Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightAset $BBCA vs $NISP di 2025: Sama-sama Growth Tapi Beda Fokus

Aset $BBCA vs $NISP di 2025: Sama-sama Growth Tapi Beda Fokus

BBCA dan NISP sama-sama tumbuh sekitar 9% di 2025, tapi yang menarik justru bukan angka totalnya. Dua bank ini kelihatan seperti berjalan di jalur yang mirip, padahal mesin penggeraknya beda.

BBCA tampak memaksimalkan mesin kredit dan transaksi, sedangkan NISP tampak lebih berat ke portofolio surat berharga dan efek aksi korporasi. Kalau investor cuma lihat total aset dan growth, investor bisa keliru menilai siapa yang sebenarnya lebih agresif dan di mana risikonya bersembunyi.

Dari sisi ukuran neraca, PT Bank Central Asia Tbk tetap berada di liga berbeda. Total aset 2025 BBCA Rp 1.586,83 T, sementara PT Bank OCBC NISP Tbk Rp 308,14 T. Artinya BBCA sekitar 5,15 kali lebih besar, dan ini biasanya bikin perbandingan rasio jadi terasa lebih adil ketimbang membandingkan angka absolut semata.

Secara laju perubahan total aset, keduanya hampir kembar. BBCA naik 9,49% dari Rp 1.449,30 T ke Rp 1.586,83 T. NISP naik 9,65% dari Rp 281,01 T ke Rp 308,14 T. Bedanya, growth NISP punya bumbu aksi korporasi karena integrasi PT Bank Commonwealth yang efektif 2024, sehingga 2025 terlihat sebagai tahun full impact di struktur neraca.

Kalau dibelah ke komposisi 2025, dua-duanya tetap bank yang ditopang kredit, tapi porsi dan gaya mainnya berbeda. Kredit bersih BBCA Rp 940,48 T dengan kontribusi 59,27% dari total aset. Kredit bersih NISP Rp 165,87 T dengan kontribusi 53,83%.

Di sisi lain, porsi surat berharga dan investasi NISP justru lebih tebal, 37,31% dari aset, sedangkan BBCA 28,03%. Ini memberi sinyal bahwa NISP menaruh porsi lebih besar pada aset pasar yang lebih mudah diputar, sementara BBCA lebih menempel pada aset inti perbankan, yaitu kredit.

Perubahan paling mencolok muncul saat melihat pertumbuhan tiap komponen. Portofolio surat berharga NISP melonjak 61,91% dari Rp 54,07 T ke Rp 87,54 T, sementara BBCA naik 10,31% dari Rp 371,15 T ke Rp 409,42 T.

Sebaliknya, kredit BBCA tumbuh 8,26% dari Rp 868,69 T ke Rp 940,48 T, sedangkan NISP hanya 2,13% dari Rp 162,42 T ke Rp 165,87 T. Jadi, kalau investor mencari siapa yang lebih ofensif lewat ekspansi kredit, BBCA lebih terasa. Kalau investor mencari siapa yang lebih ofensif lewat rebalancing aset pasar, NISP yang lebih berani.

Di sisi likuiditas, keduanya sama-sama mengurangi pos yang relatif idle. Penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain turun tajam, BBCA minus 37,55%, NISP minus 60,56%. Kas juga turun, BBCA minus 13,68% dan NISP minus 10,51%. Ini terlihat seperti optimasi yield, uang dipindahkan dari parkir ke aset yang lebih menghasilkan, entah kredit atau surat berharga.

Lalu soal risiko kredit, angka rasio kredit bermasalah BBCA sedikit lebih baik. NPL gross BBCA 1,71% dan NPL net 0,67%. NISP NPL gross 1,94% dan NPL net 0,76%. Selisihnya tidak besar, tapi konsisten menunjukkan BBCA sedikit lebih bersih. Dari sisi bantalan, allowance penurunan nilai kredit BBCA Rp 29,75 T, sedangkan NISP Rp 7,50 T, wajar karena ukuran kredit BBCA jauh lebih besar.

Di sisi permodalan, keduanya sama-sama tebal, hanya intensitasnya berbeda. KPMM atau CAR BBCA 30,36% dari 29,14%. NISP 24,53%. Secara praktik, dua-duanya jauh di atas minimum regulasi, tapi BBCA berada pada posisi super nyaman yang memberi ruang manuver lebih besar saat siklus kredit memburuk atau saat bank ingin ekspansi tanpa buru-buru cari modal eksternal.

Kalau ditarik ke cara cari uang, BBCA terlihat lebih menonjol pada mesin transaksi dan dana murah. Provisi dan komisi bersih Rp 19,66 T, dengan kontribusi besar dari layanan CASA dan transaksi Rp 14,01 T.

Ini biasanya berarti mesin fee lebih stabil, karena tidak sepenuhnya bergantung pada selisih bunga. NISP menampilkan warna yang berbeda, lebih menonjolkan integrasi pasca akuisisi dan diversifikasi pendanaan, termasuk penerbitan obligasi Rp 1,5 T dan fasilitas dari International Finance Corporation untuk tema seperti gender bond dan green bond.

BBCA terlihat seperti bank besar yang menjaga ritme, kredit tetap tumbuh sehat, portofolio investasi bertambah wajar, bantalan modal sangat tebal, dan mesin fee kuat. NISP terlihat seperti bank yang memanfaatkan momen, portofolio surat berharga dipacu kencang, kredit tumbuh lebih kalem, dan narasi 2025 banyak dipengaruhi strategi pasca integrasi akuisisi serta diversifikasi sumber dana.

Potensi ke depan ada pada eksekusi masing-masing, BBCA pada konsistensi kualitas kredit dan dominasi transaksi, NISP pada kemampuan mengubah porsi surat berharga dan hasil integrasi menjadi pertumbuhan yang lebih merata tanpa menekan kualitas aset.


Disclaimer: Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!

https://bit.ly/pintarsahamid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here