properti yang diambil alih karena gagal bayar. Singkatnya, April 2024 adalah potret bank yang hancur-hancuran.
Lalu kita fast forward ke Maret 2025. Ada secercah harapan. BBKP berhasil mencetak laba Rp342 Miliar. Tapi perlu diingat, sumbernya bukan dari bisnis utama mereka sebagai bank. Yang bikin untung justru penjualan aset tetap senilai Rp435 Miliar.
Tanpa itu? Core operation cuma nyumbang sekitar Rp57 Miliar. Tetap positif, tapi sangat kecil dibanding skala bisnis. CKPN mulai melandai, aset sitaan mulai menurun, dan posisi derivatif valas dalam laporan komitmen masih wajar, sekitar Rp1 Triliun. Artinya, secara fundamental belum pulih, tapi setidaknya tidak kelihatan ada ledakan tersembunyi.
Masuk ke April 2025, BBKP kembali cetak laba Rp233 Miliar. Tapi sekali lagi, itu bukan dari kegiatan bank sehari-hari. Laba operasi justru negatif Rp75 Miliar, artinya tanpa pos luar biasa dari penjualan aset, BBKP rugi. Dan penjualan aset di sini bukan angka kecil, mencapai Rp432 Miliar.
Laba ini menjadi makin mencurigakan ketika di bagian laporan komitmen dan kontinjensi muncul angka besar yang tidak wajar, yakni Posisi valas yang akan diserahkan untuk transaksi spot dan derivatif/forward mencapai Rp110,81 Triliun. Sekilas kayak typo. Tapi angka ini konsisten muncul dalam laporan. Padahal total aset BBKP cuma Rp77 Triliun, ekuitas bersih Rp7,8 Triliun, dan likuiditas cepat bahkan nggak nyampe Rp16 Triliun.
Laporan komitmen dan kontinjensi adalah bagian dari laporan keuangan bank yang mencatat potensi kewajiban atau aset yang belum tentu terjadi, tapi bisa jadi nyata di masa depan, ini yang disebut off-balance sheet exposure.
Komitmen artinya janji bank ke pihak lain untuk menyediakan dana, misalnya fasilitas kredit yang belum ditarik atau kontrak derivatif. Kontinjensi artinya potensi kewajiban, seperti garansi yang diberikan atau gugatan hukum. Keduanya tidak muncul langsung di neraca, tapi tetap berisiko.
Dalam kasus BBKP, angka Rp110,81 Triliun itu dicatat sebagai Posisi valas yang akan diserahkan untuk transaksi spot dan derivatif/forward. Artinya, bank sudah tandatangan kontrak untuk menjual valas sebesar itu di masa depan.
Tapi tidak ada keterangan apakah ini posisi kotor (gross) atau bersih (net), tidak ada informasi lawan transaksi, tidak ada penjelasan hedging, dan tidak ada pengungkapan risiko valas yang memadai. Yang jadi masalah adalah skalanya. Bank BBKP dengan total aset hanya Rp77 Triliun, tapi punya exposure derivatif Rp110 Triliun? Itu ibarat rumah kontrakan yang dijaminkan buat beli kapal pesiar.
Dan ini bukan cuma soal angka. Posisi derivatif sebesar itu berpotensi jadi kewajiban nyata kalau terjadi gejolak nilai tukar. Misalnya kurs dolar naik drastis, BBKP harus menyetor margin tambahan.
Kalau lawannya default atau kondisi pasar nggak mendukung, mereka bisa kena rugi mark-to-market, dan ujung-ujungnya merusak neraca. Hal seperti ini pernah terjadi di banyak bank di Asia saat krisis 1998, di mana eksposur off-balance sheet jadi bom waktu yang akhirnya meledak.
Jadi secara objektif, kalau kita bandingkan:
- April 2024: Terburuk secara rugi, tapi jujur. Tidak ada bom tersembunyi.
- Maret 2025: Baik secara laba, relatif sehat, tapi masih tergantung pada penjualan aset.
- April 2025: Laba masih ada, tapi tidak dari kegiatan inti, dan menyimpan komitmen derivatif jumbo yang mencurigakan.
Masalah BBKP bukan sekadar soal belum bisa cetak laba dari bisnis utama, tapi lebih serius karena mereka menyembunyikan risiko besar di luar neraca, dan tidak transparan menjelaskan asal-usulnya.
Kebaikannya laporan BBKP antara lain seperti aset sitaan yang mulai turun, CKPN yang melandai, dan masih bisa cetak laba, tidak cukup menutup potensi risiko Rp110 Triliun yang bisa meledak sewaktu-waktu. Ini bukan cuma warning, tapi semacam sirene alarm darurat yang dipasang di belakang dashboard bank.
Aneh? Sangat. Karena derivatif sebesar itu seharusnya dijelaskan secara detail. Tidak bisa cuma ditulis satu baris tanpa catatan tambahan. Ini menimbulkan pertanyaan besar, apakah manajemen sadar dengan risiko ini? apakah regulator sudah tahu? dan yang paling penting adalah siapa yang akan bayar kalau tiba-tiba posisi ini loss besar?
Jadi, BBKP saat ini bukan sedang pulih. Mereka sedang menyembunyikan masalah yang jauh lebih serius. Dan kalau tidak dijelaskan secara transparan dan ditangani dengan benar, laporan April 2025 bukanlah tanda pemulihan, tapi tanda bahwa badai berikutnya sudah mulai terbentuk.
Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!


