BMTR yang dulu mendominasi industri media kini menghadapi realitas pahit. Laba bersihnya turun dari Rp1,07 triliun di 2023 menjadi Rp917,22 miliar di 2024, mengalami penurunan sebesar 14,1 persen. Lebih buruk lagi, laba yang bisa diklaim oleh pemilik BMTR turun lebih dalam, dari Rp677,55 miliar menjadi Rp537,40 miliar, atau merosot 20,7 persen. Sementara itu, laba entitas anak yang dikendalikan oleh pihak luar hanya turun tipis 2,7 persen. Ini menandakan bahwa sebagian besar keuntungan dari bisnis BMTR justru dinikmati oleh kepentingan non-pengendali, bukan oleh perusahaan induk.
Salah satu penyebab utama anjloknya laba BMTR adalah bisnis TV berbayarnya yang semakin terpuruk. Pendapatan segmen ini turun dari Rp2,08 triliun ke Rp1,68 triliun, mengalami penurunan sebesar 19,23 persen. Yang lebih parah, laba segmen ini benar-benar hancur, dari Rp182,4 miliar menjadi hanya Rp23,4 miliar, atau anjlok 87,17 persen. Perubahan kebiasaan konsumen yang semakin beralih ke platform streaming membuat model bisnis TV berbayar terasa semakin ketinggalan zaman. Jika tren ini terus berlanjut tanpa inovasi yang signifikan, segmen ini bisa menjadi beban bagi perusahaan dalam jangka panjang.
Masalah lain yang ikut menggerus laba BMTR adalah lonjakan beban penyusutan dan amortisasi, terutama di segmen iklan dan konten. Meskipun segmen ini masih tumbuh 3,72 persen, biaya penyusutannya naik lebih dari 96 persen. Ini menandakan bahwa investasi besar yang dilakukan BMTR dalam aset produksi dan peralatan penyiaran justru berkontribusi terhadap penurunan laba operasional. Dengan beban yang semakin besar, margin keuntungan dari segmen ini semakin tertekan.
Beban bunga juga menjadi masalah serius bagi BMTR. Pada 2024, beban bunga perusahaan naik 12,21 persen menjadi Rp730,90 miliar, menandakan bahwa utang berbunga masih menjadi beban yang signifikan. Dengan pendapatan yang stagnan dan laba yang tertekan, beban bunga ini semakin membebani keuangan perusahaan. Jika kondisi ini terus berlanjut, BMTR akan semakin sulit untuk meningkatkan profitabilitas tanpa mengurangi ketergantungan terhadap utang.
Satu hal yang cukup positif adalah cashflow operasional BMTR yang masih kuat. Arus kas operasional meningkat 20,6 persen menjadi Rp1,90 triliun, lebih besar dari laba bersih. Ini menandakan bahwa meskipun laba akuntansi BMTR turun, bisnisnya masih menghasilkan cukup uang tunai untuk mendukung operasional sehari-hari. Bahkan, arus kas operasional cukup untuk membayar beban bunga sebesar Rp799,69 miliar dan belanja modal sebesar Rp1,15 triliun. Artinya, BMTR masih memiliki ruang untuk bertahan tanpa harus bergantung pada utang tambahan dalam jangka pendek.
Namun, meskipun cashflow masih sehat, utang BMTR tetap menjadi masalah. Total liabilitas memang sedikit turun dari Rp7,93 triliun ke Rp7,30 triliun, tetapi masih jauh lebih besar dibandingkan arus kas operasionalnya. Jika seluruh arus kas operasional dialokasikan hanya untuk membayar utang, butuh hampir empat tahun untuk melunasi semuanya. Ini dengan asumsi bahwa BMTR tidak berinvestasi lagi, yang tentu saja tidak realistis. Dengan kata lain, BMTR tidak akan bisa melunasi semua utangnya dalam waktu dekat dan harus terus mencari cara untuk mengelola beban utangnya agar tidak semakin membebani operasional.
Selain beban utang dan penurunan laba, BMTR juga memiliki sejumlah perjanjian yang tetap harus dipenuhi, terlepas dari kondisi keuangannya. Perusahaan memiliki kontrak lisensi jangka panjang dengan berbagai penyedia konten, termasuk hak siar Asian Games hingga 2025, SEA Games hingga 2025, paket film Paramount hingga 2025, dan liga sepak bola AFC hingga 2029. Meskipun perjanjian ini bertujuan untuk menarik pemirsa, tetap saja ada beban biaya tetap yang harus dibayar, baik pendapatan iklan meningkat maupun tidak. Ini menambah tekanan terhadap margin keuntungan BMTR.
Di sisi lain, BMTR juga memiliki sejumlah kontrak operasional yang menunjukkan komitmen mereka terhadap bisnis TV berbayar dan penyiaran satelit. Perusahaan masih memiliki kesepakatan dengan penyedia layanan satelit seperti PT Indosat ISAT dan Measat hingga 2024, serta Telkom Satelit Indonesia TKLM hingga 2030. Artinya, meskipun bisnis TV berbayar sedang terpuruk, BMTR masih terikat dengan kontrak jangka panjang yang harus dipenuhi. Ini bisa menjadi masalah jika tren penurunan pelanggan terus berlanjut, karena perusahaan akan tetap harus membayar biaya operasional yang besar.
Dari sisi hukum, tidak ada gugatan besar yang bisa mengguncang kondisi keuangan BMTR saat ini. Namun, ada satu risiko yang perlu diperhatikan, yaitu implikasi dari keputusan Mahkamah Konstitusi terkait UU Cipta Kerja. Jika aturan ini diubah dan BMTR harus kembali ke skema lama dalam menghitung kewajiban imbalan kerja, maka bisa ada tambahan beban keuangan yang tidak diantisipasi sebelumnya. Perusahaan masih memantau perkembangan ini, tetapi jika keputusan akhirnya tidak menguntungkan, BMTR harus bersiap dengan tambahan kewajiban di masa depan.
Dengan semua tantangan ini, pertanyaan besarnya adalah apakah BMTR masih punya masa depan yang cerah? Bisnis TV berbayar yang dulu menjadi andalan kini semakin tidak relevan di tengah dominasi layanan streaming digital. Bisnis iklan memang masih bertahan, tetapi pertumbuhannya kecil dan tidak cukup untuk menutupi kenaikan beban operasional. Cashflow masih kuat, tetapi sebagian besar digunakan untuk bertahan, bukan untuk ekspansi atau inovasi. Sementara itu, utang masih menjadi beban besar dan hanya bisa dilunasi bertahap dalam jangka waktu Panjang.
Jangan lewatkan kesempatan ini—klik link berikut sekarang dan raih keuntungan lebih maksimal! https://bit.ly/PriorityMemberships