Menyaring Noise, Memberi Insight.

Dapatkan watchlist, analisis, dan insight harian terstruktur di PintarSaham.

HomeInsightApakah Benar Laba CDIA Hanya 1 Triliun? Bukan 1000 Triliun?

Apakah Benar Laba CDIA Hanya 1 Triliun? Bukan 1000 Triliun?

Revenue mereka di Q2 2025 cuma USD 66,8 juta atau sekitar Rp 1,09 triliun dengan kurs Rp 16.300. Dari angka itu, COGS makan USD 47,7 juta, sehingga laba kotor tinggal USD 19,1 juta atau Rp 311 miliar. Laba kotor ini kemudian terkikis oleh beban penjualan USD 0,2 juta, beban umum USD 5,7 juta, dan beban keuangan USD 13,6 juta. Hasilnya, laba usaha justru minus USD 0,4 juta, alias operasional inti merugi tipis. Jadi dari core operation, CDIA sama sekali tidak menghasilkan margin.

Tapi di laporan laba rugi muncul pos besar non-operasional. Ada laba lain-lain USD 46 juta, pendapatan aset keuangan USD 11 juta, dan bunga deposito plus obligasi USD 11 juta. Total tambahan ini sekitar USD 68 juta, yang akhirnya membuat laba sebelum pajak melonjak jadi USD 75,8 juta dan laba bersih USD 74,36 juta. Dikonversi ke rupiah, itu setara Rp 1,21 triliun. Jadi betul, laba bersih CDIA memang lebih dari Rp 1 triliun, bahkan lebih besar daripada revenue-nya sendiri yang hanya Rp 1,09 triliun.

Fenomena ini terjadi karena CDIA bukan perusahaan dengan bisnis inti kuat, melainkan berfungsi layaknya perusahaan holding atau investment vehicle. Sumber laba gede mereka bisa dibagi tiga. Pertama, cuan dari pembelian obligasi atau saham entitas keluarga sendiri yang diakui sebagai pendapatan aset keuangan, nilainya USD 11 juta. Kedua, cuan dari deposito, obligasi, dan piutang antar pihak terkait, nilainya USD 11 juta. Ketiga, cuan mark-to-market dari investasi saham yang dicatat sebagai FVTPL (fair value through profit or loss), nilainya USD 46 juta, dan ini yang paling besar.

Kalau dilihat dari arus kas, real cash dari operasi hanya USD 18,9 juta atau Rp 308 miliar, jauh lebih kecil dari laba bersih Rp 1,21 triliun. Lonjakan kas akhir jadi Rp 5,45 triliun terutama karena ada suntikan dana IPO/penambahan modal sebesar USD 181 juta ditambah pinjaman bank USD 61,6 juta. Jadi kas mereka memang tebal, tapi sumbernya pendanaan eksternal, bukan dari laba operasi.

Jadi benar laba CDIA lebih dari Rp 1 triliun, tapi hampir semuanya datang dari pos non-operasional berupa investasi, bunga deposito, dan revaluasi portofolio. Operasional inti justru rugi tipis. Jadi angka Rp 1,21 triliun itu bukan laba core operation dari bisnis, melainkan laba paper asset yang sangat bergantung pada kondisi pasar dan investasi keuangan. Kalau pasar berbalik arah atau bunga deposito turun, laba bisa langsung amblas karena core business tidak menopang.

Disclaimer : Seluruh konten yang disajikan oleh PintarSaham.id, baik berupa artikel, video, caption media sosial, maupun materi edukasi lainnya, bersifat informatif dan edukatif. Konten ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual efek tertentu, dan tidak dapat dianggap sebagai rekomendasi investasi. PintarSaham.id dan seluruh timnya tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang dibuat berdasarkan informasi dari konten ini. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing individu.

Penasaran saham mana yang lagi cakep secara fundamental & teknikal? Klik di sini biar nggak ketinggalan cuan!

https://bit.ly/pintarsahamid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here