Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightATLA: Saham Murah yang Ternyata Mahal?

ATLA: Saham Murah yang Ternyata Mahal?

Di antara ratusan emiten di Bursa Efek Indonesia, PT Atlantis Subsea Indonesia Tbk (ATLA) termasuk salah satu pendatang baru yang langsung menarik perhatian. Bergerak di bidang subsea engineering—jasa teknis bawah laut untuk industri migas—ATLA menjanjikan prospek bisnis yang langka dan spesifik. Tapi seperti menyelam di laut dalam, semakin dalam kita baca laporan keuangannya, semakin banyak hal yang belum terlihat jelas di permukaan.

ATLA resmi IPO pada April 2024 dengan harga penawaran Rp100 per saham. Namun, setahun kemudian, harga sahamnya sudah terjun ke Rp50. Investor publik tentu kecewa, tapi cerita jadi makin menarik ketika beredar informasi bahwa pendiri atau pemegang saham pengendali bisa mendapat saham di harga nominal: Rp8 per lembar.

Total aset ATLA per 31 Maret 2025 tercatat Rp177,5 miliar—cukup besar untuk perusahaan seumur jagung. Tapi ada satu angka yang bikin alis terangkat: Rp73,3 miliar atau 41% asetnya berupa uang muka proyek. Artinya, dana sudah disetor ke vendor-vendor besar untuk pengadaan rig dan alat berat, tapi proyeknya belum menghasilkan revenue yang sepadan.

Pendapatan Q1 2025 hanya Rp24 miliar—anjlok 71,7% dibanding kuartal sebelumnya yang mencapai Rp84,9 miliar. Ini bukan fluktuasi biasa, tapi penurunan drastis yang menunjukkan bahwa bisnis ATLA sangat bergantung pada proyek musiman, bukan recurring income yang stabil.

Laba bersih Q1 2025 naik secara nominal menjadi Rp1,05 miliar (naik dari Rp796 juta YoY). Tapi margin justru menyusut dari 6,3% jadi 4,4%. Bahkan, angka laba ini terkesan “terlalu bersih” karena tidak ada beban pajak penghasilan yang dicatat. Artinya, laba ini belum dipotong pajak—dan kemungkinan akan tergerus di kuartal-kuartal berikutnya.

ATLA mengeluarkan Rp3,76 miliar untuk pembelian software dan alat di Q1, sementara arus kas operasional hanya Rp2,74 miliar. Hasilnya: free cash flow minus Rp1,02 miliar. Untungnya, dari sisi neraca, ATLA masih cukup konservatif.

Mereka memegang kas Rp10,2 miliar, tanpa utang bank jangka panjang, dan total liabilitas hanya Rp8,5 miliar. Posisi ini memberi ruang napas—tapi tetap tidak bisa terus diandalkan jika kas tidak segera diputar jadi pendapatan.

Di harga Rp50, ATLA terlihat “murah”. Tapi secara valuasi? Tidak semurah itu.

  • Book Value per Share (BVPS): Rp27,25 → PBV: 1,83x
  • EPS kuartalan: Rp0,17 → setahunan jadi Rp0,68
  • PER: 73,5x

PER di atas 70x biasanya hanya pantas untuk perusahaan dengan pertumbuhan laba tinggi dan stabil. ATLA? Pendapatan fluktuatif, laba tipis, arus kas negatif. Jadi hati-hati dengan ilusi “murah” hanya karena angkanya kecil.

Uang muka proyek ke dua vendor besar (Wijaya Bangun Sakti dan Indo Jaya Karya Murni) sudah lebih dari Rp40 miliar, tapi progres proyek belum tampak jelas di laporan pendapatan. Selain itu, ada gap mencolok: beban gaji Rp6,17 miliar, tapi pembayaran ke karyawan hanya Rp1,19 miliar. Ini bisa berarti pembayaran belum penuh, dicicil, atau pakai sistem outsourcing. Tapi tetap, ada ketidaksesuaian antara laporan laba rugi dan arus kas aktual.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here