Friday, April 17, 2026
No menu items!
Google search engine
HomeInsightApakah IHSG adalah Bursa Dengan Return Paling Buruk Karena Menduduki Peringkat 34 dari 35...

Apakah IHSG adalah Bursa Dengan Return Paling Buruk Karena Menduduki Peringkat 34 dari 35 Bursa Dunia?

Pasar saham global di kuartal pertama 2025 seolah sedang ikut kontes drama. Semua bursa punya kisah sedih masing-masing. Tapi caranya berdarah beda-beda. Di satu sisi, Wall Street masih tampil necis walau mulai pincang. Di sisi lain, IHSG seperti pasien UGD yang belum juga sadar. Data resmi per 21 Maret 2025 menunjukkan IHSG sudah turun -11,61% YTD dan duduk nyaman di peringkat ke-34 dari 35 indeks dunia.

Yang lebih parah? Thailand, dengan penurunan -15,25%. Indonesia bahkan lebih parah dari Malaysia (-8,33%) dan Filipina (-4,01%). Nilai valuasi IHSG sendiri sebenarnya tergolong murah: PER 11,77x dan PBV 1,82x. Tapi sayangnya, diskon besar ini malah lebih mirip “obral cuci gudang” di toko yang sepi pembeli.

Investor asing pun memilih pulang kampung. Net sell sudah mencapai Rp33 triliun sejak awal tahun. Saham-saham yang biasanya jadi langganan jagoan seperti BBRI, BBCA, BMRI, TLKM, UNVR, PTBA, ADRO, ITMG — malah kompak anjlok. Di tengah situasi ini, direksi BBRI sempat menyalahkan influencer sebagai penyebab turunnya harga saham. Padahal laporan bulanan Februari 2025 menunjukkan laba bersih BBRI turun 18% dibanding tahun sebelumnya. Jika ini masih disebut masalah sentimen, maka jelas realitas sudah tak dianggap penting lagi.

Faktor-faktor yang menghantam IHSG juga tak main-main. Mulai dari rupiah yang tembus Rp16.500 per dolar AS, APBN yang defisit, pajak seret, Coretax yang bikin UMKM megap-megap, hingga suasana sosial-politik yang lebih cocok disebut episode sinetron kolosal. Revisi undang-undang seperti dikerjakan tengah malam, OPM dan KKB makin brutal, dan ormas jalanan lebih aktif daripada Satpol PP. Tidak heran jika pasar melihat Indonesia bukan sebagai tempat investasi, tapi lokasi eksperimen sosial.

Yang membuat situasi makin kocak adalah kenyataan bahwa saham-saham blue chip berjatuhan, sementara saham gorengan malah terbang. Yang naik bukan perusahaan dengan kinerja bagus, tapi yang bisa viral di TikTok. Dan jangan lupa, alasan teknikal seperti rebalancing MSCI dan FTSE memang disebut-sebut, tapi itu hanya pemantik. Akar masalahnya adalah kepercayaan investor yang semakin tergerus.


Berbalik ke Amerika, pasar saham di sana tampak lebih kuat secara kasat mata. Dow Jones hanya terkoreksi -1,39% YTD, S&P 500 masih naik tipis sekitar 2%, dan Nasdaq bahkan bisa bertahan sekitar 4%. Tapi jangan tertipu, beberapa saham besar di sektor teknologi sedang berdarah deras. Tesla turun -34,43% YTD. Elon Musk sampai harus merayu investor agar tidak jualan saham, tapi para eksekutif Tesla malah justru sibuk menjual. NVIDIA juga nyungsep -14,90% karena tekanan dari perang chip dengan China dan overhype AI yang belum terbukti jadi duit. Apple turun -10,49% karena penjualan di China melemah, Google turun -12,79%, dan Microsoft turun -6,53%. AI ternyata tidak cukup ampuh untuk menahan penurunan ini.

