PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) merupakan salah satu bank terbesar di Indonesia dengan kekuatan utama pada segmen wholesale banking, corporate banking, ekosistem BUMN, jaringan retail banking, serta platform digital seperti Livin’ by Mandiri, Kopra by Mandiri, dan Livin’ Merchant. Sebagai bank BUMN beraset besar, BMRI memiliki posisi strategis dalam pembiayaan sektor produktif, program pemerintah, UMKM, serta transaksi korporasi nasional.
Secara narasi investasi, BMRI saat ini berada dalam posisi menarik karena fundamental bisnis masih tumbuh solid, namun valuasinya sedang berada di area bawah secara historis. Kinerja Q1 2026 menunjukkan pertumbuhan kredit yang kuat, kualitas aset yang terjaga, biaya kredit rendah, serta CASA yang masih menjadi penopang efisiensi biaya dana.
Namun, BMRI juga menghadapi tantangan penting. Tekanan loan yield masih terjadi, terutama dari segmen wholesale yang kompetitif. Pertumbuhan kredit retail juga masih relatif moderat, sementara NIM perlu dijaga agar tidak tergerus lebih dalam oleh persaingan kredit dan kondisi likuiditas industri.
Katalis Jangka Pendek & Menengah:
- Pertumbuhan Kredit Tetap Kuat: Kredit konsolidasi BMRI pada Q1 2026 tumbuh 16,2% YoY menjadi Rp1.614 triliun. Pertumbuhan ini terutama didukung oleh segmen wholesale dan corporate, yang masih menjadi kekuatan utama BMRI.
- CASA dan DPK Masih Menjadi Penopang: CASA konsolidasi tumbuh 13,0% YoY menjadi Rp1.215 triliun, sementara total deposits naik 21,0% YoY menjadi Rp1.730 triliun. Kekuatan dana murah ini penting untuk menjaga cost of fund di tengah kompetisi likuiditas industri perbankan.
- Kualitas Aset Terjaga: NPL konsolidasi berada di level 1,02% pada Q1 2026, sedangkan Loans at Risk (LaR) membaik menjadi 6,02%. Cost of Credit turun dari 0,83% pada Q1 2025 menjadi 0,58% pada Q1 2026.
- Digital Banking Menjadi Mesin Ekosistem: Pada 2025, pengguna Livin’ by Mandiri mencapai sekitar 37 juta, pengguna Kopra sekitar 320 ribu, dan pengguna Livin’ Merchant sekitar 3,1 juta. Ekosistem digital ini menjadi katalis penting untuk meningkatkan fee-based income dan memperkuat hubungan transaksional dengan nasabah.
- Valuasi Relatif Murah: Pada harga 19 Juni 2026 sebesar Rp4.310, BMRI diperdagangkan pada PER 2026F sekitar 7,02x dan PBV 2025 sekitar 1,37x. Posisi ini berada di area bawah berdasarkan band valuasi PE dan PBV 1 tahun.
Laporan Keuangan Q1 2026
Laporan Pendapatan
| Dalam Ribuan IDR | Q1 2026 | Q1 2025 | Growth |
| Total Pendapatan | 37,661,565,000 | 40,054,691,000 | -5.97% |
| Laba Kotor | 25,336,704,000 | 25,933,257,000 | -2.30% |
| Laba Usaha | 19,921,857,000 | 18,113,820,000 | 9.98% |
| Laba Bersih Tahun Berjalan | 16,213,349,000 | 14,530,150,000 | 11.58% |
| Laba Bersih Yang Dapat Diatribusikan kepada Pemilik Entitas Induk | 15,384,131,000 | 13,197,259,000 | 16.57% |
Kinerja Q1 2026 menunjukkan penyusutan revenue. Total revenue turun -5,97% YoY menjadi Rp37,6 triliun, sedangkan laba bersih tahun berjalan mengalami kenaikan sebesar 11,58% menjadi Rp16,2 triliun.
Pertumbuhan laba bersih lebih tinggi dibanding pertumbuhan pendapatan karena beban provisi turun 20,1% YoY yang menunjukkan bahwa kualitas aset yang stabil ikut membantu profitabilitas perseroan.
Neraca
| Dalam Ribuan IDR | Q1 2026 | 2025 | Growth |
| Aset | 2,432,620,835,000 | 2,829,948,026,000 | -14.04% |
| Liabilitas | 2,118,669,327,000 | 2,502,546,028,000 | -15.34% |
| Ekuitas | 313,951,508,000 | 327,401,998,000 | -4.11% |
CASA tumbuh 13,0% YoY menjadi Rp1.215 triliun, menjadi faktor penting dalam menjaga biaya dana. Cost of deposit bank-only turun dari 2,37% pada Q1 2025 menjadi 1,97% pada Q1 2026. Penurunan biaya dana ini membantu menjaga NIM konsolidasi tetap stabil di 4,70%, meskipun loan yield turun dari 7,64% menjadi 7,11%.
Berdasarkan laporan keuangan interim resmi, total aset konsolidasi per 31 Maret 2026 tercatat Rp2.432,62 triliun. Perubahan terutama dipengaruhi oleh perubahan ruang lingkup konsolidasi akibat dekonsolidasi BSI.
Arus Kas
| Dalam Ribuan IDR | Q1 2026 | Q1 2025 | Growth |
| Arus Kas Dari Aktivitas Operasi | -86,676,485,000 | 20,242,157,000 | -528.20% |
| Arus Kas Dari Aktivitas Investasi | 4,025,612,000 | 10,281,948,000 | -60.85% |
| Arus Kas Dari Aktivitas Pendanaan | -7,766,985,000 | -24,041,827,000 | 67.69% |
Arus kas operasional Q1 2026 tercatat negatif Rp86,68 triliun, terutama dipengaruhi oleh perubahan aset dan liabilitas operasional, termasuk peningkatan kredit yang diberikan serta penurunan deposito berjangka. Kondisi ini perlu dibaca dalam konteks bank, karena arus kas operasional bank sangat dipengaruhi oleh pergerakan dana nasabah, kredit, efek, dan instrumen keuangan.
Arus kas investasi masih positif Rp4,03 triliun, terutama berasal dari penurunan efek-efek dan obligasi pemerintah selain yang diukur pada nilai wajar melalui laba rugi. Sementara itu, arus kas pendanaan negatif Rp7,77 triliun, antara lain dipengaruhi oleh pembayaran dividen, pembayaran efek-efek yang diterbitkan, serta aktivitas pinjaman.
Analisa Finansial
- Pertumbuhan Pendapatan: Total revenue turun -5,97% YoY menjadi Rp37,6 triliun. Pertumbuhan laba bersih lebih tinggi dibanding pertumbuhan pendapatan karena beban provisi turun 20,1% YoY yang menunjukkan bahwa kualitas aset yang stabil ikut membantu profitabilitas perseroan.
- Profitabilitas: Pertumbuhan laba lebih tinggi dibanding pertumbuhan pendapatan karena beban provisi turun 20,1% YoY. ROE after tax meningkat menjadi 20,4% dari 18,9% pada Q1 2025, mencerminkan profitabilitas yang masih kuat.
- Likuiditas: Total deposit tumbuh 21,0% YoY menjadi Rp1.730 triliun, sementara CASA tumbuh 13,0% YoY menjadi Rp1.215 triliun. LDR bank-only berada di level 90,9%, masih dalam rentang yang sehat untuk ekspansi kredit, walaupun tetap perlu dipantau karena kompetisi likuiditas industri masih ketat.
- Kualitas Aset: Asset quality BMRI masih sehat dengan NPL konsolidasi 1,02% dan LaR 6,02%. Cost of Credit turun dari 0,83% pada Q1 2025 menjadi 0,58% pada Q1 2026. Hal ini menjadi sinyal positif bahwa ekspansi kredit belum mengorbankan kualitas aset secara agresif.
Estimasi Valuasi dan Harga Wajar
Berdasarkan harga 19 Juni 2026: Rp4.310
- Earning Per Share (EPS) 2025: Rp603,15 per lembar
- Book Value Per Share (BVPS) 2025: sekitar Rp3.267,37 per lembar
- Forecast EPS 2026: sekitar Rp618,10 per lembar berdasarkan estimasi stockbit
Harga Wajar Berdasarkan Valuasi Menggunakan Standar Deviasi 1 Tahun:
- PBV (Price to Book Value):

Berdasarkan BVPS Rp3.267,37 dengan Mean PBV 1,58x, harga wajar berada di Rp 5.162.
- PER (Price to Earning):

Berdasarkan EPS 2026F Rp618,10 per lembar dengan Mean PER 7,99x, harga wajar berada di Rp 4.939.
Risiko & Red Flag
- Dinamika Ekonomi Makro & Bunga: Perlambatan makro ekonomi domestik dan potensi kebijakan suku bunga jangka panjang dapat menekan margin bunga bersih (NIM) serta loan yield.
- Tekanan NIM: Loan yield turun dari 7,64% pada Q1 2025 menjadi 7,11% pada Q1 2026. Walaupun cost of deposit ikut turun, tekanan imbal hasil kredit tetap perlu dipantau.
- Pertumbuhan Retail Masih Moderat: Kredit retail hanya tumbuh 1,9% YoY, jauh lebih lambat dibanding wholesale. Jika segmen retail belum pulih, pertumbuhan kredit BMRI akan lebih bergantung pada corporate dan commercial loan.
- Normalisasi Cost of Credit: Cost of Credit Q1 2026 berada di level rendah 0,58%. Jika kualitas aset memburuk atau NPL retail naik, beban provisi dapat kembali meningkat dan menekan laba.
- Risiko Likuiditas Industri: Walaupun CASA BMRI kuat, kompetisi dana perbankan masih ketat. Jika dana mahal meningkat, tekanan terhadap margin dapat berlanjut.
- Dekonsolidasi BSI: Dekonsolidasi PT Bank Syariah Indonesia Tbk sejak Februari 2026 membuat pembacaan laporan keuangan perlu lebih hati-hati. Perbandingan Q1 2026 dengan FY2025 secara headline dapat terlihat terdistorsi, sehingga investor perlu melihat basis pro-forma untuk menilai tren operasional yang lebih sebanding.
Analisa Skenario: Standard Deviation (SD) Band 1 Tahun
Data Acuan
- EPS 2025: Rp603,15 per lembar
- EPS 2026F: sekitar Rp618,10 per lembar
- BVPS 2025: sekitar Rp3267,37 per lembar
- Posisi harga saat ini: Rp4.310 berada di bawah -1 SD (baik secara PBV maupun PER).
A. Skenario Bearish

Target Harga: Rp4.030 – Rp4.215
Valuasi:
- PBV 1,29x (-2 SD)
- PER 6,52x (-2 SD)
Skenario bearish terjadi jika tekanan NIM berlanjut, pertumbuhan kredit melambat, cost of credit naik lebih cepat dari ekspektasi, atau terjadi capital outflow besar dari saham perbankan big caps. Dalam kondisi ini, pasar dapat kembali menilai BMRI di area -2 SD.
B. Skenario Base


Target Harga: Rp4.936 – Rp5.162
Valuasi:
- PBV 1,58x (Mean)
- PER 7,99x (Mean)
Skenario base terjadi jika BMRI mampu menjaga pertumbuhan kredit sesuai guidance, kualitas aset tetap stabil, NIM tidak turun terlalu dalam, dan laba bersih 2026 tetap tumbuh moderat. Pada skenario ini, saham BMRI berpotensi kembali ke area mean valuation 1 tahun.
C. Skenario Bullish


Target Harga: Rp 5.396 – Rp 5.620
Valuasi:
- PBV 1,72x (+1SD)
- PER 8,73x (+1SD)
Skenario bullish terjadi jika penurunan suku bunga mendorong pemulihan kredit, cost of fund terus membaik, NIM lebih stabil dari ekspektasi, dan investor asing kembali masuk ke saham perbankan Indonesia. Jika sentimen sektor perbankan membaik, BMRI berpeluang bergerak menuju area +1 SD.
Catatan: Proyeksi target harga dan skenario valuasi dalam analisa ini disusun murni berdasarkan perhitungan statistik menggunakan data rasio standar dari Mean PER dan PBV. Kinerja dan valuasi historis tersebut tidak mencerminkan serta tidak menjamin pergerakan harga di masa depan.
Kesimpulan
Pada harga Rp4.310, BMRI diperdagangkan pada valuasi yang relatif rendah dibanding band historis 1 tahun. BMRI menarik untuk dicermati sebagai saham bank besar dengan fundamental kuat, dividend yield menarik, kualitas aset sehat, dan potensi re-rating valuasi apabila tekanan NIM mereda serta foreign flow kembali masuk ke sektor perbankan Indonesia.
Namun, investor tetap perlu memperhatikan risiko utama seperti tekanan loan yield, kompetisi likuiditas, pertumbuhan retail yang masih moderat, normalisasi biaya kredit, dan dampak dekonsolidasi BSI terhadap pembacaan laporan keuangan.
Disclaimer: Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, serta tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Informasi tentang saham tersedia di banyak tempat, tetapi tanpa kerangka berpikir yang jelas, proses pengambilan keputusan tetap tidak mudah. PintarSaham membantu menyusun cara berpikir investor yang lebih sistematis dan berbasis data.
Masih Bingung? Tanya Admin