Namun tidak semua saham AS bernasib buruk. Netflix justru mencatat kenaikan +8,30% karena mampu menjaga pertumbuhan subscriber dan konsisten menjual mimpi. Saham-saham sektor defensif seperti Johnson & Johnson dan Chevron juga tetap stabil. Saat pasar global makin panik, investor cenderung lari ke saham-saham yang kasih dividen meski kecil. Dan bicara soal dividen, saham-saham big tech AS nyaris tidak memberi. Tesla, Amazon, Meta, Netflix semua tidak membagikan dividen. Apple dan Microsoft pun cuma di bawah 1%. Investor yang membeli saham ini tampaknya lebih percaya pada dongeng masa depan daripada cashflow sekarang.

Valuasi saham-saham teknologi ini juga bikin angkat alis. Tesla P/E 122, Netflix 48, NVIDIA 40, Microsoft 31, Apple 34. Sementara pasar negara lain berjuang mempertahankan P/E dua digit, saham-saham ini malah melayang ke stratosfer.

Ketenangan di pasar AS juga hanya ilusi. Setelah Trump resmi dilantik Januari 2025, perang dagang jilid dua langsung dimulai. AS menaikkan tarif impor barang dari China, membatasi ekspor chip, dan China membalas dengan larangan ekspor rare earth serta boikot terselubung terhadap produk AS. Belum cukup, regulasi Big Tech juga makin agresif. TikTok disuruh jual operasional AS-nya atau dilarang total, sementara Meta dan Google digugat dengan tuduhan antitrust. Dan jangan lupa, konflik Rusia–Ukraina dan China–Taiwan juga belum menunjukkan tanda-tanda damai. Pasar saham global pun jadi makin sensitif — bukan karena data ekonomi, tapi karena manuver politik.


Kalau dilihat secara keseluruhan, ada kesamaan dan perbedaan antara Indonesia dan Amerika. Keduanya sama-sama melihat saham besar rontok, investor asing keluar, dan volatilitas meningkat karena ketidakpastian non-ekonomi. Bedanya, Amerika overvalued tapi tetap dipercaya. Indonesia undervalued tapi kepercayaan sudah hilang. Di AS, saham defensif naik. Di Indonesia, yang naik malah saham gorengan. AS punya masalah eksternal. Indonesia lebih sibuk bertengkar di dalam rumah.

Apakah IHSG overvalued? Tentu tidak. Tapi undervalued yang tidak dipercaya juga tidak laku. Tidak ada gunanya PER 5 atau PBV 0,7 kalau pasar lebih takut pada keputusan mendadak pemerintah daripada volatilitas suku bunga global. Bahkan saham paling murah pun akan ditinggalkan kalau persepsinya sudah jadi “risky country”.

Sementara itu, jika ingin tahu siapa yang justru bersinar diam-diam, berikut daftar bursa paling hijau berdasarkan data resmi IDX 21 Maret 2025:

Bursa Polandia +21,31%, Hong Kong +18,09%, Austria +16,98%, Kolombia +16,54%, Jerman +14,64%, Spanyol +14,51%, Swiss +12,50%, Irlandia +10,58%, Korea +10,15%, dan Brazil +9,70%. Bursa-bursa ini tidak berisik, tidak banyak narasi, tapi justru menggemukkan portofolio.

Sebaliknya, daftar bursa paling buruk didominasi negara-negara yang sedang alami tekanan serius. Thailand duduk di dasar jurang dengan -15,25%, diikuti Indonesia -11,61%, Turki -6,26%, Jepang -5,56%, Malaysia -8,33%, dan Taiwan -3,59%. Ada pula Afrika Selatan dan Filipina yang masih merah. Jadi, walau IHSG bukan yang paling parah, tapi posisinya jelas mendekati level “darurat reputasi”.

Akhirnya, harus diakui: baik Indonesia maupun Amerika sama-sama berdarah. Tapi bedanya, Amerika berdarah karena perang dagang dan ekspektasi tinggi yang tak terpenuhi. Indonesia berdarah karena kehilangan kepercayaan akibat kekacauan internal. Sama-sama sekarat, tapi Amerika berdarah dengan setelan jas rapi, sementara Indonesia berdarah sambil pakai sarung bolong. Investor memilih simpan duit di emas dollar karena emas meroket dan dollar meroket. Sementara Rupiah dan IHSG malah anjlok.

Jangan lewatkan kesempatan ini—klik link berikut sekarang dan raih keuntungan lebih maksimal! https://bit.ly/PriorityMemberships

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Latest Post

Most Popular

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